SENIN, 17 OKTOBER 2016

PONOROGO --- Cabang olahraga terbang layang memang belum se-terkenal cabang olahraga lainnya, selain itu tidak semua daerah bisa menjadi tempat latihan. Salah satunya Ponorogo, kota reyog ini belum bisa dijadikan tempat olahraga terbang layang. Pasalnya, Ponorogo tidak memiliki tempat landasan dan sarana prasarana masih kurang.


Atlet cabang olahraga terbang layang asal Ponorogo, Devy Discha Christyandani (29 tahun) mengatakan Ponorogo sebenarnya mampu memiliki fasilitas untuk terbang layang.

"Namun sampai saat ini belum siap sepenuhnya, dari awal karir atlet saya tahun 2009 saya selalu latihan di Lanud Abdurahman Saleh Malang," jelasnya kepada Cendana News, Senin (17/10/2016).

Atlet yang sempat mewakili Jawa Timur dalam Kejurnas berhasil menyabet 2 perak, 1 emas dan 1 perunggu dan KSAU Cup berhasil menyabet 2 perak. Meski begitu ibu satu anak ini awalnya mengaku takut saat ikut terbang layang. Tahun 2007 Devy mulai masuk dunia militer TNI AU di Lanud Abdurahman Saleh Malang, tahun 2008 pelantikan dan pada tahun 2009 ia tergabung didalam atlet terbang layang hingga saat ini.

"Awalnya takut, tapi lebih banyak serunya pas sudah terbang," ujar ibu satu anak ini.

Dirinya menambahkan kalau cabang olahraga terbang layang memang belum terkenal. Dan sekaligus butuh peralatan khusus, seperti pesawat dengan mesin yang menarik pesawat tanpa mesin yang dikendarai atlet kemudian pesawat tersebut harus melayang di udara dalam jangka waktu tertentu sekaligus ketepatan mendarat.

"Itulah kenapa tidak semua daerah mampu punya fasilitas terbang layang," tuturnya.

Akibat dari tidak banyaknya daerah yang mampu memiliki fasilitas terbang layang, tidak banyak atlet terbang layang saat ini khususnya di Indonesia.

"Kemarin saat lomba terbang layang hanya ada 11 kontingen saja, regenerasi masih sulit," paparnya.

Devy yang kini tengah disibukkan sebagai staff Dinas personil Lanud Abdurahman Saleh ini berharap regenerasi harus ada terutama dalam cabang olahraga terbang layang. Mengingat atlet dari Jawa Timur saat ini hanya ada tiga perempuan dan enam laki-laki.

"Regenerasi itu penting, tapi semakin senior atlet ia juga semakin pintar terbang," pungkasnya.

Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Charolin Pebrianti
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: