SABTU, 1 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Masyarakat Dusun Cimalaya Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni akhirnya membuka blokade pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang telah dibuat menggunakan gardu dan pagar pagar sementara di area pembangunan jalan tol Sumatera di ruas STA 05 Bakauheni.


Sebelum pembukaan blokade yang dilakukan oleh pihak PT Pembangunan Perumahan (PP),aparat pemerintahan Kecamatan Bakauheni, personel Kodim 0421/LS serta masyarakat terlebih dahulu dilakukan mediasi antara pengembang tol dan masyarakat pemilik lahan terdampak tol tersebut. Puluhan warga terdampak tol Sumatera di Dusun Cilamaya sebelumnya bahkan berkumpul dan sempat menolak untuk memblokade jalan sebelum ada kepastian dari pelaksana tol Sumatera dalam hal ini PT PP.

Mediasi untuk upaya pembukaan blokade jalan tol Sumatera tersebut dilakukan di lokasi yang berdekatan dengan jalan terowongan yang sudah dilakukan oleh pihak pengembang tol yang dikerjakan oleh PT PP. Humas PT Pembangunan Perumahan (PP) Yus Yusuf, mengungkapkan mediasi dilakukan agar masyarakat Dusun Cilamaya yang bertahan di lahan miliknya bisa membuka blokade dan proses pembangunan tol Trans Sumatera bisa dilanjutkan di ruas tersebut.


“Kami sebagai pelaksana proyek tol Sumatera tetap diminta untuk melanjutkan proyek tol Sumatera dan langkah langkah oleh warga ternyata ada beberapa kasus diantaranya kepemilikan ganda atau perdata dan ranah pidana dengan munculnya indikasi penipuan,” ungkap Humas PT Pembangunan Perumahan Yus Yusuf saat dikonfirmasi media Cendana News di STA 005 Desa Bakauheni,Sabtu (1/10/2016)

Yus Yusuf mengaku khusus bagi warga Cilamaya diantaranya yang dipersoalkan oleh Marjaya dan beberapa warga lain ia berharap penyelesaian hingga ke Pengadilan Negeri yang sudah diajukan dan menunggu proses persidangan. Ia berharap proses tersebut bisa diikuti agar cepat diselesaikan dan warga bisa menerima haknya terutama warga yang hingga kini belum menerima uang ganti rugi lahan.


Ia mengaku meski ada hambatan dalam proses pembangunan tol ruas Bakauheni-Terbanggibesar diantaranya proses ganti rugi lahan yang belum beres serta pembersihan lahan (land clearing) diantaranya faktor cuaca dengan curah hujan yang tinggi sehingga pengerjaan menjadi terhambat.

Sejauh ini ia mengungkapkan upaya untuk melanjutkan proyek Tol Trans Sumatera mulai menunjukkan perkembangan hingga ke STA 16 di wilayah Kecamatan Penengahan sementara meskipun di dua titik diantaranya STA 00 dan STA 005 masih ada persoalan yang sudah masuk ke ranah pengadilan. Sementara khusus untuk STA 04 milik keluarga Triono dan Sohandi masih dalam tahap validasi ulang untuk bisa dilanjutkan proses pembayaran.

Khusus untuk lahan milik Marjaya diketahui masih bersengketa dengan Sri Wati Tunas yang masuk dalam proses pengadilan dengan Marjaya sebagai tergugat atas status kepemilikan tanah ganda. Proses di pengadilan negeri yang masih berlangsung bahkan dijadwalkan akan dilakukan pada (10/10) mendatang.


Mediasi bersama puluhan masyarakat tersebut juga dihadiri oleh Bhabinkamtibmas wilayah Bakauheni Bripda Hartanto dan dari Koramil 03/Penengahan Kopka Sutamto serta pihak pengembang tol yang dilakukan oleh PT Pembangunan Perumahan.

Pantauan media Cendana News proses pembersihan lahan terus dilakukan menggunakan alat berat oleh pelaksana tol oleh PT Pembangunan Perumahan hingga titik STA 007 sementara di ruas lain masih dalam proses pengukuran lahan. Meski proses pembersihan dilakukan di sejumlah titik namun beberapa alat berat berhenti bekerja akibat lahan tergenang air dampak dari curah hujan yang terjadi selama beberapa hari.

Marjaya salah satu warga yang tanahnya terdampak tol Sumatera mengaku hingga saat ini masih menunggu langkah dari pihak terkait untuk upaya pencairan uang ganti rugi lahan miliknya. Meski pelaksana tol meminta untuk membongkar blokade di STA 005 ia berharap proses ganti rugi lahan yang menjadi haknya bisa cepat terselesaikan.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: