KAMIS, 1 SEPTEMBER 2016

LARANTUKA --- Sebanyak 24 kepala keluarga atau 104 warga yang menempati 24 rumah di lokasi pengungsian di Kecamatan Ile Boleng belum diberikan status kependudukan.

Jais Lewokeda (depan) bersama warga yang menempati Translok di Ile Boleng
Warga asal Desa Lamatwelu Kecamatan Adonara Timur ini mengungsi akibat perang tanding terkait masalah tanah dengan warga desa tetangga pada tahun 2000.

“Karena rumah dibakar, kami mengungsi ke desa lewat Kecamatan Ile Boleng selama 1,5 tahun,” ujar Jais Lewokeda.

Pengungsi yang ditemui Cendana News, di lokasi Translok Lewokeda Rabu (31/8/2016) mengatakan, setelah pemerintah membangun rumah pengungsian di Lewokeleng Kecamatan Ile Boleng warga pindah ke tempat tersebut dan menetap selama 5 tahun.

Tahun 2007 kata Jais ada tim LP2LP yang ingin menyelesaikan konflik sehingga dengan fasilitasi pemerintah dibangun 40 rumah oleh Dinas Transmigrasi Flotim untuk warga Lewokeda yang mengungsi akibat konflik.

“Tanggal 3 April 2007, warga Lewokeda yang mengungsi di Waiwerang dan Lewokeleng pindah dan menetap disini,” tuturnya.

Rumah warga Lewokeda di lokasi pengungsian Translok warga Leokeda di kecamatan Ile Boleng
Kesepakatan bersama Pemda Flotim saat itu, lanjut Jais, meskipun belum memenuhi syarat menjadi satu desa. Namun, relokasi akibat konflik maka ada aturan khusus. Nanti setelah 5 tahun pembinaan akan dibentuk satu desa definitif.

“Karena kondisi konflik kata pemerintah saat itu, masih tidak memenuhi persyaratan maka akan dibentuk satu desa,” ungkapnya.

Pada tahun 2012 papar Jais, warga menagih janji Pemda Flotim namun tidak ada tanggapan. Warga sudah menyampaikan ke Kesbangpol Flotim serta bersama Kapolsek dan camat menemui pemda Flotim namun tidak ada hasilnya.

Statusnya kependudukan warga ini akhirnya tidak jelas sambungnya, cuma saat pemilu saja semuanya terdaftar di TPS 2 Lewokeleng walau tidak memiliki KTP dan KK.

“Hak-hak kami sebagai warga negara tidak diberikan tapi yang aneh saat pemilu kami malah terdaftar,” katanya menahan emosi.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: