SABTU, 1 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Tanggal 30 September 2016 bertempat di Assembly Hall, Jakarta Convention Center berlangsung peluncuran sekaligus bedah buku "Ayat-Ayat yang Disembelih" (AAYD) - Sejarah Banjir Darah Para Kyai, Santri, & Penjaga-Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI- karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon.


Bertepatan dengan hari peringatan Gerakan makar/pengkhianatan PKI yang dikenal dengan G.30.S/PKI, buku yang berisi kisah-kisah nyata para saksi sejarah dari seluruh Indonesia, tentang kekejaman PKI atau Partai Komunis Indonesa yang melakukan pembantaian diluar batas-batas peri kemanusiaan terhadap rakyat, khususnya para kyai, santri, personil TNI & Polisi, pejabat negara, sampai pahlawan nasional dirilis kembali.

Sastrawan Indonesia, Habiburrahman El Shirazy, sebagai salah satu pembicara dalam acara bedah buku ini menyikapi buku " AAYD " sebagai sebuah pengingat bagi generasi muda nusantara bahwa bangsa ini pernah tersembelih dan tersayat oleh kebiadaban kaum anti-Tuhan atau disebut dengan Kaum Komunis yang dulu di Indonesia diberi kebebasan untuk berekspresi jauh sampai ke dunia politik dengan nama Partai Komunis Indonesia atau PKI.

"Sekarang generasi muda sudah tidak tahu lagi apa itu komunis, bagaimana kekejaman mereka, apa yang mereka lakukan sejak kurun waktu 1945 hingga 1968 di Indonesia dan terutama siapa korban-korban para kamu komunis tersebut," tegas penulis fiksi dengan karya-karya besar diantaranya "ayat-ayat cinta" dan "ketika cinta bertasbih".

Kaum muda nusantara telah dibutakan oleh sekelompok orang yang dengan "gagahnya" berusaha memutihkan kekelaman berdarah yang pernah dilakukan PKI dulu.

" Buku ini adalah kisah nyata dari para keluarga para santri, ulama, petani, tentara, polisi, bahkan Pahlawan Nasional yang telah menjadi korban dan mereka semua menyaksikan bagaimana orang-orang PKI menghabisi kerabat mereka dengan kejam kala itu. Semua nyata di buku ini," terang Habiburrahman lagi.


Sejarah tidak bisa diputarbalikkan, sejarahpun tidak bisa disembunyikan, bahkan darah yang sudah tertumpahpun akan berteriak menuntut balas. Begitu pula usaha para pengikut PKI saat ini yang menamakan diri mereka KGB atau Komunis Gaya Baru, yang bersembunyi di balik Hak Asasi Manusia, berusaha memutarbalikkan semua fakta sejarah.

" Darah dan Sejarah itu berteriak dengan buku ini, agar generasi muda sadar bahwa bangsa ini adalah korban dari kekejian PKI, bukan malah sebaliknya," pungkas Habiburrahman.

Acara peluncuran buku "Ayat-Ayat yang Disembelih" ini diikuti dengan Bedah buku dan dihadiri oleh sekitar 100 orang undangan di tengah-tengah acara Indonesia International Book Fair, 28 September - 2 Oktober 2016 yang diadakan di Assembly Hall, Jakarta Convention Center.
[Miechell Koagouw]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: