MINGGU, 2 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Tradisi menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1438 Hijriyah atau bulan baru penanggalan Jawa 1 Suro 1950 Jimawal berbagai kegiatan tradisi dilakukan warga di pedesaan salah satunya Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur diantaranya kegiatan tradisi takiran/ambengan atau makan bersama malam sebelumnya. Selain itu kegiatan kesenian tradisional yang dilakukan di tengah tengah desa setempat. Kelompok kesenian tradisional kuda lumping atau dikenal dengan kuda kepang Sari Budoyo yang merupakan milik desa tersebut sekaligus merayakan ulang tahun berdirinya kelompok kesenian jaranan yang ke-3 tahun.


Menurut penanggungjawab kelompok kesenian tradisional kuda lumping Sari Budoyo, Ngatiran, kegiatan rutin tahunan tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur dengan kegiatan kesenian. Penampilan kesenian disajikan oleh penari laki laki dan penari perempuan yang merupakan bagian dari kesenian desa yang dimiliki selain kesenian klonengan atau campur sari. Atraksi yang disajikan kepada masyarakat tersebut sekaligus merupakan hiburan bagi masyarakat yang selama ini telah bekerja sebagai petani dan kesibukan lain sekaligus untuk melestarikan kesenian tradisional kuda lumping.

"Acara ini rutin kami gelar setiap tahun untuk melestarikan budaya karena mayoritas masyarakat di desa ini merupakan pendatang dari Jawa dan kesenian ini sangat diminati terutama pada acara acara khusus salah satunya tahun baru Islam ini sekaligus bulan baru Jawa,"ungkap Ngatiran saat berbincang dengan Cendana News, Minggu (2/10/2016).

Ngatiran mengungkapkan, pelestarian kesenian kuda lumping di desa tersebut rata rata didominasi oleh remaja yang merupakan generasi penerus untuk mempertahankan kesenian yang sudah mulai jarang dipertontonkan tersebut. Meski memiliki nilai sakral dan magis namun kesenian tersebut sekaligus memberi hiburan kepada masyarakat serta menjaga seni tradisional sebagai ungkapan kerinduan akan budaya leluhur yang telah ada sejak dahulu.

Ia bahkan mengakui kesenian tradisional kini mulai ditinggalkan seiring dengan perkembangan zaman namun dengan adanya keinginan sekelompok pemuda dibantu oleh para tetua yang ada, kesenian tersebut mulai dimunculkan kembali. Saat saat yang ditunggu oleh para penonton dalam kesenian tradisional kuda lumping diantaranya saat para penari kuda lumping mengalami trance atau kesurupan atau dikenal dengan istilah "mabuk" jaranan. Sebagian bahkan berani makan pecahan kaca, berjalan di atas duri dan mabuk menyerupai binatang seperti babi, kera atau binatang lain. Meski demikian sesudah para penari tersebut mengalami trance sang pawang akan segera menyembuhkan sesudah masa tertentu.

"Kami memang rindu akan hiburan hiburan yang bersifat tradisional dan tontonan ini menjadi salah satu tontonan yang disukai berbagai kalangan baik kalangan muda maupun kalangan tua,"ungkap Ngatiran.

Ulang tahun atau "tanggap warso" yang sekaligus memperingati tahun baru Islam, bulan Suro menjadi ulang tahun ke-3 kelompok kesenian tersebut. Antusiasme masyarakat menonton kesenian tersebut menurut Ngatiran merupakan bentuk kecintaan masyarakat akan kesenian tradisional dan misi untuk melestarikan kesenian tradisional telah terbukti dengan ratusan kali kelompok seni kuda lumping Sari Budoyo tampil dalam berbagai kegiatan. Kelompok seni kuda lumping Sari Budoyo bahkan kerap diundang ke berbagai daerah lain sehingga bertepatan dengan ulang tahun maka dilakukan pembersihan peralatan sekaligus bersih desa dan menggelar kuda lumping selama sehari.

Ia mengakui alunan gendang serta tabuhan lain dimainkan oleh para pemain musik membuat iringan kesenian tersebut seolah bersifat magis. Alunan gendang, terompet, gong yang dipadukan dengan musik dari elektone lengkap dikombinasikan dengan iringan biduan menghadirkan musik ritmis yang diiringi oleh tarian para penunggang kuda lumping menjadikan kesenian tersebut diminati para penonton.

Upaya melestarikan kesenian tersebut mendapat respon positif dari kepala Desa Pasuruan, Kartini, karena kesenian merupakan salah satu wadah dalam menjaga kebersamaan. Ia juga mendukung pengembangan kesenian tradisional yang positif terutama dalam kegiatan kesenian kuda kepang karena nyaris dalam penyelenggaraan kesenian tersebut meski para penari mabok namun tidak pernah terjadi perkelahian bahkan justru memberi hiburan yang baik bagi masyarakat.


Pantauan Cendana News, kelompok kesenian kuda kepang Sari Budoyo memainkan sebanyak 4 babak yang diantaranya dimainkan oleh para penari perempuan. penonton yang antusias melihat pertunjukan kesenian tradisional tersebut diantaranya anak anak dan orang tua. Beberapa petugas yang menjaga para penari saat mengalami trance atau kesurupan diantaranya menjaga agar para penari tetap berada di arena dan menyajikan tarian tarian yang menarik untuk ditonton. Meski diadakan di Desa Pasuruan namun tontonan tradisional tersebut mampu menjadi magnet bagi masyarakat di desa lain yang tertarik melihat pertunjukan kesenian tradisional yang akan berlangsung hingga sore tersebut.
[Henk Widi]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: