SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

BALI --- Evaluasi Desa Pakraman merupakan salah satu program Pemkot Denpasar dalam membangun SDM masyarakat. Pada pelaksanaanya Evaluasi Desa Pakraman 2016, Desa- Desa yang mewakili empat kecamatan di Kota Denpasar adalah Desa Pakraman Poh Gading mewakili Kecamatan Denpasar Utara, Desa Pakraman Padangsambian mewakili kecamatan Denpasar Barat, Desa Pakraman Pagan mewakili Kecamatan Denpasar Timur dan Desa Pekraman Panjer mewakili Kecamatan Denpasar Selatan.


Setelah sebelumnya meninjau Desa Pakraman Padangsambian Denbar dan Desa Pekraman Poh Gading Denut, Tim Penilai Kelembagaan dan Penataan Desa Pakraman se- Kota Denpasar kembali melakukan kegiatan peninjauan. Kali ini Desa Pakraman Pagan, Dentim menjadi tujuan bagi Tim Penilai Kelembagaan dan Penataan Desa Pakraman se- Kota Denpasar. Dalam kegiatan pemantauan ini hadir Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, didampingi Tim Penilai Kelembagaan dan Penataan Desa Pakraman se- Kota Denpasar yang terdiri dari Unsur Sabha Upadesa, Akademisi, Kementerian Agama Kota Denpasar dan SKPD Terkait.

Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan bahwa dalam menghadapi tantangan yang dihadapi Desa Pakraman dewasa ini adalah  bersama-sama melestarikan baik sektor Parhyangan, Palemahan maupun Pawongan.

“Harus dimengerti di mana letak kekurangan adat istiadat kita. Selanjutnya kekurangan-kekurangan itu dievaluasi, perkuat dan kembangkan, baik unsur agama, aksara, seni budaya, organisasi sosial seperti banjar, sekehe dan sektor ekonomi kerakyatan seperti LPD dan sektor pendidikan seperti pasraman bagi anak-anak muda," kata Rai Mantra.

"Selain itu hal yang lebih krusial tentunya masalah palemahan yang harus kita pertahankan eksistensinya. Pemkot Denpasar telah membuat Perda mengenai Hak Tanah Waris melalui Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) semata mata untuk melindungi masyarakat akan hak tanah warisnya,” ujar Rai Mantra.

Ketua Tim Penilai Kelembagaan Desa Pakraman, Wayan Meganadha mengatakan bahwa perubahan yang terjadi pada masyarakat dan pengaruhnya terhadap unsur yang ada didalam sistem kehidupan masyarakat memang tak terelakkan. Disinilah diperlukan sinergitas antara Pemkot Denpasar dengan Desa Pakraman untuk mengkaji setiap tantangan serta meminimalisasi hambatan yang ada.

“Maka di sini diperlukan adanya pembinaan dan evaluasi untuk mendapatkan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh Desa Pakraman. Ini merupakan fungsi Sabha Upadesa sebagai penghubung antara Pemerintah Kota dengan Desa Pakraman. Harmonisasi antara kedua unsur ini diperlukan karena Desa Pakraman merupakan ujung tombak dan pengayom masyarakatnya agar selaras dalam menjalankan akttifitas yang berkaitan dengan Tri Hita Karana Parhyangan, Palemahan dan Pawongan,” ujar Meganadha.

Made Merta, mewakili Bendesa Desa Adat Pagan mejelaskan Desa Pakraman Pagan saat ini terdiri atas total 28 Banjar Dinas dan 4 Banjar Adat. Banjar Adat ini terdiri dari Banjar Pagan Kelod, Pagan Tengah, Pagan Kajaa dan Taman Yangbatu. Banjar-banjar adat inilah yang menjadi titik pusat pembinaan dan merupakan Pangempon dari segala aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan Unsur Tri Hita Karana Parhyangan, Palemahan dan Pawongan.

Tim Penilai Kelembagaan dan Penataan Desa Pakraman se-Kota Denpasar selanjutnya akan memantau Desa Pakraman Panjer, Densel pada 26 September mendatang.
[Bobby Andalan]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: