SENIN, 26 SEPTEMBER 2016

MATARAM --- Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Amin mengatakan di NTB dari sekian kasus konflik yang pernah terjadi, konflik sektor Agraria paling sering terjadi, baik menyangkut kepemilikan lahan, potensi sumber daya alam (SDA) maupun batas wilayah.


Seringnya terjadi konflik di sektor Agraria tidak terlepas dari keberadaan NTB terutama pulau Lombok yang belakangan mulain banyak menjadi pusat perhatian dan dilirik pihak luar, karena keindahan dan potensi ekonomi terkandung didalamnya.

"NTB selain dikenal akan keindahannya, juga memiliki potensi ekonomi cukup menjanjikan, makanya dilirik pihak luar seperti investor untuk menanamkan investasinya" kata Amin di Mataram, Senin (26/9/2016).

Keindahan dan potensi ekonomi dimiliki, kalau tidak dikelola secara baik, tentu akan bisa menimbulkan konflik, baik antara masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan pemerintah, maupun masyarakat dengan perusahaan terkait kepemilikan lahan.

Sebelumnya Asisten Penanganan Konflik dan Keamanan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia (Kemenkopolhukam), Bambang Sugeng mengatakan, isu Sara, sumber daya alam (SDA), sengketa lahan dan sengketa batas wilayah di Indonesia masih masih menjadi pekerjaan belum terselesaikan.

Data Kemenkopolhukam RI, kasus sengketa terkait isu Sara, SDA, kepemilikan lahan dan sengketa batas wilayah di Indonesia mencapai 209 kasus.

Di NTB sendiri masalah sengketa yang paling banyak dan sering terjadi terkait kepemilikan lahan dan SDA, semua kasus tersebut kemenkopolhukam targetkan bisa rampung pada 2019.
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: