SENIN 31 OKTOBER 2016  

LAMPUNG---Pada era reformasi kisah anak yang harus menempuh perjalanan  sulit untuk bisa bersekolah, seperti kisah 'Laskar Pelangi' masih saja terjadi. Di Lampung anak-anak harus berjuang mengarungi Sungai Way Sekampung untuk bisa bersekolah.



Sungai terbesar di provinsi Lampung  ini melintasi Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Lampung Timur. Sungai sepanjang sekitar 265 kilometer ini menjadi sarana untuk transportasi sebagian warga yang tinggal di perbatasan dua kabupaten diantaranya Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Selatan.

Aktifitas sehari hari warga yang bertetangga dengan sungai sebagai pemisah dilakukan menggunakan moda transportasi perahu tradisional bermesin maupun menggunakan tenaga dayung. Pengangkutan hasil bumi, distribusi barang, manusia bahkan dominan menggunakan kendaraan air akibat perjalanan memutar jika harus melewati jembatan.

Salah satu pengguna aliran Sungai Way Sekampung yang rutin setiap hari melintasi Way Sekampung adalah siswa siswa sekolah perbatasan dua kabupaten tersebut.Puluhan siswa sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD) bahkan setiap hari berangkat ke sekolah menggunakan perahu sejak puluhan tahun lalu.



Perahu menjadi salah satu moda transportasi yang digunakan untuk upaya menuntut ilmu dibangku sekolah dan harus bersekolah di kabupaten lain. Melakukan perjalanan menyusuri sungai bagi siswa siswa SD di wilayah tersebut menjadi pemandangan biasa bahkan tak ada kesan ketakutan para siswa meski sungai dalam kondisi banjir dan cukup dalam.

"Kami berangkat biasanya subuh diantar oleh orangtua atau kadang bersama sama dengan kawan kawan yang lain untuk bisa sekolah. Kalau kami menggunakan jalan darat harus memutar dan sangat jauh, sementara kami tidak boleh terlambat sampai di sekolah,"ungkap Arini (11) salah satu siswa SD yang ada di perbatasan Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Selatan saat berbincang dengan Cendana News, Senin (31/10/2016).

Perkampungan yang dikenal dengan Sekampung tersebut sebagian bahkan menggunakan jasa ojek perahu untuk aktifitas ke kampung tetangga. Bagi para siswa SD yang akan berangkat sekolah perjalanan setengah jam menuju sekolah biasanya diantar dengan ojek perahu dengan sistem abodemen atau langganan dengan membayar Rp50   ribu perbulan.

Selain berprofesi sebagai tukang ojek perahu biasanya pemilik perahu juga sekaligus mengantar sang anak untuk berangkat sekolah dan sekaligus berbelanja keperluan rumah tangga yang bisa dibeli di kampung tetangga.

Selain keterbatasan akses untuk menuju sekolah, pemukiman penduduk di sekitar wilayah bantaran sungai tersebut bahkan sebagian belum menerima fasilitas listrik PLN.

Satu satunya cara mendapatkan energi listrik adalah menggunakan tenaga surya dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang diperoleh dari panel panel surya yang mereka beli. Jangan harapkan ada jalan aspal karena warga masih berswadaya membuat jalan yang bagus dengan sistem paving blok untuk mebghindari becek terutama kala musim hujan.

Pemandangan serupa juga dialami siswa siswa di SDN 2 Bandaragung Kecamatan Sragi yang memiliki belasan siswa dari Kabupaten Lampung Timur. Meski berada di Kabupaten

Lampung Timur, demi sekolah para siswa rela menyeberang menggunakan perahu dan menentang bahaya terutama saat musim hujan dan musim banjir datang. Perahu perahu tersebut merupakan sarana paling penting bagi para siswa untuk menuju sekolah baik untuk pulang dan untuk pergi. Keputusan untuk bersekolah di kabupaten lain dilakukan akibat sekolah terdekat berada di kabupaten tetangga meski terpisah dengan sungai.

"Kalau mau sekolah di Kabupaten Lampung Timur anak anak justru harus lebih jauh untuk sekolah maka dengan terpaksa mereka sekolah di sini dan harus menggunakan perahu,"terang Endang Sudaryat kepala sekolah SDN 2 Bandar Agung.

Keprihatinan akan akses yang sulit dalam memperoleh pendidikan tersebut menggerakkan hati Gunawan Wirdhana yang merupakan penggerak literasi dengan sepeda. Gunawan bahkan rela membawa sepeda beserta buku buku bacaan untuk mengunjungi para siswa yang ada di perbatasan tersebut dan menggunakan sarana perahu layaknya para siswa sekolah yang ada di tempat tersebut.

Sekolah yang berada di perbatasan dan keterbatasan akan keberadaan perpustakaan membuat Gunawan rutin  mengunjungi wilayah tersebut untuk membawa buku buku sepekan sekali. Gunawan mengaku selain prihatin dengan kondisi sarana sekolah, perkampungan juga peduli dengan generasi penerus bangsa usia sekolah dasar yang masih minim dalam mengakses bahan bacaan.

Ia mengaku anak anak yang berada di perbatasan tersebut sangat senang saat dirinya membawa buku buku bacaan yang bisa menambah ilmu pengetahuan terutama buku buku usia anak sekolah. Ia berharap pemerintah dua kabupaten terutama instansi Dinas Pendidikan dan pihak yang peduli bisa memberikan bantuan perahu untuk digunakan sebagai sarana trasnportasi bagi para siswa tersebut agar para siswa tidak menentang bahaya hanya untuk sekolah terutama pada musim banjir.

"Saya membawa buku buku bacaan dengan ontel pustaka dengan harapan para generasi muda yang ada di pedalaman dan perbatasn ini juga memperoleh pengetahuan yang sama dengan siswa sekolah di tempat lain,"ungkap Gunawan.

Perhatian yang dilakukan bagi siswa di perbatasan ungkap Gunawan, ia lakukan dengan menyalurkan buku buku yang merupakan donasi dari pihak yang ingin siswa di pedalaman bisa mendapatkan buku bacaan bermutu. Selain kondisi alam yang sulit para generasi penerus bangsa tersebut juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama seperti siswa yang ada di dekat ibukota kabupaten dan pemerintahan.


Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: