SELASA, 18 OKTOBER 2016

MATARAM --- Kasubdit Pengawasan dan Kontra Propaganda, Badan Nasional Penanggulanganan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, Agus Sujatmiko mengatakan, ancaman terkait masalah faham radikalisme dan terorisme trendnya kedepan akan terus mengalami peningkatan.


Kalau masalah tersebut tidak kita tau dan melakukan deteksi dini dari sekarang, maka akan sangat berbahaya bagi kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan kehidupan bernegara dan pasti kita akan merasakan akibatnya

"Ancaman faham radikalisme dan terorisme sekarang trendnya banyak dilakukan melalui media sosial online yang justru sangat berbahaya darpada melalui ofline" kata Sujatmiko di acara dialog pelibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme melalui Perspektif Sosial dan Budaya di hotel Grand Legi Mataram, Selasa (18/10/2016).

Agus mengatakan, pergerakan informasi berbau radikal dan mengarah pada aksi teror melalui media online sangat cepat dan dengan mudah bisa diakses oleh masyarakat, banyak pelaku teroris justru belajar dan terpengaruh dari bacaan tulisan sempalan yang didapatkan dari internet.

Ia mencontohkan, pelaku bunuh diri yang dilakukan oleh salah seorang anak yang baru berumur 18 tahun, di gereja medan, mengaku belajar agama dan konsep jihad melalui media online.

"Kalau yang membaca bacaan semacam itu dari kalangan masyarakat yang pengetahuan agamanya bagus, tidak masalah, tapi kala yang pemahaman agamanya setengah, apalagi anak - anak, kan sangat berbahaya" tegasnya.

Lebih lanjut Sujatmiko mengatakan, kalauancaman faham radikalisme dan terorisme melalui ofline (tatap muka langsung) mudah dideteksi, data dan tempat lahir pelaku dimana, tapi jika online lebih susah.

"Untuk itu mari merapatkan barisan bersama sama mencegah terorisme, tujuannya kita tidak takut atau gentar, tapi untuk merumuskan bersama apa yang mesti kita lakukan" tutupnya.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Turmuzi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: