MINGGU, 4 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Kebutuhan air di wilayah pedesaan masih terus berlangsung untuk mengairi lahan pertanian, baik untuk padi di sawah, palawija serta berbagai tanaman perkebunan lain. Untuk kelangsungannya, masyarakat di wilayah Desa Pasuruan berusaha mempertahankan daerah aliran sungai (DAS) yang bersumber dari hutan lindung Gunung Rajabasa. 


Menjaga sungai yang dalam bahasa Lampung dikenal dengan Way (sungai) dianggap sebagai keharusan karena air dan sungai dianggap sebagai sumber kehidupan. Tak mengherankan beberapa penduduk asli Lampung menyukai tinggal di tepi sungai untuk memperoleh semua kebutuhan mulai dari air, ikan sebagai sumber makanan serta air untuk kebutuhan mandi, mencuci dan keperluan pengairan. Kearifan lokal dalam mempertahankan kelangsungan sungai dilakukan dengan pola penanaman tanaman daerah aliran sungai berkelanjutan.

Salah satu kearifan lokal masyarakat di Desa Pasuruan yang memiliki beberapa nama sungai diantaranya Way Bomati, Way Asahan dan Way Muloh diakui oleh salah satu tokoh masyarakat sekitar, Sukamto (59) dengan cara melarang warga merusak aliran sungai. Pelarangan perusakan aliran sungai tersebut diantaranya dengan tidak membuat bendungan bendungan permanen di aliran sungai khususnya di bagian hulu melainkan hanya menggunakan batu batu alam dari batu batu kali. Selain itu memelihara tanaman tanaman penahan serta menyerap air sungai untuk mencegah longsor, banjir serta menahan aliran air saat terjadi hujan.

"Cara cara tradisional sudah dilakukan oleh masyarakat terutama yang tinggal di aliran sungai Way Muloh dan tradisi bahwa Way Muloh merupakan air yang kembali mengalir ke tempat asalnya tepatnya di Gunung Rajabasa,"ungkap Sukamto saat berbincang dengan Cendana News, Minggu (4/9/2016).

Kearifan lokal berhubungan dengan Way Muloh tersebut diantaranya dimulai sejak dahulu diantaranya dengan proses penyembuhan warga yang tengah mengalami sakit. Sukamto mengaku pada kala itu saat pengobatan modern belum seperti sekarang, orang yang sakit akan diambilkan air dari Way Muloh tepat di sumber aslinya dan dibawa ke tokoh adat setempat untuk didoakan dan sebagian besar warga yang sakit bisa disembuhkan. Kondisi air yang masih terjaga kebersihannya tersebut diduga menjadi salah satu sebab kesehatan orang yang sakit membaik. Selain itu berbeda dengan sungai sungai lain yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, Way Muloh mengalir melalui beberapa desa dengan beberapa aliran kembali ke arah aliran bermula.

Aliran tersebut menurut Sukamto membelok kembali ke arah Gunung Rajabasa di tiga lokasi diantaranya di Desa Banjarmasin, Desa Pasuruan yang berbatasan dengan Desa Taman Baru dan mengalir ke Sungai Way Asahan. Kepercayaan masyarakat setempat, fenomena alam mengalirnya air sungai kembali ke arah Gunung Rajabasa dianggap sebagai sebuah kemurnian air Way Muloh yang berasal dari Gunung Rajabasa dan kembali ke Gunung Rajabasa. Selain itu beberapa kejadian terkait orang yang sakit saat menebang pohon pohon di sekitar aliran sungai tepatnya di bagian hulu menjadi sebuah peringatan untuk masyarakat di sekitar Way Muloh tidak melakukan penebangan kayu yang menjadi sumber penahan air dan penyimpan air.

Sukamto mengakui secara logis kondisi tersebut mengingatkan sebuah petunjuk bahwa masyarakat perlu menjaga kondisi sungai karena secara fisika air yang sudah mengalir dari sungai mengalir ke laut, menguap dan kembali ke gunung saat terjadi hujan. Kondisi tersebut meski bisa dijelaskan secara ilmiah namun dengan fenomena sungai Way Muloh diantaranya menyatu dengan kepercayaan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Way Muloh.

"Kepercayaan warga jika sudah meminum, mandi di air Way Muloh maka akan memiliki keinginan untuk kembali dan kerinduan untuk kembali ke sungai tersebut,kalau bagi para sesepuh dianggap sungai keramat,"ungkap Sukamto.

Selain itu di hulu sungai, beberapa pohon besar masih dijaga oleh masyarakat diantaranya pohon gondang yang bisa menyimpan air cukup banyak, pohon kluih, pohon bambu berbagai jenis. Pepohonan yang masih dipertahankan masyarakat tersebut sekaligus menahan laju aliran air sungai Way Muloh yang berasal dari mata air Gunung Rajabasa. Ribuan petani di wilayah tersebut bahkan masih menggunakan air sungai Way Muloh untuk kebutuhan pengairan pertanian dan perikanan.

Cara menjaga kelestarian air yang terus dilakukan warga diantaranya tidak melakukan aktifitas membuang air di sungai dan bahkan buang air besar (BAB) sembarangan di sungai. Sukamto mengaku meski berada di aliran Way Muloh namun sebagian besar warga memiliki water closed (WC) buatan yang tak dibuang ke sungai sehingga air sungai masih bisa digunakan untuk keperluan sehari hari.

Salah satu warga lain, mengungkapkan hal yang sama terkait Way Muloh, Warga bernama Johan (40) mengungkapkan bentuk kearifan lokal masyarakat petani yang menganggap air sungai Way Muloh tak bisa diganggu membuat pasokan air untuk lahan pertanian di wilayah empat desa masih bisa menanam padi meski dalam kondisi kemarau. Ia bahkan mengaku saat musim kemarau daerah lain kesulitan air bersih dan air untuk pengairan lahan pertanian, Way Muloh masih mengalirkan air untuk mengairi ratusan hektar sawah melalui saluran irigasi yang dibangun melalui Way Asahan.

Ia juga mengaku berbeda dengan sungai sungai lain yang dibangun dengan cara permanen menggunakan talud, Way Muloh hingga ratusan tahun lalu masih dipertahankan dengan penyangga penyangga batu alamiah. Batu batuan kali yang masih berada di tengah tengah sungai dan di pinggir sungai bahkan menjadi penghalang aliran air sungai yang terjadi saat hujan deras. Meski demikian saat hujan deras sungai tersebut tidak mengakibatkan luapan yang merusak lahan pertanian yang ada di sekitar bantaran sungai.

"Kita bisa bandingkan dengan wilayah Palas yang sudah dibangun dengan sistem talud, meski sudah ditanggul beberapa meter namun saat hujan Way Muloh tidak sampai meluap merusak tanaman di sekitarnya terutama tanaman padi,"ungkap Johan.

Pelestarian daerah aliran sungai dengan cara tidak menebang pohon, kepercayaan masyarakat yang menganggap sungai Way Muloh memiliki daya penyembuh dan sumber penghidupan menjadikan masyarakat tetap menyatu dengan Sungai Way Muloh tersebut. Kondisi kemarau panjang bahkan tidak membuat Way Muloh kering dan pepohonan di hulu dan pinggir sungai tersebut masih tetap menghijau. Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di wilayah hulu, mata air yang dipertahankan sumber untuk Way Muloh tetap dijaga untuk sumber air bersih menggunakan pipa pipa bambu dan bendungan bendungan dari batu.

Kepedulian masyarakat dalam menjaga kelestarian pohon pohon di hulu sungai Way Muloh dan DAS resapan air di kaki Gunung Rajabasa menurut Johan menjadi faktor keberlangsungan sungai Way Muloh yang masih tetap bersih dan terjaga. Ia berharap meski kemajuan zaman sudah terjadi dengan banyaknya bangunan bangunan saluran irigasi permanen tidak merubah pola aliran air yang merusak tatanan sungai di wilayah tersebut diantaranya pembangunan jalan tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggibesar.


Aliran Way Muloh hingga kini menjadi sumber pengairan bagi ratusan hektar sawah dan menjadi penyuplai bagi tiga bendungan diantaranya bendungan Lubuk Ludai, bendungan Way Asahan, bendungan Lubuk Sepan yang sebagian dibangun dengan sistem tumpukan batu kali dan sebagian dibangun dengan bendungan permanen. Keberlangsungan air sungai yang masih terjaga tersebut tak terpisahkan dari kearifan lokal masyarakat yang tetap menganggap Way Muloh sebagai sungai keramat yang masih tetap harus dijaga.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: