RABU, 5 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Peringatan wafatnya (haul) pahlawan nasional asal Kabupaten Lampung Selatan, Raden Inten II diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya dzikir dn doa bersama, tabur bunga, serta kegiatan mengunjungi rumah peninggalan keluarga Raden Inten II atau dikenal dengan Lamban BAlak (rumah besar) yang ada di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Peringatan haul Pahlawan Nasional asal Lampung, Raden Inten II ke-160 (1856-2016) tersebut merupakan gagasan dari Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan (Disparsenibud) yang menjadi agenda rutin tahunan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sebagai upaya untuk menghormati jasa pahlawan nasional tersebut.



Menurut Camat Penengahan, Lukman Hakim, peninggalan peninggalan pahlawan Raden Inten II banyak terdapat di wilayah Penengahan diantaranya benteng merambung, benteng ketimbang,benteng Cempaka yang sekaligus dikenal sebagai makam Raden Inten II serta rumah besar yang hingga kini masih dipertahankan keasliannya. Peringatan haul yang dipusatkan di wilayah Penengahan diharapkan mampu menjadi kesempatan untuk generasi muda mengenal dan mengenang tokoh pahlawan nasional yang namanya diabadikan menjadi bandara di Lampung Selatan dengan nama Bandara Raden Inten II tersebut.


"Awalnya acara haul sering hanya digelar oleh keluarga Raden Inten II yang masih hidup namun kini seiring dengan upaya pemerintah dalam menghormati jasa pahlawan nasional maka haul menjadi agenda rutin pemerintah kabupaten,"ungkap Camat Kecamatan Penengahan, Lukman Hakim dalam rangka persiapan haul, rabu (5/10/2016).

Ia mengungkapkan acara haul yang diselenggarakan di lamban balak serta benteng cempaka yang sekaligus sebagai makam Raden Inten II dihadiri oleh pihak keluarga Raden Inten II, tokoh adat, masyarakat desa setempat serta pejabat dari Forkopimda Kabupaten Lampung Selatan. Selain itu pagelaran budaya yang digagas oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya akan menjadi salah satu kegiatan haul tersebut. 


Ia mengakui sosok pahlawan nasional Raden Inten II merupakan pahlawan muda yang berjuang untuk mengusir penjajah Belanda yang menguasai wilayah Lampung pada masa perang merebut kemerdekaan. Selain menajdi pahlawan bagi daerah Lampung kegigihannya bahkan membuat ia dijajarkan dalam deretan pahlawan nasional yang dikenal di seluruh Indonesia. Pengorbanan jiwa dan raga pahlawan Raden Inten kerap digambarkan dalam pertunjukan seni dan budaya tentang jiwa patriotisme yang layak diteladani dan upaya menghormati pahlawan raden Inten II telah dilakukan diantaranya dengan membuat patung di Kalianda, Bandarlampung dan menjadikannya nama bandara Raden Inten II di Natar dan nama nama jalan di sejumlah wilayah di Lampung dan Indonesia. Selain itu nama Raden Inten II juga digunakan sebagai nama salah satu perguruan tinggi negeri di Lampung.

Rangkaian haul yang akan berlangsung dengan berbagai kegiatan diantaranya dzikir, doa bersama, ziarah dan tabur bunga tersebut menurut Lukman Hakim diharapkan bisa menjadi upaya mempererat persatuan dan kesatuan diantara suku yang ada di Lampung. Sebab perjuangan Raden Inten II kala itu merupakan perjuangan suku suku yang ada di Lampung dalam rangka merebut kemerdekaan dari tangan kolonial Belanda.

Raden Inten II yang lahir pada tahun 1834 wafat pada tanggal 5 Oktober 1858 saat melawan penjajah Belanda. Sebagai putra tunggal Radin Imba II gelar Kesuma Ratu yang juga dibuang oleh Belanda ke Pulau Timor. Sementara Raden Inten II juga meninggal saat usia masih muda, 22 tahun dalam perjuangannya melawan Belanda. Raden Inten II digelari pahlawan nasional pada tahun 1986 melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.082 Tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: