RABU, 12 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Gedung Pewayangan Kautaman berkedudukan di Jalan Raya Pintu I Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur dan berada dalam satu lingkaran besar kawasan wisata dan pelestarian budaya TMII.



Gedung Pewayangan Kautaman diresmikan oleh Ketua Yayasan Harapan Kita HM.Soeharto yang akrab disapa dengan Pak Harto pada tanggal 19 April 1999. Tujuan dibangunnya gedung ini adalah sama dengan tujuan maupun konsep besar dibalik pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, yaitu melestarikan budaya bangsa indonesia sebagai warisan tak ternilai bagi generasi penerus bangsa ini.

Ada tiga tujuan utama dibangunnya Gedung Pewayangan Kautaman, yakni :

1. Untuk melestarikan seni budaya pewayangan
2. Untuk melestarikan ilmu kautaman
3. Tidak untuk menyembah dewa

Berbicara tentang ilmu kautaman maka dapat dimulai dengan falsafah hidup suku jawa yang memiliki tiga sentuhan moral dasar utama yakni kesadaran ber-Tuhan, kesadaran akan keseimbangan dengan alam semesta, dan kesadaran untuk menjadi manusia beradab. Inti dari ilmu kautaman yang coba diangkat dari pendirian Gedung Pewayangan Kautaman terletak pada kesadaran untuk menjadi manusia beradab dengan wujud implementasi berupa budi pekerti luhur dari manusia itu sendiri.


Dengan kata lain ilmu kautaman dalam falsafah hidup Jawa dapat diterjemahkan sebagai ajaran keutamaan hidup atau dalam bahasa jawa disebut Piwulang kautaman. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan dalam wujud sempurna dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya di dunia ini maka manusia dibekali kemampuan alamiah untuk membedakan perbuatan benar dan salah sekaligus perbuatan baik dan buruk atau disebut juga kemampuan berhikmat dengan nurani.

Upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan alamiah manusia melalui ilmu kautaman tersebut adalah untuk mengarahkan manusia agar selalu memilih perbuatan yang benar dan baik dengan menjauhi yang salah dan buruk. Dengan demikian, setiap individu dapat semakin terarah untuk menjalani hidup bermasyarakat secara baik dan benar demi terciptanya kehidupan bersama yang rukun, dami dan sejahtera. 

Dalam ilmu komunikasi modern maka ilmu kautaman bisa dikatakan sebagai pembentukan konsep diri manusia sebagai aktor utama komunikasi itu sendiri. Diperlukan introspeksi diri sebelum manusia masuk kedalam lingkaran sosialnya sehingga secara bertahap muncul yang dinamakan budi pekerti sampai empati terhadap sesama manusia atau watak Tepa selira (dalam istilah jawa).

Sebuah contoh kecil, ada kalimat dalam bahasa jawa yang mengatakan Mikul dhuwur mendhem jero, artinya untuk selalu menghormati orangtua dan pemimpin. Namun ilmu kautaman bisa hadir sebagai filter bagi manusia agar tidak menjadi buta dalam mengartikan kalimat tersebut secara harafiah semata. Pendalamannya adalah, orangtua dan pemimpin juga memiliki kewajiban untuk selalu melakukan perbuatan yang baik dan benar. Justru orang tua dan seorang pemimpin dituntut untuk lebih tinggi sekaligus lebih dalam lagi mengaktualisasikan budi pekerti luhur. 

Orangtua yang tidak memiliki guna dan makna tidak pantas ditauladani akan tetapi ia tetaplah orangtua yang harus dirawat serta dihormati oleh seorang anak maupun manusia yang lebih muda darinya. Dan seorang pemimpin yang tidak memiliki budi pekerti juga bukan pemimpin, akan tetapi adalah tugas dari orang yang dibawahnya untuk mengingatkan si pemimpin tersebut agar ia bisa memperbaiki apa yang keliru dalam dirinya. 

Inilah inti pemahaman secara umum serta pengingat akan pentingnya penanaman nilai-nilai budi pekerti luhur dalam diri setiap manusia indonesia yang coba diwariskan Pak Harto bagi para generasi penerus bangsa indonesia melalui pembangunan Gedung Pewayangan Kautaman TMII. 

Untuk mendukung fungsi gedung sebagai tempat pertunjukan wayang profesional maka Gedung Pewayangan Kautaman memiliki ruangan pertunjukan bernama Ruang Theatre Kautaman. Ruangan berkapasitas 450 kursi ini lengkap dengan ruang rias, lighting, sound system, sistem pendingin ruangan, serta daya listrik sebesar 10.000 watt. Selain untuk pertunjukan wayang maka ruangan ini dapat pula dijadikan tempat untuk mengadakan pentas musik atau sejenisnya akan tetapi disesuaikan dengan daya tampung ruangan serta daya listrik yang tersedia.

Gedung Pewayangan Kautaman juga dapat dipergunakan untuk keperluan seminar maupun rapat. Ruang Sarasehan adalah tempat untuk diadakannya seminar dengan kapasitas 100 kursi, sound system lengkap dengan microphone, lighting, pendingin ruangan, white board, dan meja pertemuan standart.

Sedangkan untuk keperluan rapat maka gedung ini menyediakan dua ruangan bernama Ruang Nakula Sadewa dan Ruang Harjuna Bima. Keduanya memiliki daya tampung sebanyak 50 kursi dengan fasilitas lainnya sama seperti yang ada di Ruang Sarasehan.

Salah satu yang menarik dari Gedung Pewayangan Kautaman adalah tempat ini banyak diminati masyarakat untuk mengadakan acara pernikahan. Ruangan yang diperuntukkan bagi acara pernikahan adalah Ruang Serbaguna yang berkapasitas 300 kursi dengan fasilitas khusus acara pernikahan yang disediakan pengelola.

" untuk acara pernikahan, tempat ini dapat dirubah seketika menjadi sebuah ruangan besar dengan daya tampung minimal 1000 orang tamu undangan. Maksimalnya ya diatas itu," terang Sinar, seorang staff Gedung Pewayangan Kautaman.

" Untuk acara pentas seni wayang profesional maka tergantung dari jadwal panitia acara yang ingin menggunakan tempat ini saja, namun setiap akhir pekan tempat ini selalu digunakan untuk resepsi pernikahan," pungkas Sinar.

Ada sebuah keunikan dari Gedung Pewayangan Kautaman dari sisi aturan dalam penyelenggaraan acara resepsi pernikahan, yaitu jika tempat lain membebaskan atau melarang keras tamu membawa makanan dari luar kedalam pesta pernikahan sebagai buah tangan bagi mempelai (seperti dalam adat Bali, Manado, dan beberapa suku lainnya) maka Gedung Pewayangan Kautaman mengijinkan tamu membawa makanan dari luar namun dengan syarat bahwa makanan tersebut harus makanan khas daerah atau makanan tradisional nusantara.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Miechaell Koagouw

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: