SENIN, 10 OKTOBER 2016

BENGKAYANG --- Hasil hutan yang melimpah memberikan dampak secara ekonomi. Itulah yang dirasakan warga Desa Bange, Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Hutan alam yang dijaga dengan kearifan lokalnya membuahkan hasil.


Menurut warga setempat, Nikodemus Supimintak, ia memiliki puluhan pokok petai di desanya. Setiap setahun sekali petai itu ia panen dan menjualnya. Dalam sekali panen, bisa mendapatkan keuntungan tanpa dikira. Karena, ia tidak pernah memupuk pohon petai tersebut. Sebab, petai di desa yang berada di hutan alam bebas bersama pohon tahunan lainnya.

“Setahun sekali saja ini panennya. Kebetulan bulan ini panen. Satu ikat Rp 15 ribu,” tuturnya kepada Cendana News saat berada di Kota Pontianak, Senin (10/0/2016).

Ia mengaku kedatangannya ke Pontianak untuk menjual petai. Ia mencoba peruntungan menjualnya di pasa tradisional di Kota Pontianak.

“Ini baru mencoba menjual ke Pontianak. Lumayan juga yang beli. Saya bawa pakai mobil pikap ke sini dari desa. Keuntungan Rp 7 juta,” ucapnya.

Disebutkan, selama ini ia menjual petai ke sebuah pasar di Malaysia. Karena, pasar di Malaysia itu lebih dekat dari tempat tinggalnya, yakni berjakar 45 kilo meter saja. Ia bercerita, menjual petai di pasar Serikin Malaysia lebih mahal. Jika ia menjual petai di desanya Rp 15ribu, di pasar Serikin, Malaysia hargnya Rp 20 ribu perikatnya.

“Di pasar Serikin, Malaysia jauh lebih mahal. Orang Malaysia suka petai juga. Sekali jual di sana keuntungan bisa belasan juta,” ujarnya.

Namun demikina, ia mengakui menjual hasil bumi ke sebuah pasar di Malaysia bukan berarti tidak cinta NKRI. Akan tetapi, itu dilakukan guna memenuhi kebutuhan taraf ekonomi yang kian hari semakin mencekik.

“NKRI harga mati bagi kami di perbatasan,” tegasnya yang mengaku tetap melaksanakan Upacara Bendera 17 Agustus setiap tahunnya di desanya. 
[Aceng Mukaram]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: