MINGGU, 16 OKTOBER 2016

JAYAPURA --- Dengan akan masuknya jaringan penerangan di Kabupaten Yahukimo dan Deiyai, 14 kabupaten di Papua dan Papua Barat telah mendapatkan arus listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Bertepatan dengan Hari Listrik Nasional, 27 Oktober 2016 nanti, terdapat dua kabupaten yang akan dilistriki oleh PLN, yaitu Dekai ibukota Kab. Yahukimo dan Wagete ibukota Kab. Deiyai.


Dengan demikan, PLN secara penuh mengelola dan mengoperasikan seluruh pembangkit dan jaringan listrik yang ada dimana sebelumnya Pemerintah Daerah (Pemda) di 14 kabupaten ini secara mandiri mengelola dan mengoperasikan sistem kelistrikan masing-masing.

Empat belas kabupaten tersebut adalah Yahukimo, Puncak Jaya, Yalimo, Mamberamo Tengah, Mamberamo Raya, Intan Jaya, Lanny Jaya, Tolikara, Puncak, Deiyai, Pegunungan Arfak, Raja Ampat, Tambrauw dan Teluk Wondama. Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang lalu, PLN telah melistriki Waisai ibukota Kab. Raja Ampat, Anggi ibukota Kab. Pegunungan Arfak, dan Rasiei ibukota Kab. Teluk Wondama. Untuk itu, selama 2016 sudah sebanyak lima ibukota kabupaten di Papua dan Papua Barat terlistriki oleh PLN. 

“Karena adanya keinginan masyarakat dan tekad PLN untuk menerangi seluruh Nusantara telah mendorong terwujudnya kerjasama strategis ini. Hal ini juga tidak terlepas dari peran serta Pemda setempat untuk melakukan sinergi dalam infrastuktur kelistrikan, peningkatan rasio elektrifikasi adalah salah satu persembahan PLN untuk rakyat dalam rangka menyambut Ulang Tahun ke-71 RI ," ungkap Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua Haryanto W.S, Minggu (16/10/2016).

Haryanto menegaskan pihaknya secepat mungkin melakukan pengembangan dan penyempurnaan sistem kelistrikan yang ada. Selanjutnya, PLN akan membangun pembangkit dan jaringan distribusi baru dalam rangka memperluas daerah layanan dan meningkatkan rasio elektrifikasi di 14 kabupaten tersebut.

Untuk tahap pertama, PLN akan mengelola dan mengoperasikan pembangkit listrik di lima kabupaten, yakni Raja Ampat, Pegununan Arfak, Deiyai, Teluk Wondama dan Yahukimo. Masing-masing daerah ini telah memiliki pembangkit listrik berupa mesin diesel dengan kapasitas 1.500 kilo watt (kw) untuk Raja Ampat, 1.000 kw di Teluk Wondama dan 5.00 kw di Pegunugan Arfak. Untuk dua kabupaten lainnya, PLN sudah melakukan inventarisasi sistem kelistrikan di sana, menyusul kemudian sembilan kabupaten lainnya pada 2017.

"Dari program melistriki 14 kabupaten, PLN mendapatkan penambahan jumlah pelanggan sebanyak 15.795 atau setara dengan peningkatan Rasio Elektrifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat sebesar 1,67 persen," ujarnya.

Ditambahkannya, secara keseluruhan sampai dengan 2016 rasio elektrifikasi di Provinsi Papua baru mencapai 45,93 persen sedangkan Provinsi Papua Barat sebesar 82,7 persen. "Kami lakukan berbagai upaya agar bumi Cendrawasih terang benderang," tuturnya. 

Mengingat pengoperasian dan pemeliharaan suatu pembangkit listrik merupakan salah satu faktor yang penting dalam terselenggaranya suatu penyediaan listrik kepada masyarakat, pihaknya mengaku langkah ini dinilai sangat tepat untuk mewujudkan 'Bumi Cendrawasih Terang'.

"Tantangan terbesar dalam melistriki wilayah Papua dan Papua Barat, antara lain kondisi geografis yang berupa pegunungan dan hutan serta terbatasnya infrastruktur transportasi yang menyebabkan tingginya biaya operasi seperti biaya angkut bahan bakar yang jauh lebih besar dari harga rupiah per kwh (kilo watt hour),” tuturnya.

Sebagai contoh, biaya pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) untuk Kab. Mamberamo Tengah sebesar Rp 31.173 per liter, yang berarti biaya produksi listrik per kwh di Kab. Mamberamo Tengah sebesar Rp 10.167,- per kwh atau 900 persen dari harga jual rata-rata PLN Papua ke masyarakat.

“Konsentrasi kami saat ini adalah bagaimana mengaliri listrik di 14 kabupaten di Papua dan Papua Barat. Walaupun ada banyak kendala di sana, terutama infrastruktur dan transportasi, kami yakin masalah tersebut akan teratasi tentunya dengan bantuan Pemda setempat,” kata Haryanto.

Terkait anggaran, untuk  lima kabupaten yang akan dialiri listrik oleh PLN pada tahun ini, PLN mengestimasi bakal menyedot bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 8.713.115 liter per tahun. Padahal ongkos angkut BBM-nya per liter Rp1.500–2.547 per liter.

“Biaya operasional untuk lima kabupaten, yaitu Kabupaten Raja Ampat, Pegunungan Arfak, Deiyai (Provinsi Papua Barat); Kabupaten Teluk Wondama, dan Yahukimo (Provinsi Papua) yang akan teraliri listrik tahun ini nilainya Rp 55,8 miliar. Padahal nilai jualan listriknya hanya Rp 28,58 miliar per tahun,” ujarnya.

Jika ditotal untuk 14 kabupaten yang akan dialiri listrik oleh PLN, untuk konsumsi BBM-nya per tahun sebanyak 15.755.166 liter dengan biaya produksi Rp 191,9 milyar.

“Nilai jual listrik ke konsumen hanya Rp 49,65 milyar. Untuk biaya angkut BBM sangat tinggi bisa Rp 31.388 per liter. Mengapa tinggi? Karena kita tidak bisa mengangkut BBM melalui jalur darat atau laut. Mau tidak mau lewat udara (pesawat), seperti di Puncak Jaya,” katanya.

Tingginya biaya produksi tidak menyurutkan PLN ekspansi di Pulau Papua. Menurutnya, bahkan manajemen berencana mengembangkan pembangkit dan distribusi di Papua dan Papua Barat.

“Akan kami cari cara untuk melistriki semua wilayah Papua dan Papua Barat keseluruhannya pada 2020. Tapi tetap mengedepankan standar keselamatan PLN,” tukasnya.

Semua ini dilakukan guna mendongkrak pertumbuhan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat, terutama sektor pariwisata dan perikanan sebagai sektor unggulan di Papua.

Dikatakannya, kegiatan melistriki 14 kabupaten merupakan langkah awal PLN untuk melistriki seluruh Bumi Cendrawasih melalui program Papua Terang 2020. Untuk mewujudkan program tersebut, PLN akan melakukan penyambungan rata-rata 110.000 pelanggan baru pertahun.

Regionalisasi di tubuh PLN saat ini sangat membantu dalam proses percepatan pembangunan infrastuktur kelistrikan di Papua, karena lebih fokus dan langsung hadir untuk memecahkan persoalan yang terjadi di Lapangan.

"Mengingat tantangan-tantangan di atas, PLN akan memaksimalkan  potensi energi lokal diantaranya potensi energi air, biomassa, dan surya sehingga diharapkan akan mempermudah PLN untuk mewujudkan Program Papua Terang 2020,” tutup Haryanto.
[Indrayadi T Hatta]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: