MINGGU, 4 SEPTEMBER 2016

JAYAPURA --- Tanaman ganja sebagai penopang hidup petani di kampung Send, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, satu kebun dihargai Rp 50 juta. Apa penyebabnya? Berikut penelusuran media ini saat melakukan investigasi terkait perekonomian di kampung tersebut.


Kampung Send didiami penduduk yang mayoritas warga asli setempat juga mempunyai sanak keluarga di Negara Papua Nugini. Terdapat kurang lebih tiga puluhan jiwa dan sekitar dua belas kepala keluarga. Untuk mencapai kampung ini, paling dekat dari POS Satgas Pamtas Yonif Mekanis 516/CY Kalilapar, kurang lebih 6 kilometer atau ditempuh berjalan kaki 6 jam.

Nampak kampung ini terlihat 8 rumah semi permanen dihuni penduduk tersebut. Dulunya, kampung ini adalah jalur utama Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM) sekaligus markas mereka, kini kampung tersebut salah satu kampung yang masuk dalam administrasi Kabupaten Keerom. Dan saat ini seluruh penduduk disana mayoritas bertani ganja, dengan modus menanamnya dicampur dengan tumbuhan umbi-umbian agar tak terlihat mencolok.

“Kami tahu semua lokasi ladang ganja yang ada di distrik waris ini, dari tokoh masyarakat, kepala kampung pokoknya dari besar sampai kecil, kami semua tahu,” kata Jhoni Maunda selaku ondoafi kampung Kalilapar, Distrik Waris saat berterus terang dengan media ini dan aparat TNI AD.

Sebagian besar masyarakat mengetahui dampak buruk dari ganja tersebut mulai dari saat ini hingga anak penerus bangsa, khususnya di distrik itu. “Hukumannya lebih berat, merugikan tubuh kita, terakhir untuk generasi muda tambah hancur lagi,” tutur Jhoni.

Apa yang menyebabkan masyarakat setempat menanam tumbuhan ganja tersebut?. Menurutnya semua tak terlepas dari desakan ekonomi di masyarakat setempat, dimana ganja lebih tinggi dan laris di beli dengan harga menggiurkan, walaupun masyarakat mengetahui hal tersebut melanggar hukum di Indonesia.

“Ganja yang ditanam ini saat panen, pembelinya sudah ada. Dan ini semua hanya karena faktor ekonomi saja, ” diungkapkan Jhoni.

Ia sendiri selaku tokoh adat menyetujui dengan apa yang dilakukan aparat keamanan TNI AD, khususnya Satgas Pamtas Yonif Mekanis 516/CY dan dapati bahwa pemerintah Kabupaten Keerom tak sampai ke kampung tersebut, seperti pembangunan maupun sosialisasi soal apa yang diprogramkan pemerintah setempat, sehingga masyarakat yang brbatasan langsung dengan PNG mencari hidup dengan bertani menanam ganja.

“Saya lebih senang kalau ada pemusnahan dan pemberantasan ladang ganja itu, dari kecil sampai besar, saya senang. Supaya daerah waris ini aman, tak ada barang seperti itu lagi. Biar yang biasa pesan dan beli tak datang lagi cari ganja,” ditegaskan Jhoni.

Sementara itu Tokoh Adat juga mantan Ketua Dewan Adat Keerom, Herman Yoku menyayangkan adanya masyarakat menanam tumbuhan ganja dikebun-kebun mereka, ia menduga ada pihak-pihak tertentu telah menjadi pelanggan sebagai pembeli saat masyarakat memanen tumbuhan ganja tersebut.

“Berarti ada pihak-pihak tertentu yang turu mendukung aktifitas tersebut. ini bukan saya menuduh oknum anggota atau kepada institusi, tetapi ini adalah oknum nakal dan macam ini sebuah jaringan,” diungkapkan Yoku.

Ia meminta kepada pihak Polri khususnya Polda Papua agar segera mencaritau anggota-anggotanya yang terlibat langsung dengan adanya ladang-ladang ganja di Kabupaten Keerom yang ada di daerah-daerah perbatasan RI-PNG.

“Kapolda segera ambil tindakan terhadap anggotanya yang ada bertugas di daerah-daerah perbatasan. Karena ada yang benar-benar bertugas sebagai anggota polri, ada juga yang yang melakukan bisnis-bisnis atas nama pribadi gunakan pekerjan utama mereka menjaga keamanan,” tegasnya.


Dengan begitu, dikatakannya pihak masyarakat juga tak terdoktrin untuk menanam ganja atau hal-hal illegal lainnya, dan pastinya kedepan aparat keamanan dapat bekerjasama menjaga kedaulatan Negara di perbatasan RI-PNG dari segi positif.

“Ini yang saya bilang, oknum-oknum ini berperilaku mencari bisnis tetapi ada juga oknum wiraswasta murni dengan memanfaatkan cari keuntungan, bisnis yang paling muda dan cepat dapat untung adalah barang haram (Ganja) itu,” diungkapkan Yoku. Bersambung
[Indrayadi T Hatta]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: