SELASA, 4 OKTOBER 2016

MATARAM---Hasil ekspos Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait kondisi kerusakan hutan di seluruh wilayah NTB sampai Oktober 2016 cukup mengejutkan.



"Dari luas hutan yang ada di seluruh wilayah NTB seluas 1.071.722,83 hektar are, 50 persen atau sekitar 500 ribu hektar di antaranya telah mengalami kerusakan parah, baik karena aksi pembalakan liar maupun perambahan oleh masyarakat tidak bertanggung jawab" kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB, Husnanidiaty Nurdin di Mataram, Selasa (4/9/2016)

Menurutnya, kerusakan paling parah terjadi di Pulau Sumbawa, dimana kayu jati paling banyak ditebang secara liar oleh warga di kawasan hutan, kemudian dijual ke luar NTB seperti Bali dan Pulau Jawa.

Luasan kerusakan hutan tersebut bertambah dari luas kerusakan pada 2015 seluas 200.309 hektar dengan penyebab yang sama yaitu aksi pembalakan liar dan perambahan sebagai penyebab utama.

"Karena itulah selain membentuk satgas pengamanan kawasan hutan dan penegakan hukuk atas aksi ilegalloging dan perambahan, Satgas yang terdiri dari unsur Kepolisian, TNI, Polisi Kehutanan juga akan memperketat pengawasan di pelabuhan penyebrangann termasuk kemungkinan adanya penyebrangan tikus" jelasnya.

Ditambahkan, pihaknya juga sedang melakukan evaluasi puluhan perusahaan yang beroprasi di kawasan hutan atas izin pemerintah pusat mapun daerah, kalau memang terbukti terlibat dalam aksi pembalakan liar, makan izinnya akan dicabut. (Turmuzi)
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: