SENIN, 3 OKTOBER 2016

BANDUNG --- Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hadi Daryanto mengimbau kepada warga yang tinggal di hulu sungai Cimanuk Garut berganti dari menanam palawija menjadi tanaman pohon kenaf untuk menghindari timbulnya kembali bencana banjir bandang. Menurutnya, lahan di wilayah tersebut telah rusak lantaran banyak ditanami tanaman sayuran sehingga daya tangkap air hilang.


Lanjut Hadi, dengan memperbanyak tanaman kenaf, setidaknya bisa mencegah kembali terjadinya banjir bandang. Tanaman kenaf sendiri dalam bahasa latinnya bernama Hisbiscus Canabinus, atau salah satu tumbuhan penghasil serat yang sangat ramah lingkungan karena sifatnya menyuburkan tanah dan bisa menahan erosi.

"Kenaf sangat cocok ditanam di bekas lokasi banjir Garut untuk mencegah erosi tanah. Bukan hanya di Garut, tapi di daerah lain pun saya berharap warga menanam pohon kenaf, "jelas Hadi seusai mengikuti panen kenaf di Desa Cipada Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Bandung Barat, Senin (3/10/2016).

Hadi mengutarakan, banyak manfaat yang bisa diambil dari menanam pohon kenaf. Selain mencegah erosi, penghasilan warga pun bisa lebih besar daripada sayuran. Sebab seluruh unsur tanaman mulai dari batang, kulit, daun, hingga akarnya bisa dimanfaatkan. Bahkan saat ini produsen otomotif Toyota sudah memanfaatkan serat kenaf sebagai interior kendaraan.

"Semua bagian tanaman dapat terpakai dan nilai jualnya tinggi. Daun dan batangnya dapat dijadikan pakan ternak unggas, air rendamannya cocok untuk beternak ikan atau penyubur tanaman, "ucapnya.

Maka dari itu, lanjut dia, tidak ada pilihan lain bagi warga agar bisa menanam kenaf sebagai tanaman sela produk perkebunan atau pertanian.

"Kenaf ini cocok ditanam di jenis lahan apa pun, bisa di dekat sawah, tebing, bahkan di lahan bekas kebakaran hutan pun bisa, "tuturnya.

Hadi menyebutkan, saat ini sudah banyak warga pedesaan yang sudah aktif menanam kenaf. Termasuk sejumlah kelompok tani di Garut, Nagreg dan Sumedang.

"Saya berharap lahan-lahan di kawasan terjal atau tebing dibeli pemerintah dan masyarakat sekitarnya diajarkan menanam kenaf disela-sela tanaman sayuran. Coba bayangkan, batangnya saja jika dieksport bisa dijual dengan harga 1 Dollar per kilogram," ungkapnya.

T. Subhan Chair, seorang penampung hasil kenaf mengungkapkan,  saat ini daya beli masyarakat terhadap mobil meningkat, sehingga ini membuat produsen kendaraan roda empat tersebut kewalahan dalam melayani permintaan. Hal ini dipicu lantaran kebutuhan serat kenaf untuk bahan pembuat interior mobil belum terpenuhi.

"Di desa Cipada ini, satu hektare pohon kenaf baru bisa menghasilkan 1-2 ton serat kenaf, kita targetnya sampai 5 ton serat. Sedangkan kebutuhan untuk bahan mobil saja belum terpenuhi, kita dikejar target untuk memasok produsen mobil di Jakarta," bebernya.
[Rianto Nudiansyah]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: