KAMIS, 6 OKTOBER 2016

BALI --- Pro dan kontra rencana reklamasi Teluk Benoa hingga kini terus bergulir. Kubu tolak reklamasi tetap konsisten menolak dengan sudut pandang dan argumennya. Sementara kubu pro reklamasi juga tetap konsisten mendukung dengan perspektif dan alasannya tersendiri.


Salah satu pendukung rencana reklamasi Teluk Benoa, Anak Agung Gede Artyawan yang merupakan salah satu tokoh Pemogan Denpasar mempertanyakan apa dasar penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa.

"Janganlah asal tolak tapi tidak paham dan tidak berani adu argumen dalam sebuah dialog dan pertemuan bersama," ucap pria yang akbrab disapa Gungde.

"Jika kita yang mendukung rencana reklamasi dikatakan pro investor, maka harus disadari, mungkin sekitar 90 persen warga Bali kini bekerja dengan investor atau pemilik modal, dalam hal ini pemilik hotel-hotel, vila-vila, travel, dan berbagai usaha lainnya. Jadi siapa yang tidak bekerja untuk investor atau pemilik modal?" ungkapnya.

Gungde berharap agar masyarakat yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa tidak hanya berkata tolak tanpa ada penjelasan yang masuk akal disertai data-data yang akurat dan kuat.

"Jika semua rencana pembangunan ditolak, maka tidak akan ada investor yang datang berinvestasi ke Bali. Jika setiap proyek didemo, akan berdampak buruk bagi pembangunan Bali ke depannnya, yang rugi ya masyarakat Bali sendiri, mengingat saat ini masih banyak yang menjadi pengangguran, tanpa pekerjaan pasti," tegasnya.

Jika memang ada penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa, imbuhnya, lebih baik disertai argumen yang bagus dan berani adu argumen didepan publik. Selain itu, kata Gungde, yang menolak reklamasi jangan hanya bisa teriak tapi tidak paham duduk perkaranya dan hanya ikut-ikutan tanpa data dan fakta yang akurat.

"Jangan milu-milu tuwung (ikut-ikutan saja) asal tolak tapi tidak paham. Lebih baik kita adu kajian, bukan asal demo dan asal tolak saja. Kalau memang tidak bisa membuktikan apa yang dikhawatirkan, sebaiknya legowo saja," tantangnya.

Menurut Gungde, saat ini masalah pengangguran menjadi problem serius yang harus dipecahkan sehingga semua pihak diminta untuk berfikir realistis bahwa Bali masih sangat bergantung pada sektor pariwisata.

Baginya, pembangunan sektor kepariwisataan di Kota Denpasar dan Badung atau wilayah Bali Selatan terus menggeliat ditandai terus berlangsungnya pembangunan sarana akomodasi hotel, vila dan lainnya.

Hal itu menunjukkan, jika sektor pariwisata masih menjadi primadona bagi Bali. Lebih dari itu, pariwisata telah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Gungde menyadari bahwa masyarakat Bali memiliki pandangan berbeda dalam menyikapi pro-kontra reklamasi Teluk Benoa, namun menurutnya hal itu wajar adanya perbedaan pendapat.

"Banjar saya (Sakah) memberikan kebebasan kok kepada warganya menyampaikan sikap. Apalagi, pilihan sikap itu merupakan bagian dari hak asasi manusia yang diatur dalam konstitusi UUD 1945," tandasnya.
[Bobby Andalan]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: