MINGGU, 2 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Meski cacat fisik pada bagian tangannya, tak menghalangi seorang gadis asal Magelang, Jawa Tengah, bernama Trimah untuk terus berkreasi menghasilkan beragam motif batik yang menarik. Dengan menggunakan kedua kakinya, Trimah mampu menghasilkan kain batik yang harga jualnya cukup fantastis.


Dengan segala keterbatasannya, Trimah begitu tampil percaya diri saat mempertontonkan kemampuannya membatik di ajang peringatan Hari Batik Nasional yang digelar di komplek terminal penumpang Bandara Udara Internasional Adisucipto Yogyakarta, Minggu (2/10/2016).

Trimah begitu tampak piawai menorehkan malam melalui canting yang dijepitnya dengan jari kaki kanannya. Sementara di belakangnya tiga orang penari dengan gemulai membawakan tarian tradisional Jawa dengan iringan gending yang mengalun pelan, seperti sengaja mengikuti gerak lembut canting malam batik Trimah yang digerakkan perlahan membentuk motif batik berbentuk bunga-bunga.

Itulah pentas kolaborasi membatik dan tarian yang dimainkan Trimah, gadis usia 27 tahun asal Magelang, Jawa Tengah. Trimah adalah seorang difabel yang sejak lahir tak memiliki tangan yang sempurna. Namun dengan tekad yang besar, sejak dua tahun ini Trimah mampu menghasilkan motif-motif batik berbentuk bunga-bunga yang dihargai mahal oleh para pembelinya.

Ditemui usai membatik, Trimah mengatakan, sejak kecil ia tidak suka dan tidak bisa menggambar. Namun sejak mengenal batik, keinginannya untuk belajar menggambar motif batik mulai tumbuh. Meski pada awalnya terasa sangat sulit, namun dengan ketekunannya Trimah bisa menghasilkan kain batik yang sebagian besar bermotif bunga.

"Pilihan motif bunga-bunga itu karena mudah menggambarnya," ujar Trimah, lugu.

Dalam ajang Batik Fashion Show 2016, beberapa lembar kain batik karya Trimah pun dilelang. Beberapa ada yang laku terjual Rp. 2 Juta hingga Rp. 10 Juta. Sementara itu, Batik Fashion Show 2016 tersebut juga diramaikan dengan peragaan busana batik oleh sejumlah peragawati dan peragawan, yang mengundang perhatian para penumpang pesawat yang turun di Bandara Udara Adisucipto.

General Manager Angkasa Pura 1, Agus Pandu Purnama, mengatakan, Batik Fashion Show 2016 sengaja digelar di komplek terminal penumpang agar semakin banyak orang mengenal batik, terutama penumpang pesawat yang berasal dari manca negara.


Sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia yang telah diakui dunia sejak 2 Oktober 2009, kata Pandu, sudah semestinya berbagai upaya dilakukan untuk lebih mengenalkan batik kepada dunia.

"Kita berharap dengan acara ini lebih banyak lagi orang mencintai batik sebagai warisan budaya bangsa kita," pungkasnya. 
[Koko Triarko] 

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: