MINGGU, 9 0KTOBER 2016

JAKARTA --- Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta tercatat merupakan salah satu kampus di Indonesia yang selalu mengadakan acara dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati secara nasional pada setiap tanggal 1 Oktober tersebut.


Selain itu sejak dua tahun yang lalu UMB Jakarta juga menyelenggarakan acara seminar nasional dengan topik-topik yang berkaitan dengan implementasi Pancasila. Tahun 2015 yang lalu diadakan acara seminar nasional dengan tema "Perwujudan Ekonomi Berbasis Pancasila, sedangkan tahun ini UMB juga menyelenggarakan seminar nasional dengan tema "Pandangan Para Tokoh Mengenai Sistem Ekonomi Pancasila yang bekerja sama dengan Universitas Pancasila dan Universitas Trilogi

Menurut Arissetyanto Nugroho, Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) sebenarnya ada 3 pokok penting yang merupakan inti daripada Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang berkaitan dengan Ekonomi Pancasila. Pertama adalah penegasan bahwa perekonomian nasional kita disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Kedua adalah cabang-cabang produksi yang penting dan menyangkut masyarakat dikuasai oleh negara. Ketiga adalah bumi, air dan kekayaan alam didalamnya dikuasai oleh negara. Namun yang terpenting adalah ketiga-tigannya dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Arrisetyanto Nugroho juga menjelaskan bahwa dirinya sengaja mengambil teks asli UUD 1945 karena pada amandemen terakhir ada dua ayat tambahan yang sebenarnya hanya memperkuat substansi dari dari tiga yang dikutip. Perlu kita ingat bahwa dalam penjelasan Pasal 33 versi amandemen ke 4 dikatakan bahwa dalam Pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan kepemilikan anggota masyarakat. Kemakmuran masayarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang per orang.

Menurut Arrisetyanto Nugroho, Pasal 33 beserta penjelasannya pada pokoknya melarang penguasaan sumber daya alam yang ditangani secara orang per orang. Sehingga semua bentuk monopoli, oligopoli maupun praktek kartel dalam format apapun khususnya di bidang pengelolaan sumber daya alam adalah bertentangan dengan prinsip paling utama dari Pasal tersebut.

Arrisetyanto Nugroho, Rektor Univesrsitas Mercu Buana (UMB) mengatakan "dalam seminar ini kita akan diperkaya dengan pandangan para senior mengenai Sistem Ekonomi Pancasila, sejatinya sejak awal Orde Baru sejatinya mulai dilakukan pembahasan tentang pengertian serta bagaimana penerapan sistem ekonomi yang berbasis Pancasila tersebut, Prof. Emil Salim adalah salah satu diantaranya yang menyebutkan bahwa konsep tersebut adalah sistem ekonomi pasar dengan pengendalian Pemerintah" katanya dalam pidato sambutannya di Kampus UMB Jakarta, Sabtu (1/10/3016).

"Almarhum Prof. Mubiarto sejak tahun 1980 merumuskan lebih jelas dan sistematik tentang dasar prinsip dasar Ekonomi Pancasila dalam lima hal, yaitu perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi sosial dan moral, kehendak masayarakat untuk mewujudkan pemerataan, kebijakan ekonomi yang selalu berdasarkan pada nasionalisme, koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional dan adanya keseimbangan antara sentralisme dan desentralisme dalam policy mengenai perekonomian" demikian dikatakan Arrisetyanto Nugroho di Kampus UMB Jakarta.

H.M. Soeharto, Presiden Kedua Republik Indinesia sejak menjalankan tahapan pembangunan lima tahun, yaitu mulai dari Pelita I hingga Pelita V selalu berusaha mengarahkan kepada Sistem Ekonomi Pancasila tersebut. Koperasi digerakkan secara besar-besaran karena Pak Harto percaya bahwa Koperasi bisa menjadi soko guru perekonomian masyarakat.

Perusahaan pengembang atau real estate yang bermunculan pada tahun 1980 hingga 1990 selalu diingatkan oleh Pak Harti untuk senantiasa membangun berdasarkan satu prinsip , yaitu "Satu, Tiga dan Enam". Artinya adalah dalam membangun 1 rumah mewah harus diimbangi dengan membangun 3 rumah menengah dan 6 rumah sederhana.

Perumahan sederhana yang paling populer pada saat itu adalah perumahan kecil dengan ukuran 6x6 meter, namun harganya terjangkau dapat dibeli oleh masyarakat golongan menengah kebawah merupakan salah satu kerja nyata bagaimana salah satu Sistem Ekonomi Pancasila diterapkan dan hasilnya langsung dirasakan oleh masyarakat.

Jurnalis : Eko Sulestyono / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Eko Sulestyono
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: