RABU, 5 OKTOBER 2016

MALANG --- Banyaknya permasalahan dan kasus penyimpangan yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia seperti narkoba, sex bebas bahkan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh mahasiswa kepada dosennya, menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia masih lebih mengutamakan aspek kognitif dibandingkan dengan aspek yang lainnya.


Berdasarkan permasalahan tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (HMJ PLS) Universitas Negeri Malang (UM) menggelar sebuah seminar nasional bertemakan 'Selamatkan Budaya Pendidikan Jangan Cuma Kognitif'. 

Dalam seminar yang berlangsung di gedung Sasana Budaya UM ini menghadirkan dua orang narasumber yakni Sakban Rosidi yang merupakan seorang pengamat pendidikan dan Sekretaris eksekutif Universitas Islam Mojopahit, serta Sujiwo Tejo seorang seniman sekaligus budayawan.

Dyah Eka Nurjannah, ketua pelaksana seminar dalam sambutannya mengaku tertarik mengambil tema tersebut karena melihat pendidikan saat ini yang seharusnya meliputi tiga hal yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik, kini justru lebih cenderung hanya kepada kognitifnya saja.

"Memang saat ini ada kurikulum 2013 yang mencakup tiga hal tersebut, namun dalam implementasinya kita bisa lihat saat masih ada kasus-kasus yang melibatkan pelajar maupun mahasiswa yang menggunakan narkoba dan melakukan sex bebas,"ungkapnya, Rabu (5/10/2016). 

Adanya kasus-kasus tersebut membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia dari segi sikap dan kreatifitasnya masih kurang, bahkan dari segi kognitifnya pun juga masih bisa dikatakan kurang.

Sementara itu Prof. Bambang Budi Wiyono, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UM dalam sambutannya sangat mengapresiasi acara seminar nasional tersebut. Ia mengatakan, tema seminar yang diambil juga sangat menarik karena sampai sekarang memang masih banyak persolaan dalam pendidikan yang bisa dikaji, baik dari sisi fiolosofi, sosiologi, maupun psikologi.

"Demikian pula dengan banyaknya rumusan kebijakan nasional yang sampai sekarang hasilnya masih belum maksimal,"ucapnya.


Ia mencontohkan bahwa dari sisi kebijakan nasional sebenarnya sudah terumuskan bahwa pendidikan di Indonesia nantinya akan menghasilkan insan kamil yang tidak hanya memiliki kecerdasan kognitif tetapi juga memiliki kecerdasan spiriritual.

"Tetapi sayangnya semua itu masih rumusan-rumusan konsep, sedangkan secara konkrit masih perlu strategi-strategi yang perlu dilakukan,"pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: