SELASA, 11 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Tak ingin pasar terlihat kumuh dengan beragam sampah, para pedagang di pasar tradisional Cebongan, Mlati, Sleman, kompak bersama-sama mendirikan Bank Sampah. Dengan adanya bank sampah itu pasar menjadi lebih bersih, rapi dan sehat. Selain itu, para pedagang juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan sampah.


Sebelum didirikan bank sampah yang diberi nama Migunani, para pedagang di Pasar Cebongan acapkali dipusingkan dengan banyaknya sampah yang seringkali dibuang di sudut-sudut pasar. Beragam sampah seperti plastik, daun, sayur busuk atau sampah organik dan unorganik bercampur menjadi satu dan menimbulkan kesan kumuh, becek dan bau tak sedap.

Pengelola Bank Sampah Migunani Pasar Cebongan, Hartini, ditemui Selasa (11/10/2016), mengatakan, sejak lama sebenarnya para pedagang merasa terganggu dengan banyaknya sampah di pasar. Namun, waktu itu para pedagang belum menemukan solusi.


Ketika mulai dikenal pupuk organik dan banyak kalangan mengelola sampah, kata Hartini, para pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Cebongan Guyup Rukun lalu mencoba mencari informasi. Dinas terkait pun kemudian merespon keinginan para pedagang dan mengirim perwakilan pedagang Pasar Cebongan ke Pasar Bunder di Sragen, Jawa Tengah, untuk belajar mengelola sampah.  

Sepulang dari Pasar Bunder itu kemudian para pedagang Pasar Cebongan mulai merintis berdirinya bank sampah.

"Bank Sampah mulai beroperasi sekitar enam bulan lalu dan dibuka setiap dua minggu sekali. Prinsipnya, kami para pedagang menabung sampah tiap dua minggu sekali. Sampah akan dipilah sesuai jenisnya", jelasnya.


Sejak dibuatnya Bank Sampah itu, lanjut Hartini, suasana pasar menjadi lebih rapi, bersih dan sehat. Tidak ada lagi tumpukan sampah di sembarang tempat. Di Bank Sampah itu, sampah-sampah dari para pedagang dipilah menjadi dua kategori, sampah kering dan basah atau organik dan unorganik.

"Untuk sampah kering seperti plastik akan dijadikan bahan kerajinan atau dijual ke pengepul, sedangkan sampah organik seperti daun dan sayuran atau buah dan sejenisnya diolah menjadi kompos", jelas Hartini, sembari mengimbuhkan, saat ini Bank Sampah Migunani sudah memiliki 58 nasabah.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor ; Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: