SELASA, 4 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Kondisi cuaca ekstrem baik di wilayah daratan dan perairan Lampung Selatan membuat pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan melakukan langkah kewaspadaan dini. Beberapa wilayah yang mengalami potensi kerawanan bencana alam di wilayah Lampung Selatan diantaranya Kecamatan Sidomulyo, Kecamatan Candipuro dan Kecamatan Sragi yang berpotensi dilanda bencana banjir seperti yang melanda wilayah Kecamatan Candipuro beberapa hari lalu. 


Kepala BPBD Kabupaten Lampung Selatan, M.Darmawan mengungkapkan, kewaspadaan dini telah dilakukan jauh-jauh hari dengan membentuk Satgas-satgas daerah potensi bencana.

Ia mengatakan, pihaknya akan mengirimkan surat imbauan kepada setiap kecamatan untuk mengantisipasi kondisi cuaca ekstrim pada akhir tahun ini akibat dampak el-nina. Kondisi tersebut diantaranya banjir di Kecamatan Candipuro akibat luapan sungai Way Katibung dan angin puting beliung di Kecamatan Sragi yang melanda beberapa rumah dan sekolah beberapa waktu lalu.

Ia pun mengatakan bahwa pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan untuk memberikan himbauan kepada para nelayan dan warga yang ada di kawasan pesisir untuk juga lebih waspada dan berhati-hati.

“Kita minta nelayan untuk memantau kondisi cuaca. Jika memang kondisi cuaca terpantau ekstrim, kita minta untuk tidak melaut terlebih dahulu,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (4/10/2016).

Darmawan mengatakan, kondisi cuaca yang sering berubah-ubah cukup esktrim saat ini sangat berpotensi memunculkan bencana. Karena itu ia minta daerah-daerah rawan bencana meningkatkan kewaspadaannya.

Terkait kesiapan pada beberapa kecamatan rawan bencana petugas kesiapsiagaan dini di Kecamatan Ketapang, Deny Yusup mengaku sebanyak 15 personil disiagakan untuk mengantisipasi jika sewaktu waktu terjadi bencana alam khususnya di wilayah Ketapang yang kerap mengalami bencana dan berdekatan dengan Kecamatan Sragi.

Anggota sebanyak tersebut dengan rincian 1 personil selaku kordinator lapangan (korlap), sebanyak 3 anggota polisi pamong praja yang bertugas setiap dibutuhkan dan sebanyak 9 anggota BPBD.

“Semua personil harus siap siaga selama 24 jam dengan sistem piket dan akan langsung bertindak jika ada keadaan darurat,”ungkap Deni.


Selain siaga dalam kondisi bencana ia mengaku setiap tim tersebut dilengkapi beberapa peralatan, diantaranya 1 unit kendaraan pemadam kebakaran (Damkar), 1 unit perahu rescue jenis perahu karet berikut pelampung, 1 unit gergaji mesin yang berguna untuk memotong kayu tumbang. Selain itu tenda tenda khusus juga telah disiagakan untuk mengantisipasi kebutuhan posko darurat.

Kondisi cuaca yang cukup ekstrem juga di disampaikan oleh general manajer PT. ASDP cabang Bakauheni, Edi Hermawan yang telah melakukan kewaspadaan dini dan mengimbau kepada semua pihak untuk menjaga keselamatan pelayaran. Ia mengatakan pihaknya bersama dengan KSOPP telah meminta kepada para nahkoda untuk mengintensifkan komunikasi dengan STC (stasiun traffict center), terutama saat akan masuk alur untuk sandar di pelabuhan.


Ia menambahkan, dalam satu pekan terakhir cuaca di perairan selat Sunda memang kerap berubah cukup ekstrim. Namun sejauh ini, lanjutnya, pelayanan penyeberangan kapal ferry masih berjalan normal.

“Memang kondisi cuaca terkadang berubah ekstrim. Pada akhir pekan lalu cuaca sepat cukup ekstrim. Kita sudah minta para nahkoda untuk lebih berhati-hati dan terus berkomunikasi dengan petugas SCT,” tandasnya.
[Henk Widi]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: