SELASA, 4 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Selain memaksa para petani palawija di banyak desa di Bantul untuk lebih awal panen, curah hujan tinggi yang terjadi sepekan kemarin juga menggenangi lahan tembakau di beberapa wilayah di Bantul. Petani tembakau pun mengalami kerugian besar. 


Dampak curah hujan tinggi yang terjadi beberapa hari lalu juga dirasakan oleh Ngatijan, petani tembakau di desa Seloharjo, Pundong, Bantul. Ngatijan yang ditemui Selasa (4/10/2016) mengaku pusing, karena tanaman tembakau yang baru dipetiknya sebanyak tiga kali sudah layu akibat tergenang air hujan.

Sementara itu, dari tiga kali petik pertama tersebut Ngatijan hanya mendapatkan hasil sebesar Rp. 3 Juta. Padahal, modal yang dikeluarkan meliputi sewa lahan, bibit, tenaga kerja dan pupuk serta pemeliharaan mencapai Rp. 60 Juta untuk 1 Hektar lahan tembakau, dengan target hasil panen sebesar Rp. 80 Juta.


Kini, Ngatijan membiarkan saja lahan tembakaunya mati, dan mencoba mengais beberapa daun tembakau yang sekiranya masih bisa laku dijual meski dengan harga sangat rendah sekali. Dengan adanya hujan, Ngatijan mengaku menderita kerugian sebesar 80 Persen dan merasa pusing untuk mengembalikan modal yang diperolehnya dari meminjam di koperasi.

Sebenarnya, kata Ngatijan, hasil tembakaunya sejak 2010 memang kualitasnya sudah menurun. Daun tembakaunya selalu banyak yang keriting, meski tetap bisa memberikan keuntungan yang cukup. 

Namun dengan adanya hujan, tembakaunya sama sekali tak bisa memberikan hasil, kecuali kerugian yang dirasa sangat memberatkan. (koko)

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: