RABU, 19 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106 memiliki sebuah ruangan khusus mengenai sejarah panjang perjalanan Gerakan Kepanduan atau disebut juga Gerakan Kepramukaan di Indonesia.

Ruang Khusus Sejarah Kepanduan di Museum Sumpah Pemuda

Sepak terjang Pemuda dalam sejarah pergerakan nasional tidak terlepas dari kegiatan Kepanduan atau saat ini dikenal sebagai Kepramukaan (Pramuka). Gerakan Kepanduan Indonesia dirintis oleh Dr.Soepardan, Soegandi, Dr.Sjagaf Djahja, Pentor, Dr.Nazir, Soeratno Sastroamidjodjo, Dr.Bahder Djohan, Soewardjo Tirtosoepono, dan Dr.Moewardi yang menggabungkan diri dalam sebuah wadah bernama Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).

Bahkan ternyata banyak tokoh-tokoh besar bangsa ini yang aktif dalam gerakan Kepanduan baik melalui wadah perintis Kepanduan seperti KBI maupun organisasi Kepanduan lainnya seperti Javaansche Padvinders Organisatie (JPO), Hizbul Wathan, INPO (Indonesische Nationaal Padvinderij Organisatie), Wal Fadjrie, Nationaal Padvinderij dari Budi Utomo, Jong Java Padvinderij (JJP), Sarekat Islam Afdeling Pandu (SIAP), Pandun Pemoeda Sumatera (PPS) dari Jong Sumatranen Bond, serta Nationaal Padvinderij Organisatie (Natipij) dari Jong Islamieten Bond (JIB).

Tokoh-tokoh tersebut diantaranya adalah : S.P.Mangkunegoro VII, KH.Achmad Dachlan, Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo, KH.Agus Salim, H.O.S.Tjokroaminoto, Soewadji Prawirohardjo, A.M. Sangadji Soerjopranoto, Abdoelrachman, Masdani, Poerwosoedarno, Mohammad Toha, Endan, Madnawi, Soewadji Prawirohardjo, serta Nona Soerjandari Koesnan, dan Soetji Soendari.

Organisasi Kepanduan tertua di Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) yang didirikan di Solo pada tahun 1916 oleh S.P.Mangkunegoro VII yang digunakan sebagai tempat perekrutan dan latihan tentara serta pegawai Mangkunegaran. Langkah Mangkunegoro VII ini diikuti oleh KH.Achmad Dachlan mendirikan Hizbul Wathan pada tahun 1918, Sarekat Islam dengan mendirikan Sarekat Islam Afdeling Pandu (SIAP) pada tahun 1923, Jong Java dengan mendirikan Jong Java Padvinderij (JJP) kemudian bertransformasi menjadi Pandu Kebangsaan pada 28 Agustus 1926, Nationale Padvinders (NP) dari Pemuda Indonesia, Nationaal Padvinderij Organisatie (Natipij) dari Jong Islamieten Bond (JIB), dan Pandun Pemoeda Sumatera (PPS) dari Jong Sumatranen Bond. Bahkan masyarakat indonesia keturunan Arab (etnis Indonesia-Arab) juga turut aktif dalam kegiatan Kepanduan nasional.

Penyatuan dalam organisasi Pandu diawali dengan berdirinya Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO).

Di era pergerakan pemuda tahun 1920-an sampai Kongres Pemuda maka setiap gerakan kepemudaan selalu memiliki bagian Kepanduan. Oleh karena itulah pada Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 di Indonesische Clubgebouw (IC), Jalan Kramat Raya 106, Weltevreden (sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda) maka Kepanduan menjadi salah satu pokok bahasan Kongres.

Ruang Khusus Kepanduan di Museum Sumpah Pemuda

Tiga dari enam pembicara dalam Kongres Pemuda II berasal dari kalangan gerakan Kepanduan. Mereka adalah :

1. Mr.Soenario dari Persaudaraan Antar Pandu Indonesia (PAPI).
2. Ramelan dari Sarekat Islam Afdeling Pandu (SIAP).
3. Theo Pangemanan dari Indonesische Nationaal Padvinderij Organisatie (INPO).

Ketiganya mengemukakan bahwa Kepanduan merupakan dasar dari pembinaan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air.

Era modern Kepanduan nasional atau Kepramukaan nasional memunculkan nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai tokoh yang dianggap memiliki jasa besar untuk melanjutkan tongkat estafet kegiatan Kepramukaan.

Fondasi dasar pembentukan Kepanduan terasa kurang lengkap jika tidak diikuti pengembangan SDM maupun organisasi Kepanduan itu sendiri, dan hal ini disadari betul oleh Presiden kedua RI, HM.Soeharto (akrab disapa Pak Harto) dimana di era pemerintahan beliau organisasi Kepanduan mencapai masa keemasan.

Di masa Pak Harto menjadi Ketua Majelis Pembimbing Nasional (Mabinas) Gerakan Pramuka (Kepanduan) inilah Kepanduan Indonesia berkembang pesat. Anggota bisa mencapai angka belasan juta, bahkan tahun 2008 saja tercatat sudah menembus angka 20 juta orang. Bahkan Pak Harto juga menghibahkan tanah seluas 200 hektar di kawasan Cibubur untuk dijadikan sentra kegiatan Kepramukaan yang akhirnya dikenal dengan nama Bumi Perkemahan Pramuka Wiladatika Cibubur.

Di Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur inilah sejarah mencatat pada pelaksanaan Jambore nasional tahun 1973 dihadiri oleh peserta Gerakan Pramuka dari Irian Jaya (sekarang dikenal dengan Papua). Inilah kali pertama perwakilan Papua menghadiri Jambore nasional dalam sejarah Kepramukaan Indonesia sejak diresmikan pertama kali 14 Agustus 1961.

Di era Pak Harto pula Organisasi Kepanduan Indonesia mampu melunasi iuran keanggotaan Gerakan Pramuka senilai 500.000 Dollar Amerika kepada World Organization of Scout Movement (WOSM) yang merupakan induk organisasi Kepanduan dunia. Jumlah ini sangat besar karena jumlah anggota Gerakan Pramuka Indonesia kala itu menduduki peringkat pertama di dunia.

Selain pembangunan Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur, pelunasan tagihan iuran keanggotaan oleh negara, serta wujud mempersatukan anggota Kepanduan hingga ke Irian Jaya atau Papua, maka fasilitas pendukung untuk kegiatan Kepramukaan juga turut dilengkapi.

Sarana pendidikan dan latihan untuk pembina Pramuka seperti Pusdika (Pusat Pendidikan Kader) yang akhirnya berganti nama menjadi Lemdikanas (Lembaga Pendidikan Kader Gerakan Pramuka Tingkat Nasional), sarana kegiatan air di danau Situbaru Cibubur, sarana kegiatan dirgantara berupa air strip dan pesawat layang, memperbanyak buku-buku Kepramukaan sebagai penambah pengetahuan bagi anggota, serta pemusatan administrasi Kepramukaan nasional satu pintu melalui Gedung Kwartir Nasional Gerakan Pramuka di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.

Kepanduan atau Kepramukaan Indonesia diyakini menjadi wahana menanamkan bibit persatuan kepada pemuda dan pemudi. Selain itu, Kepanduan juga mendidik generasi muda untuk mandiri serta pada akhirnya mendorong kemandirian menjadi sebuah bangsa yang merdeka dengan didasari azas Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang kuat.

Seragam asli Kepanduan Indonesia di zaman dahulu

Sejarah perjalanan kegiatan maupun organisasi Kepanduan Indonesia di Museum Sumpah Pemuda membuktikan bahwa visi dan misi Pemuda yang sebenarnya adalah menyatukan perbedaan sekaligus merapatkan barisan agar persatuan dan kesatuan bangsa ini tetap terjaga. Dan era modern perkembangan Kepramukaan semakin membuktikan bahwa butuh seorang pemimpin yang benar-benar bisa menjadi bapak dari organisasi Kepramukaan agar tetap bisa eksis di negara ini.

" Kepanduan atau Kepramukaan bukan hanya sekedar memakai seragam pramuka di hari jumat setiap minggunya, dan bukan hanya sekedar berkemah di Cibubur saja, akan tetapi lebih dalam dari itu adalah untuk memperkuat peran pemuda Indonesia sebagai salah satu elemen terdepan bangsa dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa ini," demikian pernyataan penutup dari staf museum Sumpah Pemuda, Bakhti Ari Bidiansyah,S.Pd. kepada Cendana News.

Sumber : Museum Sumpah Pemuda Jakarta
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: