RABU, 19 OKTOBER 2016

MBAY --- Aksi bisu warga ratusan warga desa Rendubutowe kecamatan Aesesa Selatan, Desa Labolewa kecamatan Aesesa dan desa Ulupulu kecamatan Nangaroro menghadang puluhan aparat  Polres Ngada dan Satpol PP Nagekeo di lokasi yang akan dibangun waduk Lambo, Selasa (18/10/2016).


Selain aksi bisu,warga yang mayoritas perempuan tersebut bernyanyi dan menari sambil tetap diam saat  Kasat Sabhara Polres Ngada  AKP Paulus B. Soge menyapa dan mengajak warga berhenti bernyanyi.

“Selamat siang bapak-bapak dan ibu-ibu semua,bisa kami minta waktu 5 bicara 5 menit saja?,” pinta Paulus.


Warga tetap diam membisu  dan sesekali berteriak “Tolak waduk harga mati” dan “Sekali tolak tetap tolak” .Bukan hanya kaum perempuan, bapak-bapak dan anak-anak sekolah yang disapa Paulus pun tak ada yang menjawab.

“Bisa dengar saya,saya minta satu orang saja untuk bicara. Semuanya membisu, kalau begitu kami juga membisu,” tuturnya.


Polisi yang dikerahkan untuk meminta warga diam dan mendengar penyampaian dari pihak pemerintah dan kepolisian tidak ditanggapi warga. Para perempuan tetap saja bernyanyi  lagu-lagu daerah dan lagu nasional sambil berjoget.

Satpol PP perempuan pun dikerahkan untuk berbicara meminta warga berhenti dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan pun tidak berhasil. Kabag Ops Polres Ngada yang berasal dari Nagekeo yang berbicara dalam bahasa daerah pun tidak ditanggapi.


“Kami tidak ingin ada survei pembangunan waduk di atas tanah ulayat kami, tanah warisan dari nenek moyang kami,” ujar hermina Mawa.

Kami bukannya tolak pembangunan waduk tegas Hermina tapi tolak lokasi waduk yang akan dibangun. Kami heran kenapa pemerintah tetap memaksa pembangunan waduk di lokasi ini.Kami tidak mau ada survei lagi di lokasi yang diinginkan.


“Pemerintah daerah Nagekeo menakuti kami bahwa pembangunan waduk Lambo  ini merupakan perintah presiden Jokowi ,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News,setelah tidak berhasil membujuk kaum perempuan, para personil polisis dan staff pemda Nagaeko mencoba berbaur dengan para bapak-bapak dan berbicara. Akhirnya aparat Polres Nagda dan Satpol PP pun meninggalkan lokasi pintu  masuk jalan ke area pembangunan waduk dan kembali ke posko di  kantor desa Rendubutowe.


Mobil truk dinas Sosial Nagekeo yang hendak membawa terpal untuk dipergunakan membangun tenda di pos pengamanan pun tidak bisa melewati kerumunan para ibu-ibu yang menghadang dan terpaksa berbalik melewati jalan di sebelah barat. Ibu-ibu pun hampir membuka pakaiannya.







Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: