JUMAT, 7 OKTOBER 2016

PONOROGO --- Usai diguyur hujan pada Kamis (6/10/2016) petang, warga Dukuh Kocor Desa Sawoo Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur dikejutkan dengan adanya longsor yang menimpa keluarga Paijo (55 tahun). Meski sering ada kejadian longsor namun kali ini merupakan yang terparah karena mampu merobohkan dinding rumah Paijo.


Penjabat Kepala Desa Sawoo, Setyo Sujatmiko menjelaskan kejadian ini berawal dari angin puting beliung yang terjadi di tebing sebelah rumah Paijo.

"Awalnya ada Angin puting beliung sekitar 8 menit pada pukul 14.00 WIB berhasil mencerabut dan menumbangkan pohon sono kemudian ditambah dengan air hujan maka terjadilah longsor hebat," jelasnya kepada Cendana News, Jumat (7/10/2016).

Usai angin puting beliung, hujan deras mengguyur Dukuh Kocor hingga pukul 19.00 WIB. Meski kejadian ini baru pertama kali terjadi, beruntung tidak ada korban jiwa.

"Pak Paijo bersama lima orang anggota keluarganya selamat," ujarnya.

Menurut Setyo, daerah Dukuh Kocor merupakan daerah yang paling rawan longsor dan banjir. Pasalnya. kondisi geografis Dukuh Kocor yang berada diperbukitan dengan kondisi tanah yang labil.

"Banjir kiriman air dari bukit yang lebih tinggi, jadi banjir rumah yang di bawah. Kalau longsor ini karena tanahnya labil meskipun sudah ditanami pohon," paparnya.

Data yang Setyo ketahui saat ini ada 50 rumah yang bangunannya dekat dengan tebing. "Sehingga potensi longsor kemungkinan akan terjadi lagi akibat musim hujan, oleh karenanya warga harus waspada terhadap bencana," pungkasnya. 

Sementara itu, anak Paijo, Ardita Lofiano Ilham (14 tahun) menybutkan, sekitar pukul 14.00 WIB, pintu kamarnya diketuk keras oleh sang ibu. Kalau ada angin puting beliung di tebing atas rumahnya. Rumah keluarga Paijo memang terletak persis di sebelah tebing.

"Akhirnya saya beserta lima anggota keluarga pergi ke halaman rumah untuk melihat fenomena alam itu," jelas Ardita kepada Cendana News, Jumat (7/10/2016).

Saat kejadian itu, terlihat angin menggulung pohon sono yang tertanam di tebing. Namun tidak sampai menerbangkan pohon berusia tua tersebut.

"Setelah angin besar itu, hujan deras mengguyur desa kami hingga petang hari," ujarnya.

Sekitar pukul 16.30 WIB, tiba-tiba dari tebing terdengar suara tanah longsor menghantam dinding kamar milik Ardita. Tidak hanya longsor yang menghantam kamarnya tapi juga ada pohon sono yang melintang jatuh.

"Kejadiannya cepat sekali, kami sekeluarga panik dan sempat berteriak minta tolong ke tetangga," paparnya.

Menurutnya, meski rumahnya pernah tertimpa longsor hingga tiga kali. Kejadian kali ini yang paling parah karena mengakibatkan dinding rumahnya hancur.

"Dua kejadian longsor sebelumnya tidak sampai menimpa rumah kami," tukasnya.

Keluarga Paijo beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Pasalnya, anggota keluarga ini berkumpul di teras karena takut longsor.

"Sewaktu-waktu bisa lari dan minta tolong kalau diluar rumah," tandasnya.


Adanya laporan longsor ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo diwakili oleh Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD, Hery Sulistyono memberikan bantuan logistik kepada keluarga Paijo.

"Kami pun mengusulkan bantuan untuk kerugian material sebesar Rp 20 juta ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Pak Paijo sekeluarga," pungkasnya. 
[Charolin Pebrianti]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: