JUMAT, 2 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Di era globalisasi ini, tiada batas lagi bagi masuknya arus informasi. Internet yang mudah diakses semakin melancarkan penetrasi arus informasi itu. Dalam satu sisi, globalisasi dan keterbukaan informasi memberikan manfaat besar. Namun, sangat mungkin keterbukaan informasi juga menjadi sarana penjajahan gaya baru.


Seperti yang telah nyata terasakan, teknologi komunikasi dan informasi melalui jejaring internet mulai menjadi media melancarkan serangan. Informasi bohong atau hoax, diunggah sebagai upaya menghasut atau menyebar kebencian kepada sesuatu pihak, bahkan kepada Pemerintah.

Kendati hanya kabar bohong, namun kehadirannya yang meluas melalui jejaring sosial sedikitnya mampu membuat keresahan di masyarakat. Bahkan, faham radikalisme dihembuskan di internet agar mudah diakses masyarakat. Tidak kecuali komunisme, yang dimunculkan dengan berbagai kedok. Belum lagi konten-konten berbau pornografi dan prostitusi online yang bisa merusak moral generasi muda.

Semua itu menjadi bukti, arus informasi melalui jejaring internet tak hanya membawa manfaat. Namun, juga membawa potensi gangguan keamanan. Inilah salah satu bentuk penjajahan gaya baru. Meracuni generasi muda dengan berbagai informasi menyesatkan, dan menjauhkan warga bangsa dari kebudayaannya sendiri, yang pada akhirnya diharapkan membenci bangsanya sendiri.


Karena itu, Anggota DPR/MPR RI, Titiek Hediati Soeharto menekankan, agar masyarakat semakin mewaspadai setiap bentuk penjajahan gaya baru. Hal ini diungkapkannya saat memberikan pidato pembukaan dalam rangka Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, di Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Yogyakarta, Jumat (2/9/2016).

Titiek Soeharto mengatakan, bukan tidak mungkin kemerdekaan Indonesia yang telah dibangun dengan pengorbanan para pejuang, akan hilang karena penjajahan gaya baru. Terlebih di tengah memudarnya kecintaan generasi muda terhadap bangsa dan negara yang telah susah payah dibangun oleh para pejuang tersebut.

Di tengah situasi itu, sosialisasi Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa, Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara dan sumber hukum tertinggi, Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Semboyan Persatuan dan Kesatuan Bangsa, Bhineka Tunggal Ika, menjadi sangat penting untuk dilakukan lebih masif di kalangan generasi muda. 


"Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat tidak boleh lupa dengan empat hal itu, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika" tegasnya.

Senada dengan itu, Kepala Sekolah SMAN 7 Yogyakarta, Budi Basuki, mengatakan, empat hal yang menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara harus diketahui oleh anak-anak sejak dini. Hal demikian, karena Pancasila merupakan nilai-nilai hakiki yang paling mendasar yang terbukti mampu menciptakan persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan adat istiadat.

Budi juga mengatakan, agar generasi muda bisa belajar dari sejarah, betapa negara-negara di Timur Tengah dan di negara-negara bawahan Rusia terus saja bergejolak hanya karena suku dan perbedaan. 

"Maka, kita harus bisa bersyukur memiliki Pancasila dan harus mampu menjaga, melestarikan dan mengamalkan" pungkasnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: