SELASA, 11 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Agun Gunandjar, seorang politikus Partai Golkar yang juga merupakan Anggota Komisi I DPR RI tersebut baru saja beberapa saat yang lalu tampak terlihat memasuki Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Kuningan Jakarta Selatan, Selasa pagi (11/10/2016). Saat ditanya wartawan terkait maksud dan kedatangannya ke Gedung KPK, Agun Gunandjar hanya menjawab dengan singkat dan seperlunya saja.


"Kedatangan saya ke Gedung KPK adalah dalam rangka memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi untuk tersangka Irman, terkait kasus perkara dugaan korupsi penggelembungan anggaran KTP Elektronik, saya diperiksa karena duku pernah menjabat sebagai Ketua Komisi II DPR RI, sebagai warga negara yang baik saya harus hadir memenuhi panggilan pemyidik KPK" kata Agun Gunandjar kepada wartawan di Gedung KPK Jakarta.

Agun Gunandjar sebelumnya memang diketahui pernah menjabat sebagai Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Komisi II selama ini diketahui memang sering bermitra dengan Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri). Salah satunya adalah dalam proyek pembuatan KTP Elektronik yang berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK).


Kedatangan Agun Gunandjar ke Gedung KPK tersebut dalam rangka memenuhi panggilan pemyidik KPK, dirinya akan diperiksa sekaligus bersaksi untuk tersangka Irman terkait kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi "penggelembungan" anggaran proyek KTP Elektronik. Menurut perhitungan KPK, negara dalam hal ini dirugikan sekitar 2 triliun Rupiah dari total anggaran seluruhnya yang mencapai sekitar 6 triliun Rupiah.


Sebelumnya pada tanggal 30 September 2016 yang lalu, KPK telah menetapkan Irman sebagai tersangka karena menyalahgunakan wewenang bersama dengan Sugiharto, Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri. Sementara itu meski keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, namun baik Irman maupun Sugiharto sampai detik ini masih "menghirup udara bebas" alias belum ditahan.

Jurnalis : Eko Sulestyono / Editor ; Rayvan Lesilolo / Foto : Eko Sulestyono

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: