MINGGU, 2 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Petani singkong di lahan pertanian wilayah Lampung dalam beberapa bulan ini dirundung kerugian pasca harga mencapai titik terendah sejak beberapa tahun terakhir. Harga komoditas singkong sebagai bahan baku tepung tapioka tersebut bahkan mencapai harga terendah dalam sejarah petani singkong di Lampung dengan harga hanya pada level Rp400 hingga Rp500 perkilogram.


Kondisi tersebut mengakibatkan petani di sejumlah wilayah di Lampung diantaranya di Desa Girimulyo Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur terpaksa membiarkan tanaman singkong miliknya tetap berada di lahan. 

Salah satu petani singkong, Udin (40) mengungkapkan harga rendah pada komoditas singkong membuat petani merugi akibat biaya operasional yang cukup tinggi dari mulai masa pengolahan lahan, perawatan bahkan hingga paska panen. Udin bahkan menyebut tidak ada keberpihakan pemerintah terkait anjloknya harga  terutama di wilayah sentra sentra pertanian singkong Provinsi Lampung.

“Bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan hidup jika harga singkong murah sementara masa panen sudah berlangsung dan terpaksa sebagian kami jual dengan harga rendah, padahal belum pernah kami menjual singkong serendah ini dalam masa tanam sepanjang tahun ini,”terang Udin saat dihubungi Cendana News Minggu siang (2/10/2016)

Ia bahkan meminta pihak terkait melalui Kementerian Perdagangan bisa memperhatikan nasib petani singkong di Lampung, mengingat harga singkong saat ini anjlok sangat rendah berkisar Rp 500 per kilogram.

Udin mengungkapkan harga singkong sebelumnya mencapai kisaran harga Rp 1.400 hingga Rp1.600 per kilogram namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Menurut dia, dengan harga singkong Rp 500 per kilogram jika dihitung harga bersih yang diterima petani adalah Rp 200 per Kg.

"Harga tersebut dikalkulasikan berdasarkan perhitungan adanya potongan 15 persen per kilogram di lapak pembeli, biaya ongkos kuli Rp 80, biaya angkut singkong dari kebun ke lapak Rp 80 per kilogram dan biaya lainnya sehingga yang diterima petani sekitar Rp 200 per kilogram," ujar dia.

Udin berharap pemerintah segera membantu para petani singkong di daerahnya sehingga dapat menikmati harga singkong yang layak. Ia dan sejumlah petani lain bahkan mengakui harga singkong yang layak dan petani bisa untung itu sekitar Rp 900 sampai Rp 1.000 per kilogram, kalau di bawah Rp800 per kilogram, petani singkong akan rugi.

Udin juga meminta agar pemerintah tidak melakukan impor singkong atau tapioka karena stok singkong di daerah ini melimpah. Harapannya serta petani singkong lainnya kepada pemerintah agar tidak melakukan impor komoditas pertanian jenis singkong.

“Buat apa impor kalau stok singkong di dalam negeri melimpah mengingat dampak impor membuat petani merugi karena stok jadi menumpuk dan produksi petani lokal tidak terserap," katanya.

Sebelumnya, para petani singkong di Kabupaten Mesuji juga mengeluhkan harga komoditas itu yang makin merosot sehingga membuat petani makin terpuruk. Harga singkong tersebut merupakan harga pabrik dengan potongan 15-20 persen, sehingga harga yang bersih diterima petani paling besar Rp 300 per kilogram.

Semakin anjloknya harga singkong tidak sesuai dengan biaya tanam dan perawatan yang telah dikeluarkan petani. Keluhan anjloknya harga singkong itu juga disampaikan para petani singkong di Kabupaten Tulangbawang dan Lampung Tengah di Provinsi Lampung.

Lampung adalah daerah penghasil singkong utama di Indonesia, selain dijual dalam bentuk singkong mentah juga diolah menjadi tepung tapioka atau makanan jadi.

Berdasarkan data Cendana News Para petani singkong (ubi kayu) di Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung mulai menikmati hasil dari jerih payahnya selama ini dalam membudidayakan tanaman ubi kayu. Harga komoditas dari bahan utama pembuat tepung tapioka terus merambat naik. Selain itu juga menjadi bahan baku dalam panganan keripik ubi.

Berdasarkan pantauan Cendana News, harga komoditas singkong sempat mengalami harga memuaskan bagi petani pada masa panen bulan Maret dan bulan Agustus dengan kisaran harga berada pada level Rp1.200 per kilogram. Kenaikan tersebut menyusul tingginya permintaan kebutuhan bahan baku tepung tapioka itu. Bahkan, beberapa pabrik pengolahan di Lampung Timur tidak dapat melakukan proses giling setiap hari, karena terbatasnya pasokan singkong dari petani.

Salah seorang petani, Nurhadi (33) petani singkong di Desa Rantaujaya Udik II, Kecamatan Sukadana mengatakan, komoditas tanaman singkong saat itu sudah mengalahkan karet. Saat harga membaik tersebut banyak petani karet beralih menanam singkong, karena harganya dinilai lebih menjanjikan dan lebih mudah perawatannya.

Harga komoditas getah karet di tingkat petani rata-rata hanya Rp5.000 per kilogram. Sementara intensitas kerja untuk membudidayakan tanaman karet lebih tinggi dibandingkan proses budidaya singkong.

"Dibanding karet, budidaya singkong relatif mudah, hanya tergantung dengan bibit dan pupuk yang digunakan. Hama dan penyakit juga relatif tidak ada, hanya gulma. Jadi  tidak banyak waktu tersita untuk mengurus singkong," terangnya.

Nurhadi menambahkan, umumnya masa  panen singkong di usia 10 bulan. Sedangkan hasil yang didapat rata-rata 25 ton per hektar. Ia menjual singkong miliknya kepada pengepul yang akan menjual singkong tersebut ke pabrik pembuatan tapioka.

Namun mimpi dan harapan petani singkong memperoleh harga yang bisa memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menutup biaya operasional tersebut sirna saat masa panen bulan September hingga Oktober. Sejumlah petani bahkan rela menjual singkong dengan sistem tonase dengan hanya Rp500 perkilogram meski dirundung kerugian sambil berharap harga akan kembali berpihak kepada petani singkong.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: