JUMAT, 7 OKTOBER 2016

MALANG --- Sebenarnya banyak masyarakat Indonesia yang mau membaca dan suka membaca tetapi mereka tidak tahu harus membaca dimana. Namun banyaknya aturan yang diberlakukan untuk sekedar meminjam buku, membuat mereka justru malas datang ke perpustakaan. Hal tersebut disampaikan Eko Dwi Cahyono saat mengisi acara talkshow Brawijaya Muslim Week (BMW), Jumat (7/10/2016).


"Ketika masyarakat datang ke toko buku, disana mereka tidak boleh membaca lebih dari lima menit. Datang ke perpustakaanpun mereka harus membuat kartu anggota lebih dulu sebelum meminjam, itupun buku yang dipinjam dibatasi jumlahnya," ungkap lelaki pemilik perpustakaan Anak Bangsa.

Ia menambahkan, belum lagi penerapan sistem denda bagi yang terlambat mengembalikan buku. Hal-hal seperti ini yang membuat mereka malas untuk datang lagi ke perpustakaan.

Menurutnya, banyaknya aturan yang diterapkan di perpustakaan karena mereka takut buku-buku mereka hilang atau tidak di kembalikan. 

"Namun bagi saya pribadi dan teman-teman komunitas, tidak pernah menganggap buku itu hilang selama buku itu tidak di bakar atau hanyut di sungai, karena musuh utama buku adalah api dan air. Jadi misalkan ada buku yang tidak di kembalikan, saya menganggap kalau buku itu bertemu dengan pembacanya,"sebutnya.

Ia menambahkan, bagi pihaknya buku yang hilang itu sebenarnya adalah buku yang dibeli, dibaca sendiri, dibaca keluarga tapi setelah itu hanya berakhir di rak buku," tambahnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa di Malang sendiri sebenarnya ada sekitar 120-an perpustakaan komunitas dimana di perpustakaan tersebut dibebaskan, tidak aturan dan bisa meminjam buku sepuasnya, termasuk di perpustakaan miliknya yang berada di daerah Jabung.

Sementara itu, ia juga mengaku bersedia menyediakan buku-buku bagi masyarakat yang ingin membuat perpustakaan di daerahnya.

"Bagi yang terpanggil ingin membuat sebuah perpustakaan di daerahnya, kami akan membantu menyediakan 100-200 buku di awal. Nanti setelah dua-tiga bulan berjalan dan perpustakaannya masih tetap buka, kami akan berikan lagi 50 buku secara rutin, tapi dengan catatan buku tersebut tidak disewakan dan tidak di komersilkan,"pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: