JUM'AT, 7 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Terpidana mati Herman Jumat Masan  bersama tim pengacaranya dari Advokasi Penghapusan Hukuman Mati (APHM) akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) tapi tidak pada hukumannya namun lebih kepada meletakan ceritera benar.Ceritera benar itu pasti akan terwariskan dan jauh lebih penting.


Demikian disampaikan Herman Jumat Masan dalam konferensi pers di hadapan media di Rutan Maumere bersama tim pengacaranya dari Advokasi Penghapusan Hukuman Mati (APHM),Kamis (6/10/2016).

Dikatakan Herman,tidak akan pernah ada keadilan kalau dibangun diatas dasar ceritera tidak benar.Menurut pribadinya ceritera benar yang terwaris itu yang paling utama karena itu drinya menyusun tulisan dengan judul peninjauan kembali meletakan ceritera benar dan mengharapkan putusan adil.

“Bagi saya tidak akan pernah ada putusan adil kalau putusan itu dibangun di atas kenyataan yang tidak benar.Konstruksi hukum untuk kasus saya ini tidak benar,” tuturnya.


Mantan pastor di paroki Lela ini mengakui,benar dirinya sudah bersalah tapi letakan kesalahan tersebut secara benar dan ini dua hal berbeda.Dirinya mengaku sehat dan akan menjalani hukuman secara sehat sebagai wujud tanggung jawab  moril.

Kalau ada satu orang pun yang mengharapkan dirinya sehat maka kalau dirinya sakit maka kata Herman,dirinya sudah mengecewekan satu orang itu. Pria asal Adonara ini merasa Tuhan Allah menyayangi dirinya di penjara  lebih dari pada saat diinya masih berada di luar penjara.

“Ada banyak hati yang bisa mau bersama-sama dengan saya di tempat ini.Kejadian ini bagi saya ada hikmahnya dan saya sendiri merasa puas sebab saya tahu apa yang saya buat dahulu,” ujarnya.

Herman mengakui bicara di pengadilan bahwa sebenarnya yang bisa berbicara atas kasus pembunuhan ini hanya dirinya.Orang omong ramai di luar termasuk di media,sebutnyta tapi apakah mereka omong karena mereka tahu ataukah karena tidak tahu.

Kalau saksi dalam kaitannya dengan waktu dan tempat maka alumni Seminari Hokeng ini pertanyakan pada waktu itu mereka ada dimana.Maka 9 orang saksi yang diajukan di persidangan sama sekali bukan saksi.Pertanyaan kedua barang bukti apa yang relevan dengan dakwaan pembunuhan berencana.

Barang–barang yang dirampas dan dimusnahkan sebut Herman,biasanya berkaitan dengan tindak pidana,selimut,tikar dan kain yang dipakai untuk menguburkan jenasah tetapi barang apa yang d pakai untuk tindak pidana pembunuhan berencana tidak ada.

Visum atas rangka yang sudah 10 tahun lebih lanjutnya,tidak berbicara tentang sebab kematian hanya berbicara bahwa jasad tersebut benar Mery Grace tapi tidak berbicara tentang sebab kematian.Jadi alat bukti yang dipakai hanya keterangan saya.

Ditambahkan Herder sebutannya,dirinya mau katakan,tanya kepada hakim di 3 tingkat pengadilan, Grace mati karena apa?.Dirinya cukup yakin mereka tidak bisa menjawab sebab ada 5 versi yang tidak biisa didalami dimana dirinya,Sofi,Piter,Suster bahkan majelis hakim semuanya memiliki versi sendiri.

“Kasus ini divoting dengan pembunuhan berencana atas satu peristiwa yang mana hakim saja tidak tahu Grace mati dengan cara apa?,” sebutnya.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: