SELASA, 11 OKTOBER 

LAMPUNG --- Permintaan akan tanaman jahe gajah dari wilayah Lampung mulai menurun seiring dengan anjolknya harga komoditas tanaman rimpang yang merupakan rempah rempah tersebut. Menurut salah satu pencari jahe gajah untuk ekspor, Hasan (40) warga Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan dalam kurun setahun ini harga jahe gajah cukup anjlok sehingga banyak petani yang masih memilih membiarkan tanaman jahe gajah di kebun sambil menunggu harga membaik. Ia mengungkapkan pada saat harga normal satu kilogram jahe gajah dihargai Rp5000 perkilogram namun saat ini harga hanya mencapai kisaran Rp2500 perkilogram. Kemampuan jahe gajah untuk bertahan meski belum dipanen selama lebih dari dua bulan membuat sejumlah petani tidak melakukan panen sebelum harga membaik terutama untuk pangsa pasar ekspor.


Menurut Hasan yang merupakan salah satu perantara perdagangan jahe gajah sekaligus pengontrak lahan warga untuk ditanami jahe gajah,tanaman jahe merupakan salah satu tanaman rempah rempah yang diperdagangkan di dunia. Jahe diekspor dalam bentuk jahe segar, jahe kering, jahe segar olahan dan minyak atsiri. Namun dalam beberapa bulan ini ia mengaku belum melakukan transaksi dengan eksportir akibat harga yang cenderung turun dan berimbas banyak petani yang tak mau melepas tanaman jahe milik mereka meski sudah memasuki masa panen.

Hasan bahkan mengaku permintaan sebanyak 100 ton lebih untuk ekspor ke negara Australia dan India terpaksa ditunda akibat anjloknya harga. Sebelumnya ia mengaku bisa memenuhi permintaan ekspor komoditas rempah rempah tersebut ke Australia dan India saat harga berkisar Rp4000-Rp5000. Saat ini harga yang rendah mengakibatkan pengekspor memilih menahan diri untuk melakukan penjualan ke luar negeri dengan jumlah keuntungan yang sedikit dan merugikan para petani jahe gajah di wilayah Lampung. Proses ekspor biasanya dilakukan dengan proses pengepulan di gudang Panjang sebelum diekpsor melalui pelabuhan peti kemas Panjang.

"Saat ini memang petani jahe gajah masih berusaha menahan untuk menjual tanaman jahe gajah yang mereka miliki dan saya sebagai pencari jahe untuk ekpor juga masih belum berani membeli karena keuntungan yang rendah tak sebanding dengan biaya operasional,"ungkap Hasan saat dikonfirmasi Cendana News di salah satu areal lahan pertanian jahe gajah di kaki Gunung Rajabasa, Selasa (11/10/2016).


Berdasarkan catatannya ia mengaku mendampingi sekitar 100 petani jahe gajah di beberapa kecamatan di Lampung Selatan dan Lampung Barat dengan rata rata petani mampu menghasilkan jahe gajah sebesar 5 ton perhektar. Produksi yang melimpah bahkan diakuinya banyak terdapat di Kabupaten Lampung Barat meski saat ini dirinya masih terkendala untuk melakukan ekspor terutama ke wilayah Bangladesh dan China dimana produksi tanaman jahe gajah di negara tersebut sedang melimpah. Ia juga masih berupaya menjajaki upaya untuk mengekspor jahe gajah ke negara lain yang membeli dengan harga cukup tinggi. Harga yang cukup murah di tanah air diakuinya sangat jauh berbeda dengan harga di Jepang yang bisa mencapai Rp20ribu perkilogram dan jahe gajah selain digunakan sebagai obat obatan juga digunakan sebagai manisan untuk makanan ringan.

Nilai ekspor yang menurun untuk komoditas jahe gajah tersebut berimbas bagi petani di Lampung Selatan diantaranya yang dialami oleh Sarmin (30), tanaman jahe gajah seluas 1 hektar miliknya dan puluhan hektar tanaman jahe gajah milik petani lain bahkan dibiarkan tumbuh bersama rumput liar lainnya. Sarmin mengaku masih mencari pembeli yang berani membeli dengan harga cukup bagus karena ia mengaku biaya operasional untuk bibit, perawatan serta panen tak sebanding dengan harga jual saat ini. Ia mengkalkulasikan dengan modal sekitar Rp3juta mulai dari pembibitan hingga masa panen dipastikan dengan harga hanya Rp2500 perkilogram dirinya akan mengalami kerugian.


Luas lahan sekitar 1 hektar miliknya diakuinya ditanami dengan jahe gajah sebanyak 500 kilogram dengan hasil panen diperkirakan mencapai 5 ton jahe gajah. Panen sebanyak itu menurutnya masih akan dikurangi dengan biaya atau upah tenaga kerja untuk panen sebesar RpRp50ribu perorang hingga selesai panen. Ia berharap harga akan kembali membaik seperti tahun sebelumnya. Kondisi murahnya komoditas jahe gajah di tingkat lokal maupun untuk ekspor diperparah dengan cuaca hujan yang masih terjadi dalam beberapa pekan terakhir yang berimbas pada membusuknya sebagian jahe gajah yang mereka miliki.

"Kalau dulu kami bingung mencari penanam jahe gajah tapi sekarang bingung mencari pembeli dengan harga yang lumayan karena harga yang sangat murah perkilogram membuat petani jahe merugi,"ungkapnya.

Sementara itu salah satu penyuluh pertanian dari Balai Pertanian,Perikanan, Perkebunan dan Kehutanan (BP3K) wilayah Penengahan, Sarifudin mengungkapkan sesuai dengan kesesuaian lahan dan iklim,banyak tempat di Kabupaten Lampung Selatan yang cocok untuk penanaman jahe. Begitu pula dengan sarana pertanian yang mudah didapatkan dan terutama banyak petani yang menanam jahe gajah dengan sistem kerjasama dengan pemodal.

Meski demikian sampai saat ini petani belum mendapatkan nilai tambah maksimal dalam usaha tani jahe gajah  atau dengan kata lain udasa tanaman jahe gajah masih banyak dirasakan oleh pedagang pengepul dan para eksportir. Selain itu petani belum menguasai tekhnoogi budidaya  yang mutakhir dan masalah mutu hasil produksi. Ia juga mengakui masih terbatas bahkan jarang ada masyarakat yang melakukan pengolahan jahe menjadi bahan makanan yang bisa dijual dalam bentuk jadi. Selain itu faktor kegagalan dalam usaha tanaman jahe gajah diantaranya disebabkan oleh masalah hama/penyakit busuk bakteri, harga yang tidak sesuai dan hasil produksi yang rendah.

Peluang ekspor jahe gajah diantaranya negara Jepang, Bangladesh, China dan Australia diakui Hasan selaku pencari komoditas jahe gajah nilainya saat ini mulai menurun dan berharap ada pabri pabrik obat herbal tanah air yang bisa menampung hasil pertanian jahe gajah milik petani. Salah satu kendala yang dihadapi petani lokal untuk pangsa pasar domestik khususnya pabrik jamu diantaranya hasil tanaman jahe gajah harus melalui tahap pemeriksaan laboratorium dan dilarang menggunakan pupuk kimia. Sementara untuk permintaan ekspor kualitas jahe gajah tidak terlalu dipersoalkan yang penting kuantitas barang bisa terpenuhi untuk jumlah tertentu. Hasan berharap harga dikisaran Rp4000-Rp5000 bisa menguntungkan petani jahe gajah dan aktifitas ekspor yang ia tekuni bisa berjalan dengan baik.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: