SABTU, 8 OKTOBER 2016

SOLO --- Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah mulai Oktober 2016 menerapkan sistem elektronik retribusi (E-Retribusi) terhadap dua pasar tradisional. Penerapan tersebut dinilai mampu mengurangi adanya kebocoran serta penerimaan lebih terpantau.


Kepala Dinas Pengelola Pasar (DPP) Solo, Subagyo mengatakan, dua pasar tradisional yang mulai diterapkan e-retribusi itu adalah Pasar Gede dan Pasar Gilingan. Peluncuran dilakukan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo pada awal Oktober kemarin.

“Sistem ini sebenarnya sedikit terlambat diterapkan di Pasar Gede maupun Pasar Gilingan. Ini karena selama ini terganjal persoalan teknis,” ujar Subagyo kepada awak media, Sabtu (8/10/2016).

Dikatakan lebih lanjut, program e-retribusi untuk dua pasar tradisional itu awalnya akan diterapkan di Pasar Depok dan Singosaren. Namun karena sistem yang digunakan kurang praktis, dibutuhkan penyempurnaan. Mekanismenya sendiri adalah setiap pedagang wajib membuka rekening tabungan di BTN dan selanjutnya menerima kartu e-money.

“Kartu nantinya dipakai untuk pembayaran retribusi. Ini untuk seluruh pedagang. Meski saat ini belum 100 persen pedagang ikut. Kita targetkan sebelum akhir bulan seluruh pedagang bisa menggunakan e-retribusi,” terangnya.  

Diakui Subagyo, saat ini keikutsertaan pedagang di Pasar Gede sudah 95 persen pedagang terdaftar dalam e-retribusi. Sementara untuk Pasar Gilingan baru berkisar 55  persen. “Meski belum semua itu tidak jadi masalah. Pendaftaran e-retribusi bisa sambil jalan diselesaikan,”jelasnya.    

Menurutnya, upaya Pemkot Solo untuk menerapkan e-retribusi itu untuk merubah pola pikir pedagang yang selama ini memakai sistem konvensional. Dengan diterapkan e-retribusi  atau menggunakan debet, bakal memberikan manfaat bagi Pemkot dan pedagang.

“Selain mampu mengurangi kebocoran retribusi atau pungutan liar, sistem pelaporannya bisa lebih dipantau,” imbuhnya.


Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gede Wiharto mengaku, sosialisasi penerapan e-retribusi kepada pedagang masih tergolong minim. Hal itu berdampak pada pedagang yang masih banyak bingung menggunakan kartu debit untuk retribusi.

“Belum semua pedagang memahami cara melakukan e-retribusi. Misalnya besarannya dan harus dikirim ke mana. Mereka masih banyak yang bingung,” pungkas Wiharto.
[Harun Alrosid]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: