JUM'AT, 7 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Herman Jumat Masan mantan pastor yang dihukum mati berdasarkan keputusan Mahkamah Agung RI mengaku dirinya terfosir mati bukan tervonis mati. Baginya harus bisa dibedakan antara kalah dan menang  benar dan salah sebab itu merupakan dua hal yang sangat berbeda.


Demikian disampaikan Herman Jumat Masan dalam konferensi pers di hadapan media di Rutan Maumere bersama tim pengacaranya dari Advokasi Penghapusan Hukuman Mati (APHM),Kamis (6/10/2016).

Disebutkan Herman, tanggal 11 Februari 2014 terjadi voting saat pengambilan putusan kasasi MA karena ada pendapat berbeda dari ketua majelis yakni Hakim Agung Timur P. Manurung, SH,M.M. Herman menyatakan, Hakim Agung tidak setuju dirinya dijatuhi hukuman mati sebab  menurutnya dakwaan pembunuhan berencana tidak terjadi. Dan ini baru dilihat di tingkat kasasi, pada dua tingkat pengadilan sebelumnya tidak dilihat.

Selain itu dakwaan pembunuhan berencana tidak terjadi pada Mary Grace sebab kata Timur Manurung, ada upaya penyelamatkan korban oleh terpidana berupa menyediakan obat dan infus.


“Saya belum mengerti sampai saat ini ada hal yang  harusnya menjadi barang bukti persidangan tidak ada di persidangan padahal itu ada di tingkat penyidikan,” ujarnya.

Herman mengungkapkan, pihaknya menunggu selama 20 bulan sejak 11 Februari 2014 sampai salinan putusan MA tiba di tangannya tanggal 16 Oktober 2015, sehingga  baru diketahui alasan vonis mati untuk dirinya.

“Disitu kelihatan jelas satu-satunya alasan vonis mati  untuk saya menyangkut status saya sebagai seorang rohaniwan Katolik,” terangnya.

Entah ada dalam hukum negara atau tidak tapi menurut Herman,sejak awal dirinya katakan mesti menghadapi 2 pengadilan berbeda yakni pengadilan terkait status imamatnya di tingkat regional Keuskupan dan pengadilan sipil yang mesti mengurai tindak pidana yang dilakukannya.

Bukan hukuman mati yang berat baginya kata mantan pastor ini tapi ceritera tentang pembunuhan berencana yang sampai saat ini dirinya belum bisa menerimanya.Karena itu jaksa kelima kalinya datang menanyakan sikapnya  apakah mau menempuh upaya hukum atau tidak.

“Saya katakan sejak awal keputusannya saya tidak akan pernah terima.Hukumannya saya jalani dengan senang hati tapi lebih pada tinjauan moral karena nyawa 3 orang bukan karena hukum,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: