RABU, 5 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Peran TNI Manunggal Membangun Desa tak hanya di bidang pertanian saja. Lebih dari itu, TNI di tingkat bawah juga peka terhadap potensi alam di suatu desa, yang sekiranya bisa dikembangkan demi kemajuan desa itu sendiri. Salah satunya seperti potensi alam berupa sungai dan mata air biru Blue Lagoon di Dusun Dalem, Widodomartani, Ngemplak, Sleman.


Jika sekarang obyek wisata sungai dan air yang disebut Blue Lagoon mampu menjadi lapangan kerja dan sumber dana dusun setempat, tidak lain karena kepedulian dan kepekaan jajaran Komando Rayon Militer 07/NGP Ngemplak, Sleman, yang sejak 2014 berinisiatif mengembangkan kawasan itu sebagai obyek wisata.

Melalui peran ujung tombak di lini bawah, Bintara Pembina Desa Sersan Satu Suhadi, wisata sungai dan mata air yang sebenarnya merupakan anak Sungai Tepus yang berhulu di Gunung Merapi tersebut dibangun menjadi obyek wisata melibatkan warga setempat sebagai pengelola. Daya tarik Blue Lagoon adalah airnya yang jernih berwarna kebiruan, dengan kondisi lingkungan yang masih asri pedesaan.


Kini, obyek wisata tersebut dalam satu bulan mampu memberikan pendapatan bagi warga setempat sebesar Rp. 40 Juta, dialokasikan untuk menggaji warga yang terlibat dalam pengelolaan, kas dusun, infaq masjid, tunjangan hari raya bagi warga kurang mampu, santunan anak yatim dan sebagainya.

Didampingi Komandan Rayon Militer 07/NGP, Ngemplak, Sleman, Kapten Infanteri Kamdiyo, Sertu Suhadi yang ditemui Rabu (5/10/2016) mengatakan, potensi obyek wisata Blue Lagoon pada awalnya diketahui dari sejumlah mahasiswa yang suka dengan kegiatan alam. Sebagai anggota TNI yang memiliki tugas turut membina warga, Suhadi kemudian berinisiatif membuatnya sebagai obyek wisata.

Di luar dugaan, kata Suhadi, antusias warga setempat juga besar, sehingga Blue Lagoon berkembang pesat selama dua tahun terakhir ini. Ke depan, lanjut Suhadi, Blue Lagoon semakin akan dikembangkan dengan mendesain sebuah wisata budaya dan pertanian.

"Kami juga sedang merintis kampung batik dengan pewarna alami di sekitar obyek wisata Blue Lagoon, dengan menanam sejumlah pohon bahan pewarna batik," ujarnya.


Sementara itu, Kamdiyo menambahkan, pengembangan sektor budaya seperti kampung batik diupayakan tetap melibatkan warga sebagai pelaku utama. Kendati dari aspek pendanaan memang cukup menjadi kendala, namun pihaknya tidak mau menerima investor yang sekiranya justru bisa menggeser peran warga setempat.

"Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dari semua upaya pemberdayaan warga. Maka, apa pun kendalanya kita akan berusaha keras dan selektif memilih mitra kerja, agar peran masyarakat tidak tergusur," pungkas Kamdiyo. 
[Koko Triarko] 

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: