KAMIS, 12 OKTOBER 2016

BALI --- 14 tahun silam bom dengan ledakan dahsyat mengguncang Bali. Bom yang meledak di Paddys Club dan Sari Klub itu menewaskan 202 orang. Salah satunya adalah I Kadek Sukerna, suami dari Ni Wayan Leniasih. Praktis sejak saat itu Leniasih haris menghidupi dua anaknya yang masih kecil-kecil. Si sulung saat peristiwa itu terjadi baru berusia 3 tahun. Sementara si bungsu baru berusia satu bulan.

Tak kuasa menanggung beban, Leniasih memutuskan kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Buleleng. "Buntu otak saya waktu itu," kata Leniasih, Rabu, 12 Oktober 2016. Selama tiga bulan Leniasih tak pernah mengetahui 'keberadaan' suaminya yang bekerja sebagai bartender di Sari Klub. Ketika tiba-tiba telepon berdering dari Forensik RSUP Sanglah Denpasar, barulah ia menyadari jika jiwa suaminya telah terenggut oleh peristiwa kelam Sabtu malam 14 tahun silam.

Enam bulan ia tak bisa bangkit. Namun, kedua buah hati mereka-lah sebagai penguat. Semangat itu semakin bertambah manakala ia memperhatikan dengan seksama ketegaran ibu mertuanya. "Ibu mertua sudah ditinggal suami, anaknya (suami Leniasih) juga meninggal, tapi tetap tegar," katanya.

Tak mau lama-lama terpuruk, Leniasih memutuskan kembali ke Denpasar. Tekadnya satu, bangkit dari keterpurukan untuk membesarkan buah hatinya. "Kekuatan saya terletak di anak-anak," ucapnya. Saat peristiwa itu terjadi, Leniasih masih bekerja sebagai guru magang di TK Indra Prasta Kuta di Jalan By Pass Ngurah Rai. "Saya hanya lulusan D2, itupun suami yang membiayai," kenang dia.

Beruntung, seorang donatur asal Singapura mau membiayai Leniasih sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. "Ibu Young Shin namanya. Dia waktu itu mau memberi bantuan uang. Saya bilang, saya tidak mau uang, yang saya mau keterampilan. Saya akhirnya melanjutkan kuliah hingga S1," tutur dia.

‎Tak dipungkiri, saban teringat peristiwa memilukan itu, semangat Leniasih mengendur. Ia selalu menangis jika mengingat peristiwa kelam tersebut. Betapa tidak, begitu mengetahui dentuman bom meledak, Leniasih langsung mencari keberadaan suaminya di tempatnya bekerja Sari Club. Sialnya, tempat suaminya mencari nafkah itu justru menjadi pusat ledakan. "Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana relawan mengevakuasi tubuh tanpa kepala, tangan dan kaki," ujarnya.

Namun, katanya, banyak hal yang membuatnya bisa bangkit kembali, meski secara psikologis belum sepenuhnya pulih. Bahkan, berkat ketekunannya Leniasih menyabet label guru berprestasi tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Berkat ketegarannya pula ia mewakili Provinsi Bali bersaing di tingkat nasional. "Waktu itu diseleksi dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Saya terpilih mewakili Bali di tingkat nasional. Saya juara enam," ucap Leniasih yang mendapat penghargaan pada Agustus 2016 lalu.

Kendati begitu, satu cita-cita Leniasih yang belum tercapai. Ia ingin menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Ia mengaku pernah mengikuti seleksi tes CPNS. Namun, harapannya sirna lantaran ia tertipu makelar. "Saya tertipu, Rp25 juta hilang. Sedihnya uangnya boleh pinjam dari orang," katanya.

Jurnalis : Bobby Andalan / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Bobby Andalan

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: