RABU, 19 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Pasang surut Museum Sumpah Pemuda yang berkedudukan di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta pusat memang terbilang banyak jatuh bangunnya terutama dari sisi kunjungan masyarakat baik itu secara personal maupun dari sekolah.


Program-program unggulan dari pengelola museum kerap harus diperbaharui setiap tahunnya agar pengunjung tidak jenuh dan semakin merasa nyaman untuk berkunjung sekaligus merangsang animo mereka untuk kembali berkunjung di lain waktu.

Staff Museum Sumpah Pemuda, Bakhti Ari Budiansyah,S.Pd. menjelaskan kepada Cendana News bahwa ada beberapa program yang memang selalu digarap secara rutin oleh pihak pengelola museum untuk peningkatan kunjungan masyarakat, diantaranya adalah :

1. Agar pengunjung tidak jenuh maka setiap lima tahun sekali tampilan museum akan dirubah. Pengelola memiliki tim peneliti yang terus bekerja untuk mencari hal-hal baru seputar sejarah Sumpah Pemuda, kemudian dirangkum, lalu ditampilkan didalam museum.

Program ini sudah dilakukan sejak tahun 2002 dan tahun 2016 ini adalah tahun ke-4 menginjak tahun ke-5 di tahun 2017 mendatang dari periode ke-3 program tersebut dilaksanakan sejak tahun 2002.


2. Agar bangunan terus terawat maka pengelola terus melakukan renovasi secara rutin atau berkala sesuai kebutuhan. Sejak pertama kali bangunan dipugar oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin tahun 1973 lalu diresmikan Presiden kedua RI, HM.Soeharto pada 20 Mei 1974 maka Museum Sumpah Pemuda terhitung sudah melakukan tiga kali renovasi fisik bangunan.

Renovasi pertama kali adalah fisik bangunan berupa peremajaan tembok dan warna cat, renovasi kedua lebih menitikberatkan pada peremajaan kusen, jendela, dan pintu, sedangkan renovasi ketiga yang sampai saat ini masih berjalan adalah perbaikan atap bangunan.

" Satu hal yang membuat kami heran juga bahwa sejak pertama kali bangunan ini dipugar dan diresmikan menjadi museum maka butuh 43 tahun baru mengalami perbaikan atap. Betapa kuat bangunan ini," terang Bakhti kepada Cendana News.


Namun peremajaan bangunan itu sendiri adalah sesuai koridor hukum yang melindungi bangunan ini sebagai peninggalan sejarah yang harus dilestarikan. Dan pendanaan juga memang harus bersinergi sekaligus mendapatkan persetujuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai instansi pemerintah yang membawahi Museum Sumpah Pemuda.

3. Program ketiga adalah penerbitan buku terkait sejarah Sumpah Pemuda secara rutin, pelaksanaan seminar, sampai pameran keliling indonesia. Dan untuk program yang ketiga ini memang banyak menuai hasil positif karena banyak sekali masyarakat maupun sekolah yang meminta dikirimkan buku.

" Tujuan program ketiga ini maka hasil yang kami harapkan kedepannya adalah masyarakat semakin tertarik belajar sejarah Sumpah Pemuda sekaligus mengunjungi museum Sumpah Pemuda tentunya," lanjut Bakhti yang sudah tujuh tahun bertugas sebagai staff Museum Sumpah Pemuda.

Hasil dari program-program yang dilaksanakan pengelola museum ternyata sangat positif dan berhasil menyentuh satu hal penting di masyarakat yakni animo masyarakat untuk belajar sejarah dan mengunjungi museum.

Jika diurut kebelakang maka ketiga program diatas sudah dimulai sejak tahun 2002, dan mulai menunjukkan hasil sejak tahun 2011 untuk peningkatan animo kunjungan masyarakat ke museum Sumpah Pemuda. Namun yang paling menggembirakan serta membanggakan bagi tim pengelola museum adalah bahwa menurut data sejak tahun 2011 hingga 2016 itu kunjungan yang dilakukan masyarakat adalah kunjungan secara personal, bukan kunjungan yang dikoordinir sekolah maupun lembaga lainnya. Artinya apa yang dilakukan pihak pengelola museum Sumpah Pemuda sudah menyentuh hati masyarakat untuk bisa sadar dengan sendirinya bahwa Sumpah Pemuda itu sebuah sejarah yang mengiringi kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga harus selalu diingat dan dipelajari oleh lintas generasi.

" Persentasenya adalah, mereka yang berkunjung kemari secara personal itu 70% dan yang berkunjung bersama atau dikoordinir oleh sekolah maupun lembaga lainnya adalah 30%," tambah Bakhti.

" Bahkan sebenarnya persentasenya tidak sejumlah itu perbandingannya, jadi masih lebih besar persentase kunjungan atas keinginan sendiri namun sejak tahun 2015 ada peningkatan kunjungan yang dikoordinir sekolah maupun lembaga lainnya sehingga persentasenya bertambah sampai menyentuh angka 30%," pungkas Bakhti.


Sebagai rangkaian memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-88 tahun yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2016 mendatang, maka pengelola museum akan mengadakan pameran mengangkat profil perjuangan tokoh muda bernama Dr.Moewardi yang dimulai pada 20 Oktober 2016 hingga puncaknya tanggal 28 Oktober 2016.

Harapan kedepan dari Bakhti Ari Budiansyah sebagai seorang staf museum mengacu pada peringatan Hari Sumpah Pemuda mendatang adalah pemuda dan pemudi indonesia harus bisa tampil cerdas, nasionalis, dan bhinneka tunggal ika.

" Pemuda indonesia harus bisa mencontoh para pendahulunya sejak 88 tahun yang silam dimana mereka bersatu padu untuk berjuang bagi negara ini. Mereka berasal dari berbagai etnis, agama, bahkan dari beragam keinginan serta cita-cita namun bisa bermufakat sekaligus bersatu," demikian harapan Bakhti sekaligus mengakhiri kebersamaannya dengan Cendana News.

Memang sudah sepantasnya pemuda indonesia mencontoh mereka yang sejak 88 tahun lalu memelopori sebuah persatuan dengan memandang perbedaan itu adalah sebuah kekuatan untuk menyatukan, dan bukan memandang perbedaan sebagai sebuah sekat pembatas.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Miechell Koagouw
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: