SABTU, 1 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Nilai kearifan lokal semakin disadari sebagai basis kekuatan membangun bangsa yang berkarakter Pancasila. Dari satu warisan budaya berupa batik saja, nilai-nilai kehidupan berbangsa baik sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama bisa digali dan dipelajari.

Batik sarat makna kearifan lokal
Batik sebagai warisan budaya asli Nusantara, tercipta dari cita rasa masyarakatnya. Berbagai bentuk motif yang dibuat selalu melambangkan nilai sosial budaya masyarakat setempat. Karenanya, hanya dari sebuah motif batik, kondisi dan cara hidup masyarakat di suatu daerah bisa dibaca.

Sementara itu dari aspek sosial budaya Indonesia sebagai negara agraris, banyak ditemui beragam tradisi di masyarakat Nusantara yang selama ini terbukti mampu menciptakan keharmonisan di antara sesama warga masyarakat.

Terkait hal itu, Ketua Program Doktor dan Master Komunikasi Pembangunan Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.Sc., saat memberikan kajiannya dalam Seminar Bedah Buku Batik Anti Terorisme di Kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Sabtu (1/10/2016), mengungkapkan, setiap daerah dari Sabang sampai Merauke memiliki tradisi yang mencerminkan kultur bangsa ini yang harmonis dan cinta damai.

Diungkapkannya, Aceh dengan lembaga adat pertanian yang disebut Kejomblang, menunjukkan adanya sistem pengaturan pengairan atau irigasi yang membuat masyarakatnya hidup harmonis dan mampu bersama-sama bergotong-royong meningkatkan produktifitas. 

Pesta Adat Baralek Kapalo Bamda di Sumatera Barat yang merupakan pesta adat merayakan hasil pertanian, menunjukkan adanya suka cita dalam kebersamaan yang menghasilkan sifat kegotong-royongan. 

Buku Batik Antiterorisme
Lalu, juga lembaga adat Sasi di Papua yang melindungi sumber daya alam, lembaga, adat Soa di Maluku, Dalihan Na Tolu di Batak, upacara wiwitan di Jawa, tradisi suku Tengger di Pegunungan Bromo dan masih banyak lagi yang lain, menunjukkan jika masyarakat Nusantara sangat mengedepankan keharmonisan di antara sesama, cinta damai dan selalu mensyukuri apa saja yang dihasilkannya.

Beragam nilai kearifan lokal yang terkandung dalam berbagai tradisi dan budaya masyarakat Nusantara, kata Sunarru, sangat penting dilestarikan guna menciptakan keharmonisan, yang mampu menangkal paham radikalisme.

Sementara itu, penulis buku Batik Anti Terorisme, Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed. mengungkapkan dalam paparannya, setelah terjadinya tragedi Pancasila, keinginan untuk hidup bersama dalam keberagaman justru semakin meningkat. Namun demikian, di tengah semakin tingginya hasrat masyarakat untuk hidup bersama itu diperlukan perpektif perdamaian.

Dalam upaya menegakkan Pancasila, kata Aniek, dibutuhkan peran masyarakat melalui berbagai organisasi budaya dan penguatan ekonomi secara kekeluargaan. Sayangnya, kata Aniek, ekonomi kekeluargaan sebagaimana yang dimaksudkan dengan Ekonomi Pancasila selama ini belum berjalan. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: