JUM'AT, 14 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Sejumlah pengemudi atau sopir truk eksepedisi dan pengurus truk (petruk) di wilayah Lampung bernafas lega. Pasalnya dengan penutupan sejumlah jembatan timbang yang ada di Provinsi Lampung diantaranya di Kabupaten Mesuji, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Way Kanan membuat sejumlah penyedia jasa angkutan ekspedisi bisa melakukan penghematan dengan tidak harus membayar untuk masuk ke jembatan timbang. Salah satu pengemudi truk asal Sumatera Selatan, Ahmad (34) mengaku dirinya bisa melakukan penghematan sekitar Rp200-Rp300ribu dengan tidak beroperasinya jembatan timbang di wilayah Lampung dan berharap keputusan untuk menutup jembatan timbang tersebut dilakukan permanen bukan hanya sementara.


Ia mengakui hal tersebut cukup beralasan karena wacana penutupan jembatan timbang telah pernah dilakukan pada (23/1) lalu meski akhirnya dibuka kembali. Penutupan jembatan timbang yang bertujuan mengontrol tonase kendaraan yang melintas di sepanjang Jalan Lintas Sumatera provinsi Lampung tersebut bahkan sempat mengakibatkan kemacetan sebelum keputusan penutupan kedua dilakukan pada (11/10). Ia mengaku dengan adanya penutupan tersebut ia tak harus berhenti di sejumlah tempat penimbangan dan langsung menuju ke Pelabuhan Bakauheni untuk menuju ke Pulau Jawa.

"Selama ini meski tidak menghambat namun dalam kondisi kami harus dikejar waktu kami harus berhenti lama di jembatan timbang dan jika memang ditutup ya justru itu sangat bagus dan pastinya disambut positif para pengusaha jasa ekspedisi,"ungkap Ahmad saat dikonfirmasi media Cendana News di Jalinsum, Kalianda, Jumat (14/10/2016).


Ahmad juga mengakui wacana dan dugaan adanya pungutan liar yang ada di sejumlah jembatan timbang menurutnya bukan rahasia umum dan dirinya mengaku tak perlu menjawabnya. Bahkan ia mengakui dengan adanya penutupan terhadap jembatan timbang di sejumlah titik di Provinsi Lampung merupakan evaluasi bagi Dinas Perhubungan setempat untuk melakukan pembenahan sistem dan sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di tempat tersebut yang diduga melakukan pungutan liar terhadap pengemudi kendaraan yang masuk ke jembatan timbang.

Hal berbeda diungkapkan oleh pengurus jasa truk (petruk) dan jasa pengawalan, Edi, yang sehari hari bertugas melakukan pengawalan terhadap truk yang menjadi relasinya. Ia mengaku dengan adanya penutupan jembatan timbang karena adanya dugaan pungli, baginya tidak menyebabkan perubahan yang signifikan terhadap pendapatannya sebagai penyedia jasa pengawalan. Ia mengaku selama ini mendapat uang jasa pengawalan sebesar Rp10ribu-Rp20ribu dari setiap pengemudi truk ekspedisi hingga ke Pelabuhan Bakauheni dengan alasan keamanan. Sementara saat jembatan timbang dioperasikan  truk yang masuk ke jembatan timbang berdasarkan tonase dan golongan kendaraan diantaranya ada yang membayar sebesar Rp150ribu. Uang sebesar itu menurutnya masuk ke pemerintah melalui Dinas Perhubungan yang mengelola jembatan timbang salah satunya di jembatan timbang Desa Sukabaru tersebut atau dikenal jembatan timbang Gayam. Edi memperoleh sebesar Rp5ribu dari jasa penimbangan dan Rp5ribu diberikan kepada bos pengurus.


"Jadi kalau informasinya akan ditutup pengaruhnya memang banyak dan bagi kami pengurus truk dan jasa pengawalan justru menguntungkan karena tak harus masuk timbangan namun bagi pihak lain pasti merugikan karena mereka tidak memiliki tambahan penghasilan,"terangnya sambil mewanti wanti tidak menyebut nama perusahaan truk espedisi yang dikawalnya.

Jembatan timbang di Kecamatan Penengahan merupakan satu dari empat jembatan timbang yang ada di Lampung diantaranya di Simpang pematang Kabupaten Mesuji, Jembatan Timbang Way Urang Kalianda, Jembatan Timbang Gayam atau Sukabaru Kabupaten Lampung Selatan dan jembatan timbang Belambanmgan Umou Kabupaten Way Kanan. Pemberlakuan jembatan timbang di penengahan tersebut mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Lampung No.5 tahun 2011 dimana kendaraan yang tak memenuhi standar dalam tonase akan dikenai sanksi. Berdasarkan kategori pelanggaran tingkat I dan tingkat II (pasal 11) kendaraan golongan I hingga golongan IV untuk pelanggaran tingkat I didenda dari mulai Rp30ribu hingga Rp120ribu. Sementara pelanggaran tingkat II mendapat sanksi denda kisaran Rp90ribu hingga Rp180ribu. Sementara pelanggaran tingkat III dikenakan sanksi pidana kurungan 2 tahun penjara atau denda Rp500ribu.

Pemberhentian operasi jembatan timbang oleh Dinas Perhubungan Provinsi Lampung tersebut bahkan disembut oleh pengemudi kendaraan eksepedisi lainnya. Ucok, salah satu pengemudi truk asal Medan mengaku jembatan timbang menurutnya menambah biaya operasional perjalanan kendaraan ekspedisi yang dikemudikannya. Ia bahkan mengaku keberadaan jembatan timbang perlu dikaji ulang karena Jalan Lintas Sumatera merupakan jalan nasional sedangkan pengaturan jembatan timbang menggunakan peraturan daerah. Keberadaan jembatan timbang baginya telah membuat biaya operasional yang dikeluarkannya membengkak.


Ia mengaku senang jika jembatan timbang ditutup meski sementara dan bahkan seterusnya apalagi saat ini proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) masih berlangsung. Ia mengaku sebagai sopir ekspedisi jika JTTS sudah beroperasi maka dirinya akan enggan melintas di Jalinsum karena ada jembatan timbang dan lebih memilih membayar tol.

Ia berharap agar pembangunan jalan di ruas provinsi diperkuat dan ditingkatkan kualitasnya jika selama ini cepat rusak dan kendaraan bertonase berat dikambinghitamkan. Penutupan jembatan timbang tersebut menurutnya membuat sejumlah pengemudi kendaraan ekspedisi tidak perlu repot memikirkan sanksi denda maupun tilang ketika muatannya melebihi tonase atau kapasitas.

"Biasanya jembatan timbang yang beroperasi mengakibatkan kemacetan panjang karena harus mengantri untuk penimbangan dan kami rugi waktu sekarang tutup, ya lancar perjalanan di Jalinsum,"ungkapnya.

Meski demikian penutupan jembatan timbang tetap menimbulkan kekhwatiran bagi masyarakat karena pengawasan muatan angkutan barang tak terkontrol dan kondisi jalan Jalinsum berpotensi cepat rusak. Amri, warga Kalianda mengaku setiap hari ribuan kendaraan melintas di Jalinsum. Saat ada jembatan timbang saja masih banyak kendaraan melanggar aturan bobot muatan apalagi saat ini tidak beroperasi maka akan menyebabkan kerusakan parah.

Berdasarkan pantauan Cendana News tak ada satupun petugas yang berjaga di jembatan timbang Gayam dan jalan masuk ke timbangan yang bersebelahan dengan area terminal agrobisnis Lampung tersebut. Jalan masuk ke area timbangan sementara ditutup menggunakan portal meski saat dibuka lokasi tersebut dijaga oleh petugas dari Dinas Perhubungan setiap hari.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: