SELASA, 4 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Akibat cuaca buruk di lintasan Selat Sunda sebuah kapal kelotok milik warga terbalik di antara Pulau Tempul dan Pulau Rimau Balak Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan. Beruntung kapal milik warga yang membawa hasil perkebunan pisang dari Pulau Rimau Balak tersebut bisa diselamatkan oleh Anak Buah Kapal (ABK) KP Albatros 3001 milik Mabes Polri yang sedang bersandar di dermaga Keramat Desa Sumur.




Menurut komandan kapal KP Albatros 3001  AKP Buyung Wijianto,kejadian terbaliknya kapal milik warga Pulau Rimau Balak yang bertugas mengantar mengantarkan hasil kebun berupa puluhan tandan berbagai jenis milik salah seorang warga yang akan dikirimkan ke Pulau Sumatera. Naas sesampainya di Selat antara Pulau Tempul dan Pulau Rimau Balak kondisi angin dan gelombang tiba tiba berubah menjadi besar dan warga bernama Syarifudin (39) tersebut tidak bisa mengendalikan perahu klotok yang ditumpanginya.

“Kami mendapat laporan dari nelayan sekitar terkait adanya perahu kelotok terbalik tersebut sehingga personil kita langsung menuju lokasi kejadian dengan upaya pertama menyelamatkan korban,”ungkap komandan KP Albatros AKP Buyung Wijianto saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (4/10/2016)


Ia mengaku proses evakuasi perahu kelotok berukuran 3 meter tersebut juga mendapat pertolongan dari warga sekitar yang selanjutnya bersama-sama menarik perahu ke Dermaga Keramat menggunakan perahu tradisional.

Saat dievakuasi ia mengaku kondisi korban yang bersama seorang anak laki laki bernama Jaya Wijaya (13) dalam keadaan shock dan langsung mendapat penanganan pertolongan pertama dari personil KP Albatros. Kedua korban yang mengalami kedinginan dan sempat terombang ambing di laut selama hampir satu jam tersebut langsung diberi baju hangat dan makanan untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis.

Kondisi perairan selat antara Pulau Tempul dan Pulau Rimau Balak merupakan selat kecil yang menghubungkan antara Pulau Rimau Balak dan Pulau Sumatera yang sering digunakan warga untuk mencari ikan dengan menggunakan kapal tinting dan dimanfaatkan untuk keramba jaring apung. Pada musim tertentu perairan tersebut cukup berbahaya dilalui oleh nelayan nelayan tradisional yang akan melakukan aktifitas dengan resiko perahu terbalik atau karam.

Terkait insiden perahu kelotok terbalik tersebut, AKP Buyung berharap agar nelayan yang berada di perairan Selat Sunda untuk menunda aktifitas di laut dengan kondisi cuaca musim Barat dengan dominan angin kencang yang berdampak tingginya gelombang di wilayah perairan Selat Sunda dan sekitarnya.


KSOP Himbau Nahkoda di Selat Sunda Hati Hati

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni, Lampung Selatan, menghimbau kepada nahkoda kapal angkutan jasa penyeberangan di Selat Sunda agar memperhatiakan keselamatan penumpang di musim angin kencang.

Berdasarkan data yang diterima dari pihak KSOP Bakauheni, tercatat kecepatan angin sejak beberapa hari belakangan ini terus mengalami peningkatan, hingga menembus 15-20 knot.

Hal itu, dimungkinkan dapat memicu gelombang ombak yang besar, sehingga dikhawatirkan menganggu perjalan kapal pada saat membawa penumpang dari Pelabuhan Bakauheni atau dari arah sebaliknya.



Dikatakan Ferry, hingga saat ini gelombang air laut di sepanjang perairan selat Sunda masih terbilang normal atau tercatat sekitar 0,5 meter-1 meter. Ia mengungkapkan kondisi saat ini kadang kadang hanya angin saja yang terbilang kencang, kalau ketinggian gelombang air masih relatif normal. Namun, angin kencang ini dapat memicu kenaikan gelombang air laut, makanya kita minta para nahkoda untuk selalu waspada.

Ferry mengaku, angin kencang yang terjadi memang tidak menggangu aktivitas pelayaran di salah satu pelabuhan paling aktif di dunia itu. Kendati demikian, pihak KSOP hanya mengingatkan kepada nahkoda kapal angkutan penyeberangan laut, untuk lebih mengutamakan keselamatan penumpang.

“Kalau trip tetap normal. Namun, beberapa laporan dari petugas kapal jarak pandang sedikit berkabut saat hujan turun. Makanya, kita harapkan pihak kapal memperhatian cuaca sebelum melakukan pelayaran, dan utamakan keselamatan penumpang, itu yang paling utama,” kata Ferry.

Kendala angin kencang dan hujan juga membuat sejumlah nelayan dan nahkoda kapal tradisional memilih waktu untuk beristirahat sambil menunggu waktu kondisi cuaca membaik. Sebagian nelayan bahkan memilih menggunakan waktu untuk memperbaiki alat alat tangkap diantaranya jaring dan bagian bagian perahu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Selat Sunda masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Akibatnya masyarakat nelayan dan penyedia jasa pelayaran tradisional tak berani melakukan aktifitas sambil menunggu cuaca mereda. (Henk Widi)
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: