KAMIS, 1 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Saluran irigasi yang dibangun secara permanen dan non permanen oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) bidang pengairan Kabupaten Lampung Selatan mengalami perubahan akibat terdampak pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Seksi I ruas Bakauheni-Terbanggibesar. Pengaruh langsung, dipastikan mengurangi panjang dari  saluran irigasi primer, sekunder dan tersier khususnya di wilayah Kecamatan Penengahan.


Upaya megantisipasi hal tersebut Dinas PU Kabupaten Lampung Selatan melalui Unit Pelaksana Tekhnis Dinas PU melakukan pendataan ulang saluran irigasi yang terimbas jalan tol Sumatera. Sebanyak tiga tim dari UPT Dinas PU Penengahan diterjunkan dengan masing masing anggota empat hingga lima orang untuk melakukan pendataan daerah irigasi (DI) di wilayah tersebut yang berada di STA 12+700 sampai dengan STA 23+100. 

Sebanyak 8 DI telah didata dan diverifikasi dengan panjang total sepanjang 2.495 meter untuk saluran permanen dan saluran air masih bangunan tanah 1.600 meter. Sebanyak 8 DI yang diukur tersebut mengaliri luasan sawah sebanyak 73 hektar berupa sumber air yang berasal dari Gunung Rajabasa.

“Daerah irigasi dengan beberapa saluran irigasi tersebut didominasi saluran irigasi sekunder yang sudah permanen dan mengaliri beberapa lahan pertanian sawah di wilayah Kecamatan Penengahan selain itu saluran berupa irigasi tanah,”ungkap KUPT Dinas PU Kecamatan Penengahan, Budi Santoso ,Kamis (1/9/2016).

Pendataan ulang terimbas jalan tol Sumatera tersebut selanjutnya akan dilakukan penggantian  oleh pelaksana tol Sumatera. Beberapa sarana keperluan irigasi tersebut diantaranya berupa pintu air yang akan digunakan untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.

Selain proses pendataan saluran irigasi tersebut sebelumnya Dinas PU Lampung Selatan juga telah melakukan rapat koordinasi dengan juru pengairan dari dinas PU serta ketua kelompok Pemberdayaan Petani Pemakai Air (P3A) di kantor unit pelaksana tekhnis (UPT) Dinas PU Kecamatan Penengahan, Bakauheni dan Ketapang.

Perwakilan Bagian Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Selatan, Al Munawar, dalam rapat koordinasi tersebut mengungkapkan proses pembangunan jalan tol dipastikan berdampak pada infrastruktur yang merupakan aset dan bidang yang menjadi tugas dinas PU bagian pengairan. Secara khusus dampak tersebut akan berpengaruh langsung pada saluran irigasi meliputi bendungan serta saluran penyuplai air bagi lahan pertanian.

“Jaringan irigasi di wilayah Lampung Selatan sebagian tentunya terdampak proses pembangunan tol tapi selain itu pendataan ulang juga penting dilakukan untuk melihat titik-titik keberadaan irigasi berikut ukuran terkini,”ungkap Al Munawar.

Ia menerangkan, proses pendataan tersebut sangat penting khususnya saluran irigasi karena berdampak langsung dengan ketahanan pangan yang sangat erat kaitannya dengan ketersediaan sarana pengairan. Ia bahkan mengungkapkan berdasarkan data, terdapat sebanyak 16.200 hektar lahan pertanian sawah di Kabupaten Lampung Selatan yang beberapa diantaranya produktif namun terdampak jalan tol Sumatera

Berkurangnya panjang saluran irigasi pada wilayah tertentu dipastikan akan mengganggu pasokan air bagi lahan pertanian sawah sehingga perlu antisipasi jauh hari sebelum proyek tol melintasi wilayah yang menjadi cakupan dinas pekerjaan umum.

Pendataan ulang saluran irigasi pertanian sawah selain di wilayah terdampak tol Sumatera juga di wilayah tak terdampak tol dalam cakupan unit kerja UPT dinas PU Kecamatan Penengahan, Bakauheni dan Ketapang.

Beberapa pengurus berikut ketua Pemberdayaan Petani Pemakai Air (P3A) juga diberi kesempatan mengusulkan dan mengevaluasi saluran irigasi di wilayah masing masing termasuk memberikan informasi situasi terkini atau usulan pembuatan saluran baru.

Berdasarkan pantauan Cendana News di beberapa desa, upaya perwujudan irigasi yang partisipatif dilakukan dengan melibatkan pengurus P3A dan juru pengairan dari dinas pekerjaan umum. Pemanfaatan saluran irigasi tersebut termasuk pemanfaatan dan pendataan bendungan air yang ada di wilayah kecamatan Penengahan, Bakauheni dan Ketapang.

Data di wilayah cakupan UPT Penengahan sebanyak 30 lebih bendungan penyuplai irigasi berasal dari beberapa sungai diantaranya Way Cempaka, Way Asahan, Way Bomati serta beberapa sungai yang berfungsi sebagai sumber pengairan bagi warga. Beberapa bendungan bahkan dibangun sejak era Presiden Soeharto.

“Bendungan dan saluran irigasi memiliki kaitan erat sehingga perlu didata ulang karena berkaitan erat dengan produktifitas pertanian yang saat ini tak bisa dipungkiri mengalami perubahan,”terangnya.


Wilayah pertanian di beberapa kecamatan di Lampung Selatan bergantung dari saluran irigasi merupakan daerah pertanian irigasi yang dialiri oleh air permukaan dari gunung bukan dari rawa. Tujuan melakukan pendataan terkini saluran irigasi menurut Al Munawar dilakukan untuk mengambil langkah lanjutan terkait saluran irigasi yang berkurang atau rusak.

Perubahan lahan pertanian tersebut di beberapa wilayah diantaranya alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan bahkan beberapa diantaranya menjadi lahan pekarangan serta menjadi lokasi perumahan akibat kebutuhan akan tempat tinggal dan lahan paska pembebasan lahan tol.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: