JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016

LHOKSEUMAWE --- Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Kota Lhokseumawe, Aceh, mengharap perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Lhokseumawe. Selama ini, orang yang mengalami gangguan atau hambatan pada indra penglihatannya tersebut mengaku diabaikan oleh pemerintah setempat.


“Selama ini kami sangat merasa dimarjinalkan oleh pemerintah, kami merasa tidak diperdulikan dan tidak seperti dibutuhkan sama sekali oleh pemerintah,” ujar Abdul Mutaleb, Ketua ITMI Kota Lhokseumawe kepada Cendana News, Jumat (16/9/2016).

Ia menambahkan, selama ini perhatian pemerintah kepada mereka tersebut sangat minim. Bahkan menurut Abdul Mutaleb, kelompok mereka kerab kali diabaikan oleh pemerintah jika datang meminta bantuan.

Abdul mengatakan, pihaknya beberapa kali berusaha meminta bantuan kepada pemerintah melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja (Dinsosnaker), namun sayangnya pihak dinas tersebut tidak menanggapinya. Padahal katanya, bantuan yang mereka ajukan tersebut sangat dibutuhkan.

“Selama ini ada beberapa bantuan yang kami ajukan kepada dinas sosial tapi tidak pernah direspon, padahal kami sangat membutuhkan bantuan tersebut untuk komunitas kami yang terdiri dari orang-orang tunanetra ini,” katanya.

Ia melanjutkan, bantuan yang diajukan tersebut katanya berupa permohonan untuk dilakukan pemberdayaan. Misalnya, lanjut Abdul Mutaleb, pelatihan memijit, dan pendidikan membaca huruf braile. Kemudian juga katanya pihaknya meminta disediakan berbagai kebutuhan alat untuk panti pijat.

Ia berharap, Pemkot Lhokseumawe lebih peka dan mau memperhatikan komunitas tunanetra lebih baik. Hal tersebut katanya sangat penting agar tidak semakin banyak tunanetra di Lhokseumawe yang menjadi pengemis.

“Sebagian besar saat ini tunanetra di daerah kita menjadi peminta-minta, sekitar 6 orang memiliki usaha panti pijat. Kami berharap pemerintah mau memperhatikan kami agar kami tunanetra ini bisa hidup mandiri tanpa mengemis,” pungkas Abdul Mutaleb.
(Zulfikar Husein)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: