SENIN, 10 OKTOBER 2016

LHOKSEUMAWE --- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe, Aceh, M. Yasir, mengkhawatirkan perkembangan teknologi membuat kesenian tradisional menjadi hilang. Hal tersebut katanya dikarenakan semakin sedikitnya kalangan anak muda yang mau ikut serta memainkan alat musik tradisonal.


“Kita khawatir semakin sedikit anak-anak muda yang mau mainkan rapai (alat musik tradisional Aceh, red), karena kecanggihan teknologi, internet, smartphone dan sebagainya,” ujar M. Yasir, Minggu (10/9/2016).

Menurutnya, anak-anak zaman sekarang banyak yang lalai dengan internet. Karenanya ia mengkhawatirkan, suatu saat kesenian tradisional seperti Rapai Urouh yang ada di Kota Lhokseumawe menjadi punah karena tidak lagi memiliki orang yang mahir memainkannya.

Oleh karenanya, ia melanjutkan, pemerintah bersama masyarakat sudah saatnya bangkit dan mengambil peran untuk membangkitkan kembali semangat untuk melestarikan rapai. “kalau dibiarkan maka saya khawatir nantinya sudah tidak ada lagi kita dengar suara rapai,” katanya.

Ia berharap seni tradisional Aceh yang sudah dikenal sejak zaman kerajaan tersebut terus dilestarikan oleh masyarakat Aceh. ia menambahkan, berharap seni bermain rapai suatu saat juga bisa dikenal layaknya kesenian tradisional Aceh lainnya yang telah dijadikan warisan budaya duia, yaitu tari Saman.

“Harapan besar saya kedepan seni tradisi Rapai semakin dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya di Aceh bahkan sampai ke tingkat internasional seperti Saman, ditambahlagi nantinya kita akan menggelar festival rapi internasional di Lhokseumawe,” pungkasnya.

Jurnalis : Zulfikar Husein / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Zulfikar Husein
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: