RABU, 21 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Tak berlebihan, jika Titiek Soeharto berharap agar Pemerintah lebih serius memperhatikan Kebun Plasma Nutfah Pisang (KPNP) yang berada di Giwangan, Umbulharjo. Selain karena potensinya yang besar, KPNP itu sejak tahun 2004 telah ditetapkan sebagai pusat pengembangan pisang nasional.


KPNP Yogyakarta yang pada awalnya digagas oleh Ibu Tien Soeharto hampir bersamaan dengan dibangunnya Kebun Buah Mekarsari di Bogor, Jawa Barat pada tahun 1988, kini telah sedemikian berkembang. Tujuan awal yang dicita-citakan mendiang Ibu Tien Soeharto agar KPNP menjadi wahana edukasi dan pariwisata pun tereja-wantah.

Apalagi, setelah ditetapkan sebagai pusat pengembangan pisang nasional, berbagai fasilitas pendukung juga dibangun. Yaitu, laboratorium kultur jaringan sebagai tempat pembibitan melalui jaringan kultur, laboratorium olahan hasil pertanian guna mengolah beragam hasil pertanian menjadi makanan olahan terutama pisang, dan laboratorium hortikultura sebagai pusat pengembangan tanaman buah, sayuran, hias dan bahkan juga tanaman toga.


Namun demikian, bukan berarti KPNP yang kini diakui telah begitu berkembang hebat sejak didirikannya pada tahun 1988 itu sama sekali tak menghadapi kendala. KPNP yang kini menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelayanan Pertanian dan Perikanan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian Kota Yogyakarta, memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Kepala UPT Pelayanan Pertanian dan Perikanan Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Eny Sulistyowati, saat menerima kunjungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto pada Rabu (21/9/2016) mengatakan, minimnya sumber daya manusia dan anggaran pelestarian menyulitkan pihaknya dalam menata-kelola KPNP sebagai wahana wisata edukatif dan riset penelitian.

Dengan lahan kebun seluas 19.525 meterpersegi, kata Eny, KPNP sebagai wahana wisata edukatif belum memiliki sarana penunjang seperti pendopo atau gazebo tempat beristirahat pengunjung, sarana air bersih, tong sampah dan toilet serta mushola.

Sementara itu, keterbatasan SDM, menurut Eny, disebabkan karena kendala regulasi yang tidak memungkinkan untuk merekrut tenaga kerja kontrak, apalagi mengangkat pegawai negeri sipil.

"Di tengah keterbatasan itu, kami juga harus mampu memenuhi kewajiban untuk berkontribusi menyumbang Pendapatan Asli Daerah dari hasil kebun pisang ini sebesar kurang lebih tiga puluh juta rupiah setahunnya," jelas Eny.

Namun demikian, dengan berbagai keterbatasan tersebut, Eny merasa tak begitu terbebani. Hanya saja, sebagai salah satu aset nasional dan menjadi salah satu wahana penelitian para akademisi berbagai daerah, kata Eny, sekiranya berbagai fasilitas pendukung juga harus tersedia. Karenanya, dengan kunjungam Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Seoharto, pihaknya berharap berbagai keterbatasan itu bisa segera dicarikan solusinya.


KPNP Yogyakarta memiliki 346 kultivar pisang dari berbagai daerah di Indonesia dan manca negara. Hal menarik dari sekian ratus kultivar pisang tersebut, jenis pisang paling populer dan laku di pasaran adalah pisang raja bagus yang merupakan pisang asli dari Keraton Yogyakarta. Sedangkan pisang paling unik dan estetis sebagai pisang hias adalah pisang sewu atau pisang seribu dari Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, yang pertama kali diberikan oleh Ibu Tien Soeharto.
[Koko Triarko] 

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: