SENIN, 3 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Salah satu rangkaian kegiatan tahunan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) yaitu Kompetisi Nasional Seni Lukis Remaja (KNSLR) yang tahun ini mengambil tema “Berbeda Itu Indah”.


Kompetisi ini semakin lama semakin menampakkan kemajuan yang cukup signifikan dan telah menarik perhatian banyak pelajar dari berbagai daerah di Indonesia untuk ikut berpartisipasi.

Munculnya para perupa muda khususnya pelukis-pelukis muda berbakat tentunya salah satu sisi lain acara ini yang sangat menarik untuk dikemukakan. Dari sekian banyak finalis dan pemenang ajang KNSLR 2016, ada 4 (empat) karya yang masuk bidikan menarik dari Cendana News yaitu :

1. Pemenang 1 KNSLR 2016 : Indigo Daffa Mileniar dari SMAN 1 Blora dengan karya berjudul " Pusaran Keindahan ".

2. Finalis KNSLR 2016 : Sheryl Cahyadi dari SMPK IPEKA Tomang II Jakarta dengan karya berjudul " Tanya Kita Buat Kita ".

3. Finalis KNSLR 2016 : Anasthasya Beatrice Cyrilla dari SMAN 3 Pekalongan dengan karya berjudul " Sambung Rasa ".

4. Finalis KNSLR 2016 : Muhammad'Aqil Najih Reza dari SMP Dharma Wiweka Denpasar Bali dengan karya berjudul " Harmoni ".

Berikut sedikit ulasan mengenai hasil karya mereka yang coba mereka ceritakan kepada Cendana News :

Indigo Daffa Mileniar dari SMAN 1 Blora dengan karya berjudul " Pusaran Keindahan " menggunakan cat akrilik di atas kanvas, D-29cm

Konsep dari lukisan ini adalah betapa indahnya negeri ini, alangkah kayanya bangsa ini, terbentang luas hamparan laut dan ribuan pulau dari sabang sampai merauke. Dengan berbagai macam suku, budaya, agama, serta bahasanya. Perbedaan bukan menjadi suatu masalah, perbedaan justru dapat menciptakan bentuk keindahan. Kuncinya adalah sikap saling toleransi yang tulus antar sesama.


Ibarat sebuah pusaran, apabila semua elemen saling mengkait dan bersinergi maka akan semakin kencang dan kuat, sehingga menciptakan suatu bentuk keindahan yang tiada tara.

" Dan Jakarta yang heterogen harusnya bisa menjadi contoh bagaimana ketulusan toleransi tersebut, karena Jakarta merupakan pusat putaran keindahan yang terus menarik perhatian masyarakat daerah lainnya," ucap pria 17 tahun asal Blora ini.


Sheryl Cahyadi dari SMPK IPEKA Tomang II Jakarta dengan karya berjudul " Tanya Kita Buat Kita " menggunakan cat akrilik, cat air, spidol di atas kertas, 80x80cm.

Konsep dari lukisan ini adalah tentang betapa perlunya menjaga dan melestarikan lingkungan, terlebih lingkungan bawah laut. Seperti yang sudah diketahui bersama, bom ikan dan limbah sangat merusak kehidupan laut. Tidak hanya memahami kehidupan bawah laut, sudah seharusnya juga setiap insan mampu menjaga dan melestarikannya agar tercipta keindahan dan terjaganya kelangsungan hidup karang dan ikan di bawah laut.

Manfaatkan laut dengan sebijaksana mungkin, untuk kepentingan ekonomi tidak harus merusak apa yang menjadi kehidupan bawah laut. Mari jaga bersama-sama karena itu lebih indah.

" Dengan lukisan ini semoga masyarakat indonesia bisa selalu menjaga kehidupan bawah laut seperti layaknya menjaga kehidupan mereka sehari-hari agar tetap dalam harmoni keindahan," terang dara berusia 14 tahun asal Jakarta yang bercita-cita menjadi animator internasional ini kepada Cendana News.

Anasthasya Beatrice Cyrilla dari SMAN 3 Pekalongan dengan karya berjudul " Sambung Rasa " menggunakan kanvas mandiri, 100x80cm.

Konsep dari lukisan ini adalah bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan paling sempurna sebenarnya tidak memiliki kesempurnaan serta keberuntungan yang sama antara satu dengan lainnya, oleh karena itu manusia diajarkan untuk hidup saling membantu satu sama lain.

Tidak memandang dari sisi ekomoni, latar belakang, sosial, keadaan fisik, karena pada dasarnya semua manusia itu sama di mata Tuhan.

" Berteman dan saling tolong menolong sudah seharusnya tidak memandang atau mengenal yang bernama perbedaan, karena berteman itu indah, saling tolong menolong itu indah," ucap remaja 17 tahun asal Pekalongan ini kepada Cendana News.


Muhammad'Aqil Najih Reza dari SMP Dharma Wiweka Denpasar Bali dengan karya berjudul " Harmoni " menggunakan cat akrilik di atas kanvas, 80x80cm.

Konsep dari lukisan ini adalah walaupun berbeda agama pada hakekatnya tujuannya sama/satu yakni perjalanan spiritual/rohani manusia kepada Penciptanya. Dengan perbedaan yang ada dibutuhkan kesadaran yang tinggi agar bisa harmoni.

Bali dengan julukan Pulau Seribu Pura membuktikan bahwa harmoni itu bisa tercipta. Bali memberikan ruang toleransi yang tinggi bagi pemeluk agama lain. Salah satu wujud toleransi di Bali adalah dengan berdirinya 5 (lima) tempat ibadah yang dibangun dalam satu komplek bernama Puja Mandala, simbol Bhinneka Tunggal Ika dan toleransi beragama Indonesia.

" Di daerah Bali tempat saya tinggal, sangat dirasakan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadikan sekat diantara kami, justru kami dari perbedaan itulah kami melihat sebuah keindahan yang luar biasa. Toleransi beragama yang tinggi, semangat kebersamaan dan semangat berbagi membuat semua terasa begitu indah," papar remaja 14 tahun asal Bali ini.


Apa yang telah dilakukan serta dikatakan para remaja baik pemenang maupun finalis KNSLR 2016 ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa mengingat usia mereka yang masih sangat belia namun sudah memiliki kemampuan melukis serta pandangan jernih akan perbedaan.

Menyikapi hasil-hasil karya para pemenang dan seluruh finalis KNSLR 2016, Ketua umum YSRI Titiek Soeharto tampak bangga dan bahagia. Ia tak henti-hentinya berkeliling area pameran dan berlama-lama memandang hasil karya para remaja dari seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan Titiek tidak segan-segan memanggil mereka untuk berfoto bersama dirinya dan lukisan hasil karya mereka.

" Inilah generasi remaja indonesia yang sebenarnya dan sudah seharusnya seperti ini. Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri menyaksikan mereka," ucap Titiek Soeharto sambil tak hentinya tersenyum dalam kerumunan para remaja finalis KNSLR 2016.
[Miechell Koagouw]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: