MINGGU, 16 OKTOBER 2016

Oleh Thowaf Zuharon*

Dugaan penistaan Al-Maidah ayat 51 yang dilakukan oleh Ahok, Gubernur DKI Jakarta, sudah telanjur terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan akan terus menjadi buah bibir. Seluruh media massa dan media sosial telah menjadi lautan perdebatan dan hujatan atas ucapan Ahok di Kepulauan Seribu. Tak pelak, luapan kemarahan, hujatan, dan gelombang demonstrasi di Jakarta dan hampir semua kota besar, tumpah ruah tak terbendung.


Sebagian besar ulama di semua daerah marah besar dan memaknai ucapan Ahok sebagai penistaan atas ayat suci Al-Quran dan Agama. Api kemarahan umat Islam bukan hanya meledak di Jakarta saja, melainkan juga meledak di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan berbagai titik lain di Indonesia. Tak ayal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat pun telah mengeluarkan keputusan bahwa ucapan Ahok adalah jelas penistaan agama.    

Gelombang kemarahan atas dugaan penistaan agama ini terus membesar seperti laju bola salju yang tak bisa dihentikan lagi. Aliansi umat Islam Internasional pun, satu persatu mulai mengutuk keras atas ucapan penistaan Al-Maidah 51. Artinya, jika ini terus membesar, akan menjadi gunjingan dua milyar lebih umat muslim dunia. Tentu, jika tidak segera ada jalan keluar yang cerdas dan tepat, masalah ini akan menambah daftar perselisihan antar agama yang banyak terjadi di berbagai tempat.

Pada kenyataannya, hingga akhir minggu kedua bulan Oktober 2016, Markas Besar POLRI tidak kunjung memproses aduan dari masyarakat atas Ahok. Masyarakat mulai jengah dengan kejumudan sikap POLRI dan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Mulailah berkembang isu tak sedap, Ahok tidak akan diproses hukum, karena didukung penuh oleh Presiden dan Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri untuk maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada Februari 2017 mendatang. Meskipun, Kapolri Tito Karnavian sudah menjanjikan, Ahok akan segera diproses secara hukum. Kabareskrim POLRI Inspektur Jenderal Ari Dono pun sudah berjanji di samping Habib Rizieq, di tengah lautan ratusan ribu massa pendemo Ahok pada 14 Oktober 2016 lalu.  

Apakah penistaan ala Ahok ini akan membuatnya berakhir di penjara? Ataukah Ahok akan menjadi warga yang kebal hukum? Sejarah hukum di Indonesia sudah memiliki yurisprudensi atas kasus penistaan Nabi Muhammad oleh Arswendo Atmowiloto di Tabloid Monitor, serta seorang ibu di Bali yang menistakan Canang tempat sesaji. Jika tidak segera diproses hukum, penistaan Al-maidah ala Ahok ini, akan berakibat pada kenekatan masyarakat untuk tidak percaya lagi pada supremasi hukum di Indonesia. Apakah kita siap melihat kejadian masyarakat yang menggunakan hukum agama Islam atas Ahok? Jangan-jangan, ada juga yang ingin menggunakan hukum rimba atas Ahok. Kita tak ingin itu terjadi!

Jangan-jangan, kekuasaan pemerintah sekarang malah menjadi tiran, lalu menghendaki Ahok menjadi warga kebal hukum. Jika itu terjadi, maka Ahok akan menjadi sasaran dari kemarahan umat Islam se-dunia. Di sisi lain, ketika Ahok terpidana dan masuk penjara, maka, kemarahan dan rasa malu PDI Perjuangan yang juga mengusung Bapak Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia, tidak tertanggungkan lagi. Sebuah dilema berat yang sedang dialami oleh Ahok dan semua partai pengusungnya. Belum lagi munculnya kemarahan berbagai Bandar politik yang sudah mendukung Ahok dengan kekuatan penuh.

Jika kita hendak menakar sosok Ahok, dia tidaklah berangkat dari keluarga yang berkuasa dan berpotensi memiliki kekebalan hukum. Dia bukan pemilik partai. Dia juga bukan sosok konglomerat yang dimungkinkan melakukan Patgulipat di ranah hukum. Dia juga bukan orang yang disucikan dan dicintai mati-matian oleh umatnya sebagaimana Bunda Theresa di Eropa atau Dalai Lama di Tibet. Jika Ahok terbukti kebal hukum dalam minggu dan bulan ke depan, saya khawatir, kisahnya sama dengan Raden Dursasana, pengeran keluarga Kurawa yang bertindak angkara murka, tapi kebal hukum.

Dursasana Menelanjangi Drupadi, Tapi Kebal Hukum

Dursasana adalah tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan adik Duryodana, pemimpin para Korawa, putra Raja Destarastra dengan Dewi Gandari. Ia dikenal sebagai Korawa yang nomor dua di antara seratus Korawa.

Dursasana berasal dari kata ‘Dur’ berarti buruk dan ‘Sasana’ berarti tempat. Berarti dapat disimpulkan bahwa Dursasana adalah tempat keburukan atau selalu berbuat jahat di sembarang tempat/di mana-mana. Dursasana juga digambarkan sebagai wayang dengan tubuh yang gagah, bermulut lebar, mempunyai sifat sombong, suka bertindak sewenang-wenang, gemar menggoda wanita, dan senang menghina orang lain.

Dursasana merupakan seorang sosok raksasa yang menyeramkan. Dursasana telah menjadi ikon kekejian, kedurhakaan, kebejadan, serta kemerosotan moral. Ia seorang raksasa yang garang. Dalam dunia perwayangan ia selalu tampil dengan amarah, sebab kalau dia tampil tanpa amarah dan sejenisnya maka hilanglah sosok dursasana pada dirinya. Jahat. Kejam. Rakus. Serakah dan semua sifat yang masih berkerabat dengan itu semua.

Dalam Mahabharata diceritakan, kecemburuan para Korawa terhadap Pandawa semakin memuncak ketika kelima sepupu mereka itu berhasil membangun sebuah istana yang sangat indah bernama Indraprastha. Berkat bantuan licik Sangkuni, para Korawa berhasil merebut Indraprastha melalui sebuah permainan dadu.

Saat Yudistira dan keempat adiknya kehilangan kemerdekaan, ia masih tetap dipaksa oleh Duryodana untuk mempertaruhkan Drupadi. Drupadi adalah putri Kerajaan Pancala yang dinikahi Yudhistira secara bersama-sama. Setelah Drupadi jatuh ke tangan Korawa, Duryudana pun menyuruh Dursasana untuk menyeret wanita itu dari kamarnya.

Semua Penjunjung Hukum di Hastina Bungkam dengan Kebejatan Dursasana

Siapakah yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya. Semua petinggi Hastina, Ahli hukum, semua melihat dan mendengar dengan kepalanya masing-masing. Semua tahu tentang hukum dan nilai agama. Tapi, semua bungkam. Mereka tak kuasa menegakkan hukum. Bahkan, Destarastra sang Raja Hastina, yang memegang hukum tertinggi, hanya bisa mendengar dan menangis. Raja pesakitan tanpa berkuasa atas hukum!

Yudhistira, suami Drupadi, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu.

”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”

Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu, telah digadaikan di meja judi.

Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.

Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.”

”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”

Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.

Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi? Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.

Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.

”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?”

Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.”

Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak.

Setelah peristiwa itu, Drupadi bersumpah tidak akan menyanggul rambutnya sebelum keramas darah Dursasana, begitu juga Bimasena (Pandawa nomor dua) bersumpah akan memotong lengan Dursasana dan meminum darahnya.

Ahok Menista Al-Quran, Apakah Juga Kebal Hukum Seperti Dursasana?

Begitu jelas, Dursasana sangat bejat dan melanggar hukum, tapi semua membiarkan. Apakah negeri Indonesia ini akan mengalami kisah seperti Pandawa Kalah Dadu? Apakah masyarakat akan membiarkan Drupadi, sang Ibu Pertiwi, ditelanjangi seluruh pakaiannya dengan sangat hina dan nista?

Apakah ketika Ahok telah dimaknai melanggar hukum dengan menistakan Al-Maidah 51 oleh MUI, tetap tidak akan tersentuh hukum sama sekali? Apakah KAPOLRI Tito Karnavian akan mengulang ketidakberdayaan Bhisma, para resi di Hastina, dan semua penegak hukum di Hastina? Apakah para hakim di persidangan Ahok nanti, akan mengambil sikap yang sama dengan Yama Widura sang ahli hukum di Hastina? Apakah para pelaku Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif di Negeri ini hanya bisa menangis seperti Destarastra sang Raja Agung Hastina?

Jika memang demikian adanya, jika Ahok memang harus maju, meskipun dianggap melanggar hukum, demi Pilkada DKI Jakarta, kita semua menjadi cemas. Kita takut, mimpi buruk perang Bharatayuda akan terjadi. Dan dalam perang Bharatayudha, yang berlaku adalah hukum rimba.

Dalam Bharatayuda, Bima memenuhi sumpah untuk membunuh Dursasana dan meminum darahnya di medan perang Kurukshetra. Pada hari keenam belas, Dursasana bertarung melawan Bimasena. Dalam perkelahian tersebut, Bimasena berhasil menarik lengan Dursasana sampai putus, kemudian merobek dada dan meminum darah sepupunya itu.

Saat itu, Dursasana telah tidak sadarkan diri. Kemudian, dada yang telah disudet itu dibuka lebih lebar lagi. kelihatannya seolah-olah Dursasana yang tetap hatinya dan gagah berani itu tetap dengan dendamnya mencoba untuk menerjang dan menggigit. ketika Bima meminum darahnya itu, Dursasana secara mata gelap memukul-mukul ke kiri dan ke kanan, meronta-ronta dan mencoba memegang Bima, padahal badannya telah berkejatan.

Bimasena kemudian menyisakan segenggam darah Dursasana, dimasukkan ke dalam bokor, untuk diusapkannya ke rambut Drupadi yang menunggu di tenda. Setelah Bokor berisi darah itu datang kepada Drupadi, di dalam tenda, diangkatnya bokor emas berisi darah itu ke atas kepalanya, untuk keramas. Sejak itu, Drupadi menyanggul kembali rambutnya.

Pilkada Jakarta Bukanlah Bharatayudha

Kita semua yakin, Pilkada Jakarta 2015 bukanlah Bharatayuda yang tumpah di Padang Kurusetra. Kita sangat optimis, proses hukum kepada Ahok akan berjalan sebagaimana mestinya. Kecemasan atas kisah Dursasana yang kebal hukum bisa terulang, hanyalah ilusi goblok, paranoid, dan terlalu mengada-ada.

Negara kita jelas berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Bagaimanapun, KAPOLRI Tito Karnavian adalah kebanggaan kita semua. Para Hakim dan semua penegak hukum adalah  pelindung kehidupan warga Negara. Dan kita semua harus yakin, seluruh pemimpin kita di pemerintahan kali ini, mempunyai jiwa besar dalam hukum seperti Ratu Shima dari Kalingga. Bukan acuh tak acuh seperti Raja Destarastra yang tak pernah melihat cahaya.

*Thowaf Zuharon adalah Penulis Buku Ayat-Ayat yang Disembelih dan Penggemar Wayang
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: