SELASA, 18 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Peringatan hari cuci tangan sedunia yang diperingati setiap tanggal 15 Oktober diperingati dengan beragam cara oleh lembaga pendidikan serta instansi terkait masih terus digaungkan. Kepala Bidang Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan Lampung Selatan, Syamsiah, mengungkapkan sosialisasi tentang cara menjaga kebersihan bagi anak anak didik diharapkan bisa menjadi kebiasaan di lingkungan rumah dan perilaku sehari hari. Syamsiah bahkan tak segan segan masuk ke sekolah sekolah diantaranya sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk mengajarkan anak anak melakukan cara cuci tangan pakai sabun (CPTS) yang benar. Meski dilakukan kegiatan cuci tangan serentak di setiap sekolah ia berharap para guru bisa menanamkan dalam diri para siswa untuk melakukannya dalam kehidupan sehari hari.


Syamsiah mengungkapkan saat ini sekitar 670 sekolah PAUD di bawah Kabid PNF ikut melakukan kegiatan hari cuci tangan sedunia. Upaya tersebut merupakan bentuk konkrit untuk mengikuti kampanye global yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bekerjasama dengan organisasi organisasi lainnya. Kegiatan yang dilaksanakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta untuk menggalakkan cuci tangan pakai sabun (CPTS) dilakukan untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup.

"Saya selalu tekankan kepada para pendidik di PAUD dan tentunya di SD agar kegiatan cuci tangan pakai sabun ini bukan hanya karena adanya kampanye sedunia tetapi setiap hari dilakukan di sekolah bahkan hingga di rumah, peran guru sangat diperlukan tak jemu jemu mengingatkan pada seluruh siswa,"ungkap Kabid PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan, Syamsiah, saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (18/10/2016).


Kegiatan yang tak terbatas di sekolah melainkan dilakukan di rumah oleh para anak usia sekolah diungkapkan Syamsiah diharapkan memperbaiki praktik praktik kesehatan pada umumnya dan perilaku hidup sehat dan persih (PHBS) pada khususnya. Ia mengungkapkan meski gerakan cuci tangan dikumandangkan oleh Public private Partnership for Handswishing (PPWH), kemitraan swasta dan didukung PBB namun jangan hanya menjadi gerakan seremonial yang terkesan hanya formalitas.

Ia juga mengungkapkan tujuan kegiatan cuci tangan yang dilakukan setiap saat tanpa harus menunggu kegiatan cuci tangan serentak merupakan upaya untuk meningkatkan penurunan angka kematian anak anak balita akibat diare. Kondisi tersebut merupakan dampak dari kurangnya akses air bersih dan fasilitas sanitasi dan pendidikan kesehatan. Upaya melakukan cuci tangan merupakan perubahan perilaku sederhana yang dapat mengurangi angka kematian terkait dengan penyakit diare hampir 50 persen.


"Di tingkat pendidikan anak usia dini yang masih tahap bermain bahkan cara ini merupakan upaya sederhana namun menyenangkan bagi anak terutama anak anak dalam masa pertumbuhan senang makan dan tak henti henitnya pendidik dan orangtua selalu mengingatkan untuk cuci tangan,"ungkapnya.

Salah satu rangkaian untuk mendukung program sanitasi tersebut ungkap Syamsiah dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan sekolah bersih yang dijadwalkan akan dilakukan hingga Minggu ketiga bulan Oktober di sejumlah sekolah dari tingkat PAUD,SD,SMP,SMA. Upaya tersebut merupakan bagian peningkatan mutu pendidikan dimana perilaku hidup sehat diantaranya dengan cuci tangan hanyalah salah satu paremeter kebersihan. Sementara faktor eksternal di lingkungan seklah juga harus diperhatikan diantaranya kebersihan lingkungan,kebersihan kantin, kebersihan WC dan kamar mandi.

Syamsiah berharap kegiatan cuci tangan dengan sabun, kebersihan sekolah menjadi kegiatan rutin tanpa adanya penilaian serta karena adanya lomba kebersihan. Selain menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman, kesehatan para siswa akan mempengaruhi kecerdasan para siswa dalam menuntut ilmu di bangku sekolah.

Terkait keberadaan lembaga pendidikan PAUD, Syamsiah menambahkan saat ini hingga Oktober 2015 tercatat ada sebanyak 670 PAUD yang tersebar di seluruh Lampung Selatan dan tengah dilakukan pendataan jika ada penambahan PAUD baru. Jumlah Paud sebanyak itu ungkapnya idealnya memiliki 1 pendidik untuk sebanyak 5 murid namun keterbatasan jumlah tenaga pendidik tidak menyurutkan untuk kegiatan belajar di PAUD.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: