RABU, 12 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Merayakan Hari Batik Nasional, Pemerintah Daerah DI Yogyakarta menggelar Jogja Internastional Batik Biennale (JIBB) 2016 di Jogja Expo Center, Bantul, Rabu (12/10/2016). Gelar pameran dan eksibisi peragaan busana batik bertema tradisi untuk Inovasi (Tradition for Innovation) diikuti puluhan desainer muda dan pameran batik kuno koleksi museum batik dari beberapa daerah di Indonesia.


Jogja International Batik Binnale yang berarti pameran dua tahunan sekali, digelar rutin sebagai tindak lanjut dari dikukuhkannya Kota Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia pada 18 Oktober 2014 lalu di Dongyang, Tiongkok, oleh World Craft Council, lembaga dunia bertaraf internasional yang berafiliasi dengan UNESCO, dan memfokuskan pada peningkatan apresiasi terhadap berbagai kegiatan dan permasalahan komunitas kriya di dunia.

Ada tujuh kriteria yang dipenuhi sehingga Yogyakarta dikukuhkan sebagai Kota Batik Dunia, antara lain karena historisnya, orisinalitas, regenerasi, nilai, ekonomi, ramah lingkungan, mempunyai reputasi internasional, dan persebarannya yang luas.

Ketua Pameran, Afif Syakur, mengatakan, pengukuhan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia menjadi harapan sekaligus tantangan bagi Yogyakarta untuk bisa membuktikan jika akar rumput batik tersebut memang berasal dari Yogyakarta. Karenanya, dalam gelar JIBB 2016 dipamerkan beragam batik mulai dari yang kuno, tradisional dan kontemporer.

"Kita akan membuktikan jika batik itu memang berasal dari Yogyakarta, dengan menghadirkan berbagai batik dengan filosofi dan nilai fungsinya di masa lalu, misalnya ada batik untuk kelahiran, kematian dan sebagainya", ungkap Afif.


Selain batik dengan orisinalitasnya, kata Afif, di ajang JIBB 2016 tentu saja juga menampilkan beragam batik yang menunjukkan adanya pengaruh-pengaruh budaya lain seperti Jepang, China dan sebagainya. Bahkan, kata Afif, dalam eksibisi kali ini pihaknya justru lebih mendorong adanya kreasi atau inovasi baru motif batik.

"Kita sangat mendorong agar para desainer muda lebih berinovasi menciptakan motif-motif batik yang baru, namun tetap dengan memiliki nilai filosofi, sehingga tidak hanya mengolah motif-motif batik lama saja", ungkapnya.

Afif menegaskan, batik yang telah dikukuhkan sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, dengan telah ditetapkannya batik sebagai warisan dunia, jelasnya, maka para desainer internasional juga menggunakan batik. Maka, saat ini ada tekstil batik yang dibuat negara lain dan menjadi naif jika negara-negara asing itu menjual batik buatannya sendiri.

"Kita harus bisa menunjukkan, bahwa batik itu ruhnya ada di Indonesia, dan sebagai komoditi ekonomi kita harus mampu berinovasi", tegasnya.

Sementara itu guna mempertegas dan melindungi batik sebagai warisan budaya asli Indonesia, lanjut Afif, Pemerintah telah membuat standarisasi batik dengan mengelompokkannya sebagai batik tulis, batik cap, dan tekstil batik yang dikategorikan sebagai tiruan batik. 

"Inovasi menjadi sangat penting dalam pelestarian batik ini. Meski saat ini banyak desainer muda telah menciptakan beberapa motif batik baru yang karena belum diberi nama kemudian disebut batik kontemporer, hal itu tidak masalah, karena nilai batik itu sebenarnya ada pada proses pembuatannya", jelas Afif.

JIBB 2016 digelar selama 5 hari dibuka hari ini oleh Mufidah Jusuf Kalla. Berbagai batik koleksi lama dan baru dipamerkan, juga peragaan busana batik hasil inovasi para desainer muda yang menampilkan motif-motif baru. Selain itu juga digelar simposium batik.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Leslolo / Foto ; Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: