SABTU, 8 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Khasanah akan makanan tradisional di Kabupaten Lampung Selatan masih menjadi rujukan bagi pecinta kuliner dan makanan makanan yang diolah secara tradisional. Bahan-bahan makanan tradisional yang disajikan untuk camilan serta untuk hidangan makan besar sebagian masih tersaji di alam yang kaya akan wilayah pegunungan dan wilayah perairan laut. 


Menurut salah satu tokoh di wilayah pesisir Rajabasa Lampung Selatan, Yahudin, keragaman akan bahan makanan tersebut membuat masyarakat Lampung Selatan masih menjaga tradisi leluhur diantaranya dalam khasanah kuliner makanan tradisional. Bahan yang mudah didapat di alam dengan cepat dan masih dalam keadaan segar membuat masyarakat terutama kaum perempuan masih melakukan pengolahan makanan tradisional tersebut yang umumnya disajikan dalam acara-acara khusus, diantaranya keagamaan atau adat. Acara keagamaan tersebut diantaranya kegiatan Maulid Nabi atau makanan makanan tradisional yang hadir hanya saat musim bulan Ramadhan.

Salah satu makanan tradisional khas Lampung yang masih disajikan dalam acara-acara bersama diantaranya seruit atau sambal khas Lampung yang merupakan teman makan ikan bakar. Sambal dengan bahan dasar cabai pedas, belimbing wuluh, tomat serta racikan bahan lain tersebut hingga kini masih tersaji saat kegiatan kegiatan bersama khususnya masyarakat pesisir pantai. Kegiatan makan menurut Yahudin bukan perkara mengisi perut tapi menyimbolkan kebersamaan, keakraban, kegotongroyongan dan bahkan tanda syukur atas hasil bumi yang diberikan oleh sang Pencipta.

"Makanan tradisional kerap memiliki nilai nilai tertentu dan berdasarkan sejarah memiliki nama nama yang khas dan hingga kini masih lestari. Beberapa makanan tradisional diantaranya bahkan disajikan hanya saat acara adat tertentu namun seiring perjalanan waktu kebutuhan akan kuliner yang langka kerap dihadirkan kembali,"ungkap Yahudin kepada Cendana News terkait khasanah makanan tradisional di Lampung khususnya yang ada di Kalianda, Jumat (7/10/2016).

Salah satu makanan yang dikenal diantaranya labakh jagung yang merupakan olahan dari jagung dengan bumbu bumbu khas diantaranya cabai dan bumbu bumbu lain. Berfungsi sebagai lauk untuk teman makan nasi makanan ini sudah mulai jarang ditemukan dan bahkan jarang dibuat oleh masyarakat. Selain itu makanan tradisional yang masih mengandalkan bahan dari alam diantaranya gulai pekhos asin keluwok. Keluwok merupakan sejenis buah di hutan yang kerap digunakan untuk bumbu masakan dan bisa dipadukan dengan daging atau ikan asin, sebuah perpaduan akan wilayah hutan di Gunung Rajabasa yang kaya akan pohon keluwok dan juga wilayah pesisir yang kaya akan hasil ikan asin. Selain makanan makanan yang masih diolah sebagai teman makan nasi tersebut masih banyak makanan tradisional yang hingga kini masih dipertahankan meski disajikan saat acara resepsi pernikahan yang disajikan dalam upacara adat.


Selain sajian makanan beberapa kue kue tradisional berbahan hasil pertanian dan perkebunan di wilayah Lampung diantaranya pisang diolah menjadi sipok atau di daerah lain dikenal dengan lambang atau naga sari. Kue-kue tersebut dalam kegiatan sehari hari masih jarang ditemui dan justru kerap hadir dalam kegiatan kegiatan khusus karena dibuat melibatkan kaum wanita yang bergotong royong membuat kue kue tersebut secara bersama.

"Salah satu contoh pembuatan sipok labu yang disajikan dalam resepsi khusus biasanya dibuat oleh kaum ibu-ibu yang bergotong royong untuk memasak sekaligus membuat kue kue untuk disajikan kepada para tamu,"ungkap Yahudin.

Meski demikian di sejumlah pasar tradisional kue kue tersebut masih menjadi jajanan pasar yang dijual meski dalam jumlah sedikit. Khasanah makanan tradisional tersebut menurut Yahudin kerap dihadirkan kembali ketika acara acara khusus diantaranya kegiatan pemerintahan atau kegiatan ibu ibu PKK atau perlombaan makanan tradisional. Ia berharap makanan khas yang menjadi khasanah dan peninggalan leluhur tersebut masih bisa dilestarikan terutama bagi generasi muda yang bahkan kini tak mengenal makanan makanan tradisional seiring dengan budaya adanya kafe, mall atau warung warung modern.

Sebagai pemerhati budaya Yahudin mengungkapkan meski sudah tak bisa ditemui namun kegiatan kegiatan pemerintah harus lebih memberi porsi keberadaan makanan tradisional tersebut diantaranya dengan menyelenggarakan festival kuliner tradisional. Selain memperkenalkan kepada generasi muda, pemanfaatan hasil bumi yang melimpah di Lampung bisa memberi nilai ekonomis dan menarik bagi wisatawan terutama yang mengunjungi beberapa destinasi wisata di Lampung Selatan yang kaya akan pantai dan pegunungan. Selain makanan tradisional minuman minuman khas juga bisa disajikan kepada wisatawan yang berkunjung ke Lampung Selatan.

"Selama ini mungkin hanya makanan tradisional seperrti gudeg Jogja namun sudah dikenal luas dan menjadi tujuan untuk berburu kuliner jika ke Jogja demikian juga khasanah makanan tradisional yang ada di Lampung Selatan bukan hanya disajikan saat acara khusus,"ungkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya di Kabupaten Lampung Selatan, berikut nama nama makanan tradisional Khas Lampung Selatan yang hingga kini masih lestari.


Makanan Khas diantaranya:

1. Pekhos
2. Labakh Jagung
3. Gulai Pekhos Asin
4. Iwa Pais
5. Iwa Panggang
6. Iwa Cuka
7. Gegado
8. Tepuyal
10. Sambal godok (sesambolan)
11. Gulau Bebulungan
12. Gulai Halinuan
13. Hulau Pekhos Asin
14. Pais Halinuan
15. Gulai Khenai Khetak
16. Pais Tba
17. Pais Isau Iwa
18. Pais Cukhak
19. Tumis Lundang


Babuak Khas (Kue Kue khas) diantaranya:

1. Sasipok Labu
2. Sasipok Putti
3. Ketimus
4. Dedakok
5. Uka uka
6. Babika
7. Talam Ukhang
8. Lambang Mattah
9. Pundut
10. Jejorong
11. Gegadu
12. Papema
13. Apil apil
14. leppot
15. Cupil
16. Ulot ulot
17. Juadah
18. Sekhawa
19. Buak balak
20. Tapai Ketan
21. Ketan Lapis


Minuman Khas diantaranya:

1. Sakhebat kuwini
2. Sakhebat dugan
3. Sakhebatselasih
4. Sakhebat kiwol
5. Sakhebat putti


[Henk Widi]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: